Presiden Jokowi akan Hadiri Musyawarah Lembaga Masyarakat Adat Papua

Bagikan/Suka/Tweet:
Presiden Jokowi saat berkunjun ke Papua akhir Dsember 2014 lalu. (dok) 

JAKARTA, Teraslampung.com — Presiden Joko Widodo (Jokowi) rencananya akan akan menghadiri Musyawarah
Lembaga Masyarakat Adat,Papua di iJayapura, akhir
November 2015.

Staf Khusus Presiden yang juga putra asli Papua, Lenis Kagoya, mengatakan kehadiran Presiden
Jokowi dalam Musyawarah Lembaga Masyarakat Adat Papua itu memperkuat
komitmennya untuk mengedepankan  pendekatan  adat dalam menyelesaikan
masalah di Papu.

“Artinya , tidak lagi mengedepankan pendekatan keamanan
sebagaimana yang selama ini dilakukan.Dengen pendekatan tersebut pemerintah telah membuka ruang dialog
bagi semua  komponen masyarakat Papua, termasuk bagi Kelompok Sipil
Bersenjata atau Organisasi Papua Merdeka (OPM),” kata Lenis,  Jumat (20/11).

Lenis menilai, pendekatan adat yang melibatkan semua pihak itu,
merupakan jalan terbaik untuk perdamaian di Papua. Melalui pendekatan
adat tersebut, lanjut Lenis, berbagai persoalan pembangunan seperti
masalah  tanah hak ulayat, kegiatan ekonomi serta percepatan pembangunan
lebih menyentuh kebutuhan  masyarakat.


Mengenai tugasnya sebagai Staf Khusus Presiden, Lenis Kagoya
mengatakan, sejak diangkat pada 5 Mei 2015 lalu, dirinya telah menyusun 
konsep pembangunan Papua yang melibatkan masyarakat adat dalam tahapan
pembangunan yang berkesinambungan.

Lenis menegaskan rekomendasi program yang ia susun tersebut tentunya
berasal dari  perspektif dan kebutuhan masyarakat adat. Ia memberi
contoh keinginan masyarakat untuk menerima dana Otonomi Khusus (Otsus)

“Dana Otsus  sudah 14 tahun berjalan, tinggal sisa 11 tahun lagi.
Dana sisa ini, kalau bisa  dibagi saja. Untuk agama diberikan 2 persen,
jangan sampai mereka tidak dapat.Dua persen  untuk adat, dimana ada adat
dan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) yang bisa membantu. Pejuang pepera
juga dikasih uang  Otsus itu, sehingga turut menikmati dana Otsus,”
saran Lenis.

Ia juga mendukung gagasan agar dana otsus juga bisa dibagikan kepada
pengusaha asli Papua sebagai modal usaha.  “Dua persen ditaruh di bank
tanpa jaminan, sehingga orang asli Papua yang punya perusahaan harus
dibantu, dilatih dan dibina. Pemerintah pegang 2 -10 orang pengusaha
Papua, pasti bisa sukses,” papar Lenis.

Menurut Lenis, mama-mama Papua pedagang di pasar juga diharapkan bisa dibantu dengan dana Otsus 2 persen melalui koperasi agar belajar berdagang yang baik.

Lenis Kogoya juga mengusulkan agar dana Otsus juga bisa dibagikan
kepada kelompok korban politik,  tahanan politik dan yang menyerahkan
diri, termasuk OPM. “Mereka juga harus diberi uang
Otsu situ, kasih keluarganya, tahanan politik yang keluar juga dikasih dan ada penyerahan
diri juga diberikan uang itu, kasih dia punya rumah,” ujarnya.

“Konsep itu harus dibangun, sehingga mereka merasa Papua merdeka dalam ekonomi,
pendidikan, kesehatan dan lainnya. “Ini keluhan masyarakat selama saya keliling turun ke masyarakat,” tuturnya