Beranda News Budaya PPN Harus Rangkul Lebih Banyak Puak Melayu

PPN Harus Rangkul Lebih Banyak Puak Melayu

198
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com 

Dimas Arika Miharja (Foto: dok pribadi)

SINGAPURA–Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) akan bernasib sama dengan Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) jika tidak ada kepedulian sungguh-sungguh dari puak Melayu di lima negara peserta. Dimas Arika Muharja, penyair Jambi yang juga pengajar di Universitas Jambi, mengatakan itu di Singapura, Senin (1/8) pagi.

Menurut Dimas, PPN tampaknya terlihat serius dilaksanakan jika tuan rumah adalah Indonesia. “Penyelenggara dapat melibatkan semua pihak, misalnya peajar, mahasiswa, dan pemerintah. Tanpa ini, PPN ibarat hidup segan mati tak hendak,” tegasnya.

Selain itu, kata Dimas, PPN harus mengutamakan keberagaman. Baik dari tema, peserta, pemakalah, dan masyarakat yang dilibatkan.

“Puak-puak Melayu mesti dirangkul, agar PPN disokong demi menjayakan Melayu,” imbuh Dimas.

Menurutnya, memberdayakan penyair di masing-masing negara yang telah disepakati untuk memilih lalu mengusulkan agar diundang sebagai peserta mesti ketat. “Jangan karena kedekatan dengan panitia atau koordinator di masing-masing negara, bisa dengan mudah mendapat mandat dijemput,” ujarnya.

Dimas juga berharap PPN tdak dijadikan ajang para penyair Nusantara melepas rindu. Lebih dari itu, seharusnya forum ini dapat memperkuat kemelayuan agar jaya di Nusantara.

Dikatakan Dimas, Melayu bagi Indonesia sudah dianggap selesai ketika Sumpah Pemuda diikrarkan. Tetapi, bagi negara-negara seperti Singapura maupun Thailand mesti berkeras memperjuangkannya kembali.

Peserta foto bersama usai acara penutupan, 31 Agustus 2014. (Foto: dok Dimas Arika Miharja)

“Kenyataannya,  di dua negara itu Melayu masih menjadi minoritas. Wajar kalau kemelayuan terseok-seok. Negara kurang menyokong, jadi bagaimana bisa menyelenggarakan PPN dengan serius? Ke depan, PPN diharapkan bisa dilakukan secara serius agar mencapai sasaran yang diidealkan. Bagaimana perkembangan puisi di masing-masing negara, yang tiap tahun tampak adanya kemajuan,” kata dia.

Dimas mengusulkan dalam PPN ke depan ada sesi yang membentangkan keberadaan puisi dalam dua atau lima tahun terakhir. “Ada pembicara yang mengkritisi karya-karya di lima negara peserta. Dengan begitu, akan terlihat perubahan atau perkembangan karya-karya para penyair yang tumbuh. Kalau tak ada kemajuan, PPN hanya jadi ajang temu kangen dan reuni antarpenyair Nusantara,” pungkasnya.

Loading...