Polresta Bandarlampung Siap Limpahkan Tersangka Kasus Korupsi Proyek di Dinas Kelautan

  • Bagikan

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Ilustrasi

BANDARLAMPUNG-Setelah dinyatakan lengkap atau P-21 oleh Jaksa, berkas perkara dugaan korupsi kios mini tahun 2012 senilai Rp300 juta, akhirnya penyidik Polresta Bamdarlampung akan melimpahkan barang bukti berikut dua tersangka, Agus Sujatma dan Hendrik ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung, Selasa (15/9).

“Sebelum melimpahkan tahap dua tersangka dan barang bukti tersebut, pihaknya terlebih dahulu memanggil kedua tersangka. Rencananya besok, Selasa (15/9/2015) kami akan limpahkan tersangka dan barang buktinya ke Kejari, tapi kita akan panggil dulu keduanya (tersangka),”kata Kepala Satuan Reskrim Polresta Bandar Lampung, Kompol Dery Agung Wijaya, Senin (14/9).

Dery mengaku pihaknya belum bisa memastikan apakah kedua tersangka terlebih dahulu dilakukan penahanan atau tidak. Ia menegaskan, tidak akan tebang pilih dalam penangangan kasus korupsi tersebut.

“Belum tahu soal ditahan atau tidaknya, tapi yang jelas kita akan panggil dulu lah. Kami tidak akan
tebang pilih dalam kasus korupsi,” tegasnya.

Sementara itu, dihubungi melalui ponselnya, Kepala Kejari Bandarlampung, Widiyantoro mengaku, pihaknya sudah siap menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti perkara korupsi proyek kios mini.

“Ya kami siap menerima pelimpahan tahap II (tersangka dan barang bukti). Tapi saya belum tahu, kapan akan dilimpahkannya,” kata Widi.

Dalam perkara ini, Polresta Bandarlampung menetapkan lima orang tersangka. Tiga diantaranya sudah divonis. Yakni Agus Mujianto, Ery dan Chandra. Ketiganya dilakukan penahanan setelah penyidik Polresta Bandarlampung melimpahkan para tersangka ke Kejari Bandarlampung.

Penyidik Polresta Bandarlampung menduga Agus Sujatma (anggota DPRD Kota Bandarlampung periode 2014-2019) bersama Hendrik (rekanan), dan Ery, Agus Mujiantom dan Ery terlibat kads korupsi secara bersama-­sama dalam proyek pembangunan kios mini di Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandarlampung  senilai Ro 1,5 miliar. Sumber proyek tersebut berasal dari APBN 2012.

  • Bagikan