Beranda Views Opini Potensi Pengembangan Usaha Pembibitan Ternak Sapi di Lampung (2)

Potensi Pengembangan Usaha Pembibitan Ternak Sapi di Lampung (2)

1172
BERBAGI

Sulastri*

Kondisi tersebut berbeda dengan di Provinsi JawaTimur yang memiliki persentase induk dewasa rendah (34,43%) namun dengan populasi induk yang cukup besar (1,331 juta ekor) maka usaha pembibitan sapi pedaging masih cukup signifikan untuk menghasilkan pedet (Soedjana et al., 2013).

Usaha pembibitan sapi potong membutuhkan modal yang cukup tinggi namun kurang memberikan keuntungan yang memadai sehingga minat pengusaha untuk berinvestasi dalam usaha pembibitan sapi potong cukup rendah. Hal tersebut berbeda dengan keuntungan yang diperoleh dari usaha penggemukan sapi yang menghasilkan keuntungan berlipat ganda (Rianto dan Endang, 2011; Hadi dan Ilham, 2000).

Sebayang et al. (2013) meneliti nilai tambah yang diperoleh dari usaha pembibitan sapi potong dan usaha penggemukan sapi potong. Nilai tambah (value added) adalah pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan dalam suatu produksi. Dalam proses pengolahan, nilai tambah dapat didefinisikan sebagai selisih antara nilai produk dengan nilai biaya bahan baku dan input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Marjin adalah selisih antara nilai produk dengan harga bahan bakunya saja. Dalam marjin ini tercakup komponen faktor produksi yang digunakan yaitu tenaga kerja, input lainnya dan balas jasa pengusaha pengolahan (Hayami et al., 1987).

Menurut Sebayang et al. (2013), nilai tambah yang diperoleh dari usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong pada skala usaha > 10 ekor lebih besar dibandingkan dengan skala usaha ≤5 ekor dan skala usaha 6-9 ekor. Dalam jangka waktu 6 bulan, usaha penggemukan sapi potong memberikan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan dengan usaha pembibitan sapi potong. Skala usaha mempengaruhi biaya rata-rata bahan penolong pada usaha pembibitan dan penggemukan sapi potong. Makin besar skala usaha, biaya rata-rata bahan penolong akan semakin kecil dan semakin efisien.

Faktor yang mempengaruhi nilai tambah pembibitan sapi potong (Y) secara parsial dipengaruhi oleh biaya obat cacing (X3) dan biaya garam (X4). Sedangkan variabel lainnya tidak mempengaruhi nilai tambah pembibitan sapi potong secara parsial. Variabel biaya obat cacing dan garam berpengaruh nyata secara parsial terhadap nilai tambah usaha pembibitan sapi potong karena apabila obat cacing dan garam tidak digunakan dalam usaha pembibitan sapi potong maka akan mengurangi bobot badan sapi potong dan menyebabkan nilai tambah usaha pembibitan sapi potong menurun.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah penggemukan sapi potong (Y) secara parsial dipengaruhi oleh harga sapi bakalan penggemukan (X1) dan harga hasil penggemukan (X2). Sedangkan variabel lainnya tidak mempengaruhi nilai tambah pembibitan sapi potong secara parsial (Sebayang et al., 2013).


*Dr. Ir. Sulastri, Pengajar Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

CopyAMP code