Polres Lamsel Bekuk Dua Tersangka Pengoplos 54 Ton Pupuk Palsu

Polres Lampung Selatan mengekspos kasus pengoplosan 54 ton pupuk palsu, Kamis (20/10/2022).
Polres Lampung Selatan mengekspos kasus pengoplosan 54 ton pupuk palsu, Kamis (20/10/2022).
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM, LAMPUNG SELATAN—Tempat pengoplosan dan gudang penyimpanan pupuk KCL dan NPK illegal (palsu), digrebek Polres Lampung Selatan. Lokasi gudang yang dijadikan tempat pengoplosan pupuk illegal ini, berada di wilayah Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan, Lampung.

Dari lokasi penggrebekan itu, polisi menyita 54 ton pupuk ilegal (palsu), dua unit mesin molen, satu unit mesin penggilingan, dua unit mesin jahit karung, alat ayakan, bahan pembuat pupuk palsu, satu unit mobil truk dan lainnya.

Selain mengamankan sejumlah barang bukti, polisi menangkap dua pelaku berinisial FR (24) warga Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran dan AC (44) warga Kelurahan Karang Sari, Kecamatan Rengas Dengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin mengatakan, penggrebekan gudang pengoplosan pupuk illegal atau palsu ini, berdasarkan laporan masyarakat. Dari informasi itu, kemudian dilakaukan penyelidikan mencari lokasi diduga dijadikan sebgai tempat pengoplosan pupuk illegal tersebut.

“Alhasil, petugas mendapati lokasi pengoplosan pupuk illegal berada di Desa Taman Agung dan Desa Tajimalela, Kecamatan Kalianda dan di wilayah Kecamatan Tanjung Bintang,”ujarnya, Kamis (20/10/2022).

Dilokasi penggrebekan tempat pembuatan pupuk illegal (palsu) di Desa Taman Agung, kata AKBP Edwin, petugas mendapati pelaku berinisial FR dan AC, sedang melakukan pengoplosan atau membuat pupuk illegal. Dari lokasi ini, diamankan 20 karung pupuk ilegal jenis KCL/MOP merk daun sawit, lalu 60 karung pupuk NPK, 120 karung berisi garam yang sudah diberi pewarna merah.

Kemudian, 70 karung jenis pupuk TSP dengan kemasan karung oplos tanpa merk, 37 karung kosong bertuliskan pupuk KCL/MOP merk daun sawit, 200 lembar karung kososng bertuliskan pupuk KCL merk Mahkota Fitilizer, 1 kilogram pewarna merah, tiga karung kapur pertanian dan satu karung garam Australia.

“Selain itu, turut diamankan satu unit mesin giling, dua unit mesin molen, dua unit mesin jahit karung, dua gulung benang jahit karung, satu buah ayakan, dua skop dan tiga buah cangkul,”ungkapnya.

Dari lokasi penggrebekan gudang di Desa Tajimalela, lanjut AKBP Edwin, diamankan 160 karung pupuk ilegal bertuliskan TSP merk Mahkota Fitilizer, 60 karung pupuk illegal bertuliskan PT Agra Fitilizer Grop, 120 karung warna biru berisi garam sudah diberi pewarna merah, 70 karung polos dan satu unit kendaraan truk Cold Diesel warna kuning BE 8311 DK.

“Sedangkan dilokasi penggerebekan di wilayah Kecamatan Tanjung Bintang, kami mengamankan 160 karung atau sekitar 45,5 ton pupuk illegal PT Agra Fitilizer Grop,”bebernya.

Dari tiga lokasi penggrebekan gudang pupuk illegal tersebut, pihaknya melakukan pengerebekan diduga sebagai pabrik besarnya di daerah Gotong Royong, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah.

“Kasus ini masih kita kembangkan, dengan satu orang pelaku berinisial AS yang saat ini masih dalam pengejaran,”kata dia.

AKBP Edwin mengutarakan, hasil pemeriksaan sementara kedua pelaku, pengoplosan pupuk ini dengan mencampur bahan-bahan berupa kapur pertanian, garam, batu bata dan pewarna merah. Semua bahan ini, diaduk dan dikeringkan lalu digiling hingga halus. Setelah itu, dimasukkan ke dalam karung pupuk KCL merk Mahkota Fitilizer dan daun sawit.

“Pupuk illegal (palsu) ini dikemas dalam karung ukuran 50 Kg, dan dijual pelaku sesuai pesanan seperti di daerah Lampung Timur, Tulangbawang dan di daerah Lampung lainnya. Selain itu juga, dijual ke Provinsi Bengkulu dan Jambi. Pelaku menjualnya dibawah harga yakni Rp.120 ribu,”terangnya.

Pasal yang disangkakan terhadap pelaku, Pasal 121 Jo Pasal 56 ayat (5) dan atau Pasal 112 Jo Pasal 73 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2019 Tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan Jo Pasal 55 KUHPidana.

“Ancaman hukumannya, pidana penjara maksimal 6 tahun dan denda Rp.3 miliar,”pungkasnya.

Zainal Asikin