Polisi Bongkar Makam Bayi yang Diduga Korban Malapraktik

  • Bagikan

Feaby/Teraslampung.com


Pembongkaran makam bayi yang diduga korban malapaktik, Minggu (14/12). Foto: Teraslampung.com/Feaby

Kotabumi–Tim forensik Polda Lampung dan Polres Lampung Utara membongkar makam bayi yang diduga menjadi korban malapraktik dan kelalaian petugas Rumah Sakit Handayani, Kotabumi, Minggu (14/12) sekitar pukul 07:30 WIB.

Pembongkaran makam bayi dari pasangan M. Nizam dan Indah Asriani ini untuk menindaklanjuti laporan yang menduga adanya kelalaian petugas medis dan malapraktik yang menyebabkan bayi tersebut meninggal dunia pada Minggu (5/10/2014).

“Pembongkaran makam ini guna mengetahui penyebab kematian korban (bayi). Sebab, orang tuanya menduga bila buah hatinya meninggal akibat kelalaian dan malapraktik,” kata Kasat Reskrim Polres Lampung Utara, Ajun Komisaris, Bunyamin, usai pembongkaran makam.

Menurutnya, setelah membongkar makam bayi yang terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Jalan Penitis, Gang Skip, Kelurahan Tanjung Aman, Kotabumi Selatan itu, pihaknya kemudian membawa jenazahnya menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ryacudu untuk diautopsi.

Dalam proses autopsi tersebut  tim forensik telah mengambil beberapa organ untuk di teliti, dan dibawa ke Laboratorium forensik di Universitas Indonesia, Jakarta.

“Dalam pemeriksaan kali ini, kita melibatkan beberapa orang yang diketuai dokter forensik, yakni AKBP. dr. Adang Azhar Sp. F,” kata Bunyamin.

Lantaran masih menunggu hasil laboratorium, pihaknya belum dapat menentukan langkah selanjutnya terhadap perkara ini. “Kita masih tunggu hasilnya dari tim forensik,” terang dia.

Sementara, Ketua tim forensik Polda Lampung, AKBP. dr. Adang Azhar, SP. F saat konfrensi pers usai autopsi menyatakan, pihaknya telah mengambil beberapa sampel untuk diperiksa di Laboratorium Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Sejumlah contoh yang telah diambil itu berupa jaringan otak, jaringan paru-paru, dan jaringan jantung.

“Hasilnya belum bisa kami simpulkan saat ini. Beberapa hari lagi baru akan ada hasilnya dari UI, kita tunggu saja hasil Lab dari UI secepatnya,” katanya.

Di lain sisi, Wakil Ketua Umum HAMI (Himpunan Advokasi Muda Indonesia), Herwanto N sekaligus kuasa hukum korban menyatakan apresiasinya atas kinerja Polres Lampura yang telah melakukan autopsi. Ia berharap, pihaknya dapat segera memperoleh hasil laboratorium supaya penyebab kematian bayi kliennya terungkap.

“Kami harap hasil autopsi bisa segera diberitahukan agar nantinya terbukti penyebab kematian anak dari klien kami,” terangnya,

Sebelumnya, Indah Asriani (22) warga Jalan Kapten Mustopa, Tanjung Harapan, Kotabumi Selatan, Lampung Utara (Lampura), melaporkan dugaan adanya malapraktik yang dilakukan pihak Rumah Sakit Handayani (RSH) Kotabumi, kepada Polres Lampura, Minggu (2/11).

Laporan itu tertuang dalam nomor polisi LP: 1068/X/2014/Polda Lampung/SPK Res LU, tertanggal 30 Oktober 2014 kemarin.

Menurut Herwanto N, kuasa hukum korban, pihaknya terpaksa melaporkan RSH Kotabumi karena tidak adanya itikad baik yang ditunjukan oleh Direktur RSH dr. Djauhari terkait perkara ini.

“Klien saya menjalani proses persalinan secara normal di RSH Kotabumi, pada Jumat (24/10) sekitar pukul 15.30 WIB. Persalinan itu ditangani oleh dr.Mahmud yang dibantu oleh bidan serta mahasiswa kebidanan yang praktik di RSH setempat,”ujarnya Hermanto, Minggu (2/11).

Setelah bayi lahir, kata Hermanto, bayi itu lalu dibawa oleh petugas RSH ke inkubator tanpa ada penjelasan sebelumnya mengenai keadaan bayi tersebut kepada sang keluarga. Kemudian, sekitar pukul 20.00 WIB, keluarga dari klien saya melihat bayi di ruangan bayi RSH setempat, namun keluarga terkejut saat mengetahui bayi itu mengeluarkan cairan busa dari mulutnya.

“Saat pihak keluarga menanyakan ihwal adanya busa tersebut, tenaga medis menjawab tidak ada apa-apa,” beber dia.

Karena pihak keluaraga menghawatirkan keselamatan si bayi, imbuhnya lagi, Indah lalu meminta keluargnya merujuk bayinya ke RSUD Ryacudu Kotabumi. saat tibanya bayi di ruang perawatan bayi di RSUR Kotabumi, tim medis mengatakan kondisi bayi sudah memburuk.

Meskipun sempat mendapat perawatan selama beberapa jam dari pihak RSUD, bayi yang belum sempat diberi nama itu akhirnya meninggal dunia pada Minggu (5/10) pukul 23:00 WIB.

“Pihak medis RSUD Ryacudu bertanya kepada klien saya, kenapa baru merujuk bayi yang keadaan sudah memburuk dan membiru seperti itu,” kisah dia.

Sementara, Senin (3/11), Direktur RSH, Kotabumi membantah bahwa adanya malapraktik dan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain sebagaimana yang dilaporkan oleh mantan pasiennya, Indah Asriani.

“Semua proses tersebut terekam dalam CCTV RS Handayani,” kata dia.

Direktur RSUD Ryacudu, dr. Maya Metisa membenarkan bila kondisi bayi saat tiba di RSUD Ryacudu dalam kondisi yang buruk.

“Bayi itu rujukan dari RS Handayani. Saat tiba di RS Ryacudu, kondisi bayi memang sudah berat pernapasannya (aksifia berat). Benar meninggalnya bayi saat tiba di RS Ryacudu,”katanya.

  • Bagikan