Beranda Views Kopi Sore Presiden yang Tertukar

Presiden yang Tertukar

379
BERBAGI
Hermawan Aksan*
SELALU ada yang lucu dan menggemaskan dari postingan netizen di media sosial. Seperti yang sudah tersebar di Facebook, bahkan menjadi berita di situs daring, seorang netizen, Achmad Iman, mengunggah foto di Pathketika Presiden Jokowi melakukan inspeksi kesiapan peringatan KAA di Bandung, Kamis lalu. Di foto itu Jokowi, yang mengenakan baju putih, berdampingan dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, yang juga memakai baju putih plus kopiah hitam dan berkacamata. 
Di akun Path miliknya Achmad Iman menulis (seadanya, tanpa saya sunting): “Kata turis Jerman di Bandung: Your president is very handsome, cool and looks clever, wearing black tradition hat (kopeah) and eye glases…he look young…how old is he?…Aing teus bisa jawab, ngadon seuseurian olangan.” Di bawahnya, dia menulis lagi: “Sy tadina rek ngaralat, sanes eta presiden urang teh, tapi nu sapalihna, ngan duka asa ngabagel na tikoro rek kitu teh… kasimbeuh ku rasa isin mun ngangken… apa kata dunia?”

Postingan itu dengan cepat menyebar, dengan judul “Presiden yang Tertukar”, dan mengundang komentar banyak orang. Dari pembacaan sekilas saya, komentar-komentar itu bisa dipilah ke dalam tiga kelompok. Pertama, mereka yang sekadar tertawa karena menganggap postingan itu lucu. Kedua, mereka yang memuji Ridwan Kamil sebagai presiden masa depan RI seraya mencemooh Jokowi. Ketiga, mereka yang membela Jokowi.

Dari pembacaan sekilas pula saya melihat kelompok kedua lebih banyak dibanding dengan dua kelompok lain. Boleh jadi kelompok kedua ini mereka yang pada pilpres lalu mendukung calon lain, ditambah pendukung Jokowi yang kemudian kecewa dan berbalik memaki.

Saya pilih komentar dari kelompok kedua, misalnya ini (saya sunting biar mudah dibaca): “Gestur nggak bisa bohong… sikap tubuh yang canggung ditambah tatapan mata, isi dan cara saat bicara sama sekali nggak percaya diri karena banyak nggak menguasai materi, karena nggak sanggup baca yang berat- berat. Isi kopong tapi dibungkus kemasan dan iklan yang bagus oleh media dan tim suksesnya maka jadilah dia presiden.” Atau ini: “Yang satu wali kota dengan aura presiden, yang lain presiden dengan aura pembantu.” Juga ini: “Emang Pak Emil cocok pisan jadi RI-1 luar dalam, kalau Jokowi dikira tukang somai kali ya.”

Ah, silakan Anda cari sendiri di medsos dan silakan berkomentar, atau cukup memendam rasa riang, sedih, atau apa pun.

Pujian terhadap Emil dan cemoohan terhadap Jokowi sedikit banyak mengingatkan saya pada masa dua atau tiga tahun lalu ketika orang-orang memuji Jokowi dan mencemooh SBY. Sebelum menjadi presiden, Jokowi memang menjadi pujaan banyak orang bersama dengan, antara lain, Tri Rismaharini dan belakangan Ridwan Kamil. Mereka dianggap sebagai “pemimpin masa depan”.

Kini Jokowi berada di posisi SBY beberapa tahun lalu dan Emil di posisi Jokowi saat itu. Jokowi dianggap gagal menjadi presiden yang memenuhi harapan rakyat, sedangkan Emil dianggap sebagai harapan rakyat untuk memimpin negeri ini di masa depan. Simak misalnya komentar seorang netizen: “RK akan pimpin Bandung dua periode. Di tahun kesepuluh menjabat wali kota, beliau dicalonkan jadi presiden, di tahun 2024 dilantik jadi presiden…. RK sangat layak jadi presiden, namun jangan tergesa gesa, tetap harus ada perencanaan strategis.”

Di akun FB-nya, Emil mengunggah foto hitam putih dia sedang berpidato. Dengan baju putih dibungkus jas dan berkopiah serta berkacamata, foto itu mengundang reaksi banyak netizen. “Pertama liat foto ini, saya kira itu Bung Karno. Subhanallah, semoga Kang Emil memang Bung Karno masa depan,” tulis seorang netizen.

Mungkin sekarang saatnya bagi Emil menjadi media darling, setidaknya media sosial. Dia menjadi harapan di tengah makin tipisnya harapan terhadap kepemimpinan saat ini.

Tentu saja tidak tanpa kritik sama sekali. Tisna Sanjaya, budayawan dan perupa dari ITB, menilai berita-berita kesuksesan Emil karena faktorgimmick yang dimainkan. Apa yang dilakukan Emil untuk Kota Bandung, kata Tisna, masih bersifat kulit luarnya, belum menyentuh esensinya. 

“Dalam teater ada istilah gimmick, metode untuk menarik perhatian penonton agar tertarik pada adegan lanjutan. Dan ini sepertinya yang dimainkan oleh Pak Wali Kota Bandung,” ujar Tisna (Katakini, 15 April 2015).
Herry Dim, juga budayawan dan perupa Bandung, pun mengkritik Emil. “Saya harap Ridwan Kamil mengurangi politik lipstick-nya dan mau mendengar suara-suara dari masyarakat dan jangan hanya bergantung pada tim pemikir atau orang-orang dekatnya saja. Itu tidak cukup,” katanya.

Anggap saja kritikan dua budayawan Bandung ini merupakan ungkapankadeudeuh dan semacam rem supaya tidak secara lebay memuji sang Wali Kota. (*)

* Hermawan Aksan adalah sastrawan, tinggal di Bandung

Loading...