Presiden Jokowi Fokus pada Penguatan Sektor Pangan

  • Bagikan
Presiden Jokowi pada acara Pesta Rakyat di Lapangan Monas Jakarta, Senin (20/10). 

Jakarta, Teraslampung.com–-Pemerintahan Presiden Joko Widodo pada lima tahun kedepan  akan fokus pada penguatan sektor pangan . “Sama seperti perusahaan (atau) korporasi. Kalau mau kompetitif harus fokus ke satu bidang, tak bisa semua dikerjakan. Kalau saya lihat, kekuatan kita ya di pangan,” kata Jokowi, di Jakarta, Senin (20/10).

Menurut  Jokowi, dia  tidak  menampik pada saat ini yang terjadi justru pangan menjadi salah satu sektor yang penuh barang impor. “Kita impor, iya. Itumissmanagement,” tegas dia.

Oleh karena itu, Jokowi memasang target, dalam tiga tahun Indonesia bisa meraih kedaulatan pangan. Untuk itu, dia akan meminta jajaran kabinetnya yang membawahi bidang itu untuk fokus mengembangkan teknologi pertanian dan teknologi pangan.

“Kompetitif kita ada di pangan. Menteri nanti harus menteri terapan yang pernah mengerjakan itu, bukan berteori lagi,” tegas Jokowi.

Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia bidang logistik Natsir Mansyur mengatakan, para pengusaha menaruh harapan besar perbaikan dunia usaha di pundak Presiden Joko Widodo. Pasalnya, Jokowi dianggap lebih mengerti dunia usaha.

“Pengusaha itu menyimpan harapan dipundak Jokowi. Kebijakan-kebijakannya diharapkan membuat dunia usaha lebih berjalan baik,” ujar Natsir Mansyur.

Dia menjelaskan, keyakinan dunia usaha kepada Jokowi bukanlah tanpa sebab. Pasalnya latar belakang Jokowi yang merupakan pengusaha sekaligus mantan anggota Kadin dinilai sebagai poin plus menumbuhkan kepercayaan dunia usaha.

Sementara itu, saat ditanya mengenai kriteria menteri dikabinet Jokowi, Kadin kata Natsir menyerahkan sepenuhnya kepada mantan Gubernur Jakarta itu. Meskipun begitu, Kadin tetap berharap bahwa menteri-menteri yang duduk di kabinet nanti adalah menteri yang mengerti dunia usaha.

“Yang pasti, menteri ekonomi Jokowi nanti mengerti dunia usaha sehingga bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi nasional. Harus melibatkan Eksekutif, legislatif dan dunia usaha,” kata dia.

“Terus terang saja, tentu pemerintah yang lebih tahu (kebutuhan kabinet). Apa strukturnya besar, kecil, atau ramping, yang penting bukan strukturnya, tapi siapa dan itu bisa bekerjasama enggak,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi.

Sofjan mengatakan, pengusaha tidak peduli pada struktur kabinet Jokowi, apakah diisi mayoritas profesional murni atau profesional dari partai politik. Yang pasti, kata dia, haruslah dipilih orang yang kredibel untuk menduduki jabatan menteri.

“Kami sih setuju saja (mayoritas profesional). Cuma kami inginnya yang mengisi kabinet besok ini, manusianya yang bisa bekerja,” sambung Sofjan. “Bagaimana mereka ini bekerja dalam satu tim. The man behind the gun, bagi kami lebih penting daripada strukturnya,” tandas Sofjan.

Sebelumnya, presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla memilih opsi 34 kementerian dengan tiga menteri koordinator, sama seperti postur kabinet pemerintahan SBY-Boediono.

Berdasarkan jumlah itu, sebanyak 18 menteri diisi profesional murni dan 16 menteri diisi profesional partai politik. Adapun posisi wakil menteri dihapus kecuali di Kementerian Luar Negeri.

Dewira/bisnis/ktn

  • Bagikan