Beranda Politik Pemilu 2014 Prediksi Hasil Pemilu 2014 Meleset, Saatnya tidak Memercayai Lembaga Survei

Prediksi Hasil Pemilu 2014 Meleset, Saatnya tidak Memercayai Lembaga Survei

489
BERBAGI

Dewira, R. Usman|Teraslampung.com

JAKARTA – Semua lembaga survei pemilu mengklaim independen, objektif, dan memiliki hasil survei paling tepat (presisi). Untung meningkatkan nilai jualan, tak segan-segan bos lembaga survei akan memasang iklan dengan harga mahal. Namun, Pemilu 2014 menjadi momen paling menohok sejumlah lembaga survei karena prediksinya meleset.

Selain LSI, lembaga survei yang tebakannya salah adalah Lembaga Survei Jakarta (LSJ). Hasil survei LSJ yang diekspose pada  3 April 2014 menempatkan Hanura dan Gerindra di urutan teratas.

LSJ mengklaim melakukan melaksanakan survei 18 – 30 Maret 2014. Jika Pemilu diadakan saat itu, kata LSJ,  maka  Hanura akan dipilih oleh 15,1% publik. Sedangkan partai Gerindra memiliki elektabilitas sebesar 13,5%.

Prediksi lembaga survei Indonesia Research Centre (IRC) juga meleset. Sebelum Pemilu 2014, IRC melansir hasil survei yang menyimpulkan bahwa partai politik berbasis Islam  seperti PKS, PAN, PKB dan PPP hanya diminati kurang dari 3.5% calon pemilih. Faktanya, PKS, PAN, PKB, dan PPP raihan suaranya cukup signifikan. Bahkan, PKB memukul secara telak prediksi lembaga survei

Sementara itu, pada 13 Maret 2014 lembaga survei Lembaga Klimatologi Politik (LKP) merilis hasil survei terkait elektabilitas partai politik yang menempatkan PDIP dan Golkar duduk di peringkat teratas sedangkan Partai Demokrat dikalahkan oleh Hanura dan Gerindra. Menurut LKP ada empat parpol yang elektabilitasnya di atas satu digit, yaitu PDI Perjuangan, Golkar, Hanura, dan Gerindra. Hebatnya, LKP menempatkan Partai Hanura pada posisi tiga besar. Faktanya, partai  Hanura merorot pada juru kunci dengan perolehan suara 5,26 persen.

LKP  mengklaim survei dilaksanakan pada tanggal 26 Februari-6 Maret 2014 di 34 provinsi dengan mengambil 1240 responden melalui teknik multi stage random sampling. Populasi survei adalah seluruh penduduk Indonesia yang sudah memiliki hak pilih atau minimal telah berusia 17 tahun dan/atau belum 17 tahun tetapi sudah menikah.

Yang juga meleset adalah prediksi Indonesia Network Elections Survei (INES). Sebelum Pemilu 2014 digelar, pada 20 Februari 2014  INES merilis hasil survei elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2014 dan menempatkan PDIP di posisi puncak. PDIP menurut survei INES hanya unggul tipis dari Partai Gerindra: PDIP 26,7%, sementara Gerindra 26,6 %.

Hasil lengkap perolehan suara parpol Pemilu 2014 berdasarkan survei INES adalah sebagai berikut:

1. PDIP: 26,7%
2. Gerindra: 26,6%
3. Golkar: 14,8%
4. Hanura: 7,5%
5. NasDem: 6,9%
6. Demokrat: 4,3%
7. PPP: 3,6%
8. PAN: 2,6%
9. PKB: 2,6%
10. PKS: 2,1%
11. PBB: 1,2%
12. PKPI: 1,1%

Gerindra diprediksi INES memperoleh suara 26,6 persen, sementara fakta menunjukkan bahwa partai besutan Prabowo Subianto itu hanya memperoleh  sangat jauh dibandingkan perolehan quick count 11,81  persen suara.

Prediksi lembaga-lembaga survei itu bisa dibandingkan dengan hasil akhir penghitungan suara yang dilakukan KPU Pusat dengan komposisi sebagai i berikut:

1. Partai Nasdem: 6,72%
2. Partai Kebangkitan Bangsa: 9,04
3. Partai Keadilan Sejahtera: 6,79%
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan: 18,95%
5. Partai Golongan Karya: 14,75%
6. Partai Gerakan Indonesia Raya: 11,81%
7. Partai Demokrat: 10,19%
8. Partai Amanat Nasional: 7,59%
9. Partai Persatuan Pembangunan: 6,53%
10. Partai Hati Nurani Rakyat: 5,26%
11. PBB: 1,46%
12. PKPI 0,91 %
Loading...