Beranda Teras Berita Prabowo versus Jokowi: Curi Start Presiden RI

Prabowo versus Jokowi: Curi Start Presiden RI [Dari TV ke TV]

128
BERBAGI

Oleh Gol A Gong*

DI dunia atletik, terutama lomba lari sprint 100 meter, jika ada yang curi start, langsung dikartumerah, tanpa ampun. Seperti kejadian di liga Atletic IAAF Diamond League, Paris, 5 Juli lalu. Seorang sprinter asal Jamaica diusir dari lintasan, karena curi start. Pelari itu protes dan duduk di lintasan; ia meminta kebijakan diperkenankan meneruskan berlomba. Pelari yang lain mencoba tidak terganggu dengan ulahnya dan focus pada lintasan. Tapi pelari Jamaica itu tetap diusir dari lintasan.

Lalu apa hubungannya dengan Pilpres 2014? Jokowi yang mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang Pilpres 2014 di Kebagusan, Rabu 9/7, sekitar pukul 14:00, yang mengacu pada hasil quick count dari beberapa lembaga survey kredibel, tidak dimaksudkan curi start. Tapi itu langkah strategis timsesnya. Hanya saja, para pemilihnya yang di pedesaan (akar rumput), secara intelektual tidak memahami metode survey, harus dari sekarang diberi pemahaman, bahwa data sampling 100% itu tidak equal dengan jumlah pemilih.

Bagi saya, survey untuk sebuah penelitian, yang bisa merepresentasikan sesuatu, boleh saja untuk kebutuhan akademis. Tapi jika untuk melegitimasi seseorang menang dari seseorang yang lain dalam dunia politik, masih bisa diperdebatkan. Banyak lembaga survey yang salah memprediksi. Di Pilkadal DKI, ada lembaga survey kredibel yang mengumumkan Jokowi tidak akan menang melawan Fauzi Bowo, tapi ternyata Jokowi menang. Di Jabar, lembaga survey kredibel mendukung Dede Yusuf, tapi justru Aher yang menang.

Apalagi ketika saya menonton di KOMPAS TV, Tim Litbang KOMPAS begitu berkeras hati, bahwa Jokowi adalah pemenangnya. Dari semua lembaga survey, Tim Litbang KOMPAS yang langsung mengumumkankan sekitar pukul 13:00, bahwa Jokowi-JK adalah pemenang Pilpres 2014. Padahal data sampling mereka baru 80% masuk. Setelah 100% data sampling masuk, Jokowi menang 52,66% atas Prabowo dengan 47,34%. Saya tahu, mereka orang pintar. Mau tidak-mau, saya yang bodoh ini harus percaya kepada orang pintar dengan reputasi bagus pula.

Di dialog Metro TV Kamis (10/7) pagi, diinfokan rata-rata lembaga survey melakukannya di 1500-2000 TPS. Padahal TPS di Indonesia menurut www.rumahpemilu.com ada 545.000 TPS tersebar di 17.000 pulau. Berdasarkan data Pemilu Legislatif (Pileg) 2014, daftar pemilih sekitar 180 juta orang. Di distrik Yahukimo, Papua, pencoblosan baru dilaksanakan hari Kamis 10/7 ini.

Seorang akademisi (saya lupa namanya dan di TV mana) menganalogikannya begini. Jika kita melakukan penelitian “apakah becak masih dibutuhkan”, lalu kita berpihak kepada tukang becak, maka mudah saja melakukannya. “Surveynya kepada ibu-ibu yang biasa ke pasar dan mantan tukang becak. Pasti mereka akan mendukung agar becak tidak dihapuskan.”

Saya jadi teringat omongan orang Baduy sekitar tahun 90-an. Saya datang ke sana membawa buku-buku. Mereka berkata kepada saya, bahwa mereka tidak butuh buku, tidak butuh pintar. Kata orang Baduy, untuk apa pintar kalau hanya untuk minterin orang. Sejak itu, saya sudah tidak berminat lagi datang ke Baduy untuk sesuatu yang sifatnya ideologis, kecuali hanya sekadar berolahraga.

Saya tidak masalah Jokowi menang. Saya juga tidak bermaksud menyepelekan kredibilitas lembaga survey yang diisi oleh orang pintar bergelar berderet. Saya hanya menakutkan konflik horizontal antar pendukung capres. Nanti korbannya saya, rakyat bodoh yang tinggal di kampung. Indikasinya mengarah ke sana. Pada Rabu 9/7, saya sejak pagi nongkrong di depan TV; memantau suhu politik pasca pencoblosan Pilpres 2014. Pukul 13:00 Tim Litbang KOMPAs mengumumkan, bahwa Jokowi-JK pemenang Pilpres 2014 di KOMPAS TV. Di Metro TV, SCTV, Net TV diumumkan, lembaga survey kredibel memenangkan pasangan Jokowi-JK. Sedangkan di TV One, RCTI, Global TV sebaliknya, Prabowo-Hatta yang diunggulkan.

Saya cukup terkejut ketika kubu Jokowi-JK plus Megawati, melakukan press conference sekitar pukul 15:00. Megawati dan Jokowi mengumumkan kemenangannya sebagai presiden di Pilpres 2014 di markas mereka di Kebagusan. Bahkan dalam pidatonya Jokowi menekankan, bahwa jangan pernah macam-macam dengan mengotori pilpres 2014 ini.

Pada pukul 17:00, Prabowo – Hatta membalas dengan pengumuman di Kertnegara (rumah ayah Prabowo) , bahwa lembaga survey memihak kepadanya dengan perolehan prosentase yang sama. Prabowo menghimbau, agar para pendukungnya jangan turun ke jalan apalagi ber-euforia. Ini baru kemenangan hasil quick count. Pada waktu yang bersamaan, Jokowi – JK sudah berada di tugu Proklamasi. Bahkan saya melihat presenter Nico Siahaan memimpin convoy perayaan kemenangan. Jokowi berorasi dengan membacakan pidatonya di selembar kertas, merasa sudah seperti Presiden RI 2014 – 2015. Jokowi mengucapkan terima kasih kepada Prabowo – hatta dan SBY, yang sudah berpartisipasi dengan baik di Pilpres 2014 ini. Jokowi juga memuji lawan politiknya sebagai negarawan.

Bada buka puasa di TV One Rabu 9/7, Prabowo berorasi. Clara Ng – penulis novel, di twitternya menulis, “Pidato Prabowo menakutkan. Bisakah berbicara dengan lembut?” Lalu dia mengibaratkan, seolah sedang memeluk anak-anaknya. Saya juga menonton pidato Prabowo. Saya melihat raut wajah Prabowo kelelahan. Intonasi nadanya penuh ketersingungan, karena Jokowi cs dianggapnya mencuri start. Walau pun Prabowo berkali-kali melarang para pendukungnya turun ke jalan, tapi ia memperingatkan kubu Jokowi agar jangan meremehkannya. Prabowo menekankan, bahwa kita harus menghargai lembaga yang mewakili Negara, yaitu KPU. “Tunggu tanggal 22 Juli. Saya akan menghormati keputusan KPU.”

Usai tarawih, Presiden memanggil kedua capres. Jokowi cs datang ke Cikeas lebih dulu. Disusul Prabowo cs. Sebagai Preside RI hingga Oktober 2014, SBY tetap mempunyai wewenang mengatur republic ini. Itu adalah langkah tepat. SBY meminta kepada Jokowi, agar euforia kemenangan sementara tidak turun ke jalan mulai Kamis 10/7. Prabowo dan Jokowi bersepakat menjaga kedamaian. Tidak ada pawai perayaan kemenangan. Jangan sampai omongan kubu Jokowi, bahwa jika dirinya kalah berarti dicurangi itu benar.

Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA, Peneliti senior Pusat Penelitian Politik-LIPI, dalam dialog di Jak TV (Rabu 9/7) mengatakan, bahwa kedua kubu melakukan kampanye gelap dan negative. “Hanya saja kubu Prabowo lebih dewasa dan Jokowi serba ‘harus’. Harus menang,” kata Siti Zuhro.

Sedangkan Yovie Widianto, musikus asal Bandung, sering mengingatkan, bahwa “Rendah hati bagi yang menang dan berbesar hati bagi yang kalah.” Ini menarik.

Husni Kamil Manik, Ketua KPU menegaskan, bahwa hasil quick count bukan hasil resmi KPU. “Kita harus meletakkan hasil quick count secara proporsional,” tegas Malik. Nanti tanggal 22 Juli pengumuman resmi dari KPU. Husni juga terbuka untuk dikawal.

Inilah mungkin contoh yang disebut John F . Kennedy sebagai “politik itu kotor”. Jadi untuk apa memilih capres yang baik di tempat yang sudah kita sebut kotor? Barangkali kita sebagai pemilih, sebetulnya tidak lebih mulia dari Prabowo-Jokowi. Hanya Allah SWST yang tahu. Saya mencoblos Prabowo, yang selalu disudutkan melanggar HAM pada Mei 1998. Saya tidak mungkin mencoblos Jokowi yang dicitrakan orang baik, karena saya merasa bukan orang baik. Bahkan Anies Baswedan yang awalnya menganggap Jokowi identik dengan politik pencitraan, berbalik mendukung Jokowi karena tidak mungkin baginya sebagai orang baik gagal di konvensi Partai Demokrat, mendukung Prabowo yang dianggapnya (juga oleh kita) bukan orang baik.

Tapi, saya tidak peduli siapa yang menang. Mau Prabowo, oke. Jokowi juga tidak masalah. Yang saya pedulikan adalah, pemenang Pilpres 2014 nanti menepati janjinya dan kita kembali ke rumah, bersama-sama membangun kampung halaman untuk Indonesia Jaya. Dan kembali time line kita berisi bnyak info kegiatan, yang tentu bermanfaat bagi perkembangan negeri ini, tanpa perlu saling hujat. Kata Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., guru besar Hukum Tata Negara UI, menyarankan agar pasca Pilpres, “Kita harus melakukan langkah rekonsiliasi bagi yang menang dan kalah. Bukankah saat debat, mereka sudah siap menang dan siap kalah?”

Akhir kata dari saya, selamat kepada Prabowo dan Jokowi, yang sudah memenangkan Pilpres Negara Quick Count Indonesia. Prabowo (dianggap) didukung lembaga survey di luar mainsteam alias tidak kredibel, sedangkan Jokowi didukung lembaga yang diakui reputasi dan kredibel. Ya, selamat. Saran saya sekarang, sambil menunggu 22 Juli, Anda saling berpegangtanganlah. Kalau perlu, nonton bareng final Piala Dunia 2014 di Stadion GBK, Jakarta, sambil sahur bersama. (*)

*) Direktur Utama di Gong Publishing dan Pimpinan Rumah Dunia, penulis novel Balada Si Roy.

Loading...