Beranda Hukum Kriminal Polres Lampura Terus Ungkap Misteri Tewasnya Yogi Andika

Polres Lampura Terus Ungkap Misteri Tewasnya Yogi Andika

1244
BERBAGI

Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi–‎Kepolisian Resor Lampung Utara (Polres Lampura) masih‎ mendalami laporan FH (56) untuk mengungkap misteri penyebab di balik tewasnya Yogi Andika (32) pada Juli 2017 silam. Almarhum dikabarkan pernah bekerja sebagai spir orang pejabat penting di Lampung Utara.

Berdasarkan laporan FH ‎dengan nomor laporan : LP/237/III/Polda Lampung/SPKT Res Lam Ut pada tanggal 20 Maret 2018, ‎anaknya itu ‎diduga meninggal dunia akibat penganiayaan yang diterimanya.‎ Sayangnya, baik ia dan kuasa hukumnya memilih bungkam saat ditanya seputar laporan tersebut. ‎

‎”Kami akan membentuk tim untuk menyelidiki peristiwa tersebut karena kejadiannya terjadi pada pertengahan tahun lalu,” terang Kapolres AKBP Eka Mulyana kepada sejumlah wartawan, Rabu (21/3/2018).

Penyelidikan ini untuk memastikan sejauh mana kebenaran kejadian nahas yang menimpa almarhum tersebut. Tentu, waktu yang diperlukan dalam kasus ini pun tak sebentar. Terlebih, belum ada saksi maupun tersangka dalam kasus ini.
‎‎
“Kami sudah menerima laporan peristiwa pembunuhan, tetapi tidak memiliki saksi apalagi tersangkanya belum ada. Untuk itu, kami akan mendalami dulu sejauh mana kebenaran peristiwa tersebut,” jelasnya.

Lantara masih melakukan penyelidikan, ia mengaku tidak akan buru – buru menentukan siapa pelaku maupun dalang yang diduga terlibat dalam dugaan penganiayaan tersebut. Sebab, ada jeda waktu yang cukup lama antara kejadian dan pelaporan.

‎”Kami enggak mau gegabah untuk menentukan siapa pelaku maupun dalangnya karena kejadian ini sudah lumayan lama, sedangkan laporannya baru kemarin,” terangnya.

Seperti yang dikutip dari ‎media Sinarlampung.com, FH usai membuat laporan sedikit menceritakan kronologis peristiwa yang dialami anaknya.

“Peristiwa nahas itu terjadi sekitar 7 (tujuh) bulan yang lampau. Ketika itu, anak saya Yogi Andhika pulang ke rumah dengan sekujur tubuh penuh luka dan memar. Kepala bagian belakangnya pecah. Di punggungnya penuh dengan luka semacam sundutan api rokok. Bahkan ketika itu, anak saya sempat mengeluarkan muntah dengan darah yang mengental,” tutur FH.

Dikatakannya lebih lanjut, dengan perasaan yang hancur lebur dan penuh tanda tanya, dirinya bersama dengan keluarga dengan serta-merta mengantarkan almarhum Yogi Andhika ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek guna memberikan pertolongan pada anaknya tersebut.

“Almarhum Yogi hanya mampu dirawat selama 5 (lima) hari. Karena kami tidak memiliki biaya untuk pengobatan, maka diputuskan untuk merawat almarhum di rumah. Meskipun pihak rumah sakit melarang karena kondisi almarhum Yogi saat itu sangat parah dan masih membutuhkan perawatan intensif,” ujar ibunda almarhum.

Loading...