“Predatory Pricing”, Pengamat Minta Kemenhub Tinjau Ulang Izin Maxim

  • Bagikan
Ilustrasi

TERASLAMPUNG.COM, PALEMBANG – Aplikator transportasi online Maxim dinilai telah melakukan praktik predatory pricing yang tidak etis. Pasalnya, tarif murah yang diterapkan Maxim sudah berlangsung cukup lama, sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dan berpotensi menghalau kompetitor baru dalam industri ride-hailing di Tanah Air.

Predatory pricing ini sebenarnya bagian dari strategi pemasaran dimana ada pesaing baru yang menerapkan harga yang sangat rendah di bawah harga pasaran agar bisa bersaing dengan pemain-pemain lama,” ujar pengamat ekonomi Sumatera Selatan, Yan Sulistyo, belum lama ini.

Namun, kata Yan, jika predatory pricing yang dilakukan Maxim bertujuan untuk menghalau kompetitor-kompetitor baru yang akan muncul, maka praktik tersebut menjadi salah.

“Yang saya lihat, di Kota Palembang, apa yang dilakukan Maxim ini sudah tidak tepat lagi, karena sudah terlalu lama mereka menerapkan harga promo,” tandas akademisi Universitas Sriwijaya itu.

“Artinya saat Maxim mau bersaing dengan Gojek dan Grab, lalu dia menerapkan harga yang rendah supaya konsumen Gojek dan Grab berpindah ke Maxim, srategi ini untuk jangka pendek boleh saja. Tetapi jika tarif murah ini tujuannya untuk menghalau kompetitor baru, sehingga kompetitor sulit masuk karena tidak mungkin untuk menawarkan harga yang lebih rendah lagi, ini salah,” papar Yan.

Menurutnya perlu ketegasan dari Kementerian Perhubungan untuk meninjau ulang perizinan dari Maxim karena belum juga menerapkan harga sesuai aturan Permenhub 12 dan Kepmenhub 348.

“Bisa dikenakan tindakan mencabut izin atau membekukan operasional Maxim sementara waktu,” katanya.

Yan pun memaklumi langkah protes yang dilakukan pengemudi Grab dan Gojek di beberapa daerah karena mulai terganggu dengan strategi harga Maxim yang jangka waktunya sudah menggerus pendapatan rekan-rekan ojol dari aplikator lainnya.

“Tidak boleh lama-lama menerapkan tarif di bawah harga pasar atau di luar ketentuan yg diatur pemerintah. Aplikator baru harus masuk dengan harga yang sama sehingga yang bersaing adalah pelayanan. Bisa saja terjadi chaos di lapangan antar sesama ojol karena persaingan yang tidak sehat,” kata Yan.

“Sejak masuk di awal pandemi, saat adanya PSBB, Grab dan Gojek tidak beroperasi. Tapi saat itu Maxim masih beroperasi. Dari sini saja mereka sudah bersaing tidak sehat. Sudah saatnya sekarang Maxim mengikuti aturan dan bersaing dengan sehat,” tutup Yan.

Loading...
  • Bagikan