Beranda Pendidikan PPDB Sistem Zonasi Kendurkan Semangat Belajar Siswa

PPDB Sistem Zonasi Kendurkan Semangat Belajar Siswa

225
BERBAGI
SITUASI simulasi pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 di SMA Negeri 2 Bandung, Kamis 13 Juni 2019.*/DOK HUMAS PEMPROV JABAR
SITUASI simulasi pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 di SMA Negeri 2 Bandung, Kamis 13 Juni 2019.*/DOK HUMAS PEMPROV JABAR

TERASLAMPUNG.COM — Ketua Lembaga Perlindungan Anak Generasi (LPAG) Ena Nurjanah menilai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berbasis zonasi mengendurkan semangat belajar siswa. Sistem tersebut juga telah menafikan bahwa sebaran sekolah negeri hingga saat ini tidak merata.

Ena menegaskan, PPDB berbasis zonasi tetap akan menimbulkan masalah bagi siswa dan orang tua meskipun tahun ini regulasinya sudah disempurnakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ini karena, siswa yang memiliki nilai akademik menonjol terancam tak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah yang bagus akibat berada di luar zona.

“Kondisi ini sesungguhnya benar-benar menghempaskan semangat anak-anak yang sudah belajar keras untuk mendapatkan nilai UN terbaik namun berada dalam zona yang jauh dari sekolah negeri atau bahkan tidak ada sekolah negeri di wilayahnya,” kata Ena di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, kebijakan zonasi secara tidak langsung menguji hak anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik seperti gagasan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya tertinggal karena tidak mendapatkan hak pendidikan.

Ia mengatakan, jika pendidikan menjadi hak setiap rakyat Indonesia, maka pemerintah bertanggung jawab mengimplementasikan gagasan mencerdaskan seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali. Menurut dia, PPDB berbasis zonasi masih menimbulkan protes dari orang tua siswa akibat khawatir anaknya tak mendapatkan pendidikan berkualitas.

“Orang tua dan siswa masih khawatir meskipun Kemendikbud menganggap sistem zonasi sebagai langkah paling penting dalam mencapai berbagai pemerataan dalam dunia pendidikan. Tidak ada pengistimewaan sekolah favorit – tidak favorit,” ujarnya.

Sejak 2017, zonasi memang menjadi basis data perumusan kebijakan dalam memetakan dan memberikan intervensi pendidikan. Baik terkait fasilitas sekolah, metode pembelajaran, maupun kualitas dan distribusi guru. Kemendikbud optimistis, zonasi dapat mempercepat pemerataan mutu pendidikan di seluruh daerah. Aturan baru mengenai PPDB 2019 tertuang dalam Peraturan Mendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB.

Melihat tujuan PPDB sistem zonasi tentunya menimbulkan harapan besar bagi pendidikan yang lebih baik bagi setiap anak Indonesia. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut bukan perkara sederhana. Pemerintah tidak bisa mengabaikan kondisi yang ada, baik itu kondisi siswa didik, orang tua, maupun sebaran sekolah negeri yang belum merata.

Ena menyatakan, terbatasnya jumlah sekolah negeri akan menimbulkan banyak anak yang tidak tertampung. Terutama pada siswa yang rumahnya jauh dari zona sekolah. Meskipun nilai hasil UN mereka sangat memungkinkan untuk mendapatkan sekolah negeri berkualitas.

“Mencari sekolah bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi tidaklah semudah yang dikatakan Kemendikbud, bahwa ketika anak tidak diterima sekolah negeri, mereka tetap bisa bersekolah, masih ada sekolah swasta yang mau menampung. Mencari sekolah swasta butuh persiapan biaya yang tidak sedikit. Pilihan sekolah swasta yang sesuai dengan budget mereka pun sulit ditemui,” katanya.

Peneliti dari Center fo Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Krishnamurti menuturkan, sistem zonasi yang diterapkan di seluruh SD, SMP, SMA negeri di seluruh nusantara masih dibayangi sejumlah masalah. Di antaranya terkait ketidakseimbangan daya tampung sekolah.

Menurut Indra, kekhawatiran beberapa pemangku kepentingan di dunia pendidikan akan ketimpangan supply dan demand sekolah tak akan bisa dihindari pada PPDB tahun ini. “Supply (daya tampung) yang terbatas dan jumlah pendaftar atau demand yang terlampau tinggi. Hal ini mengancam hak murid untuk menerima pendidikan tidak terpenuhi,” kata Indra.

PIKIRAN RAKYAT

Loading...