Profesor Sunarto dalam Kenangan

  • Bagikan
Prof. Dr. Sunarto ketika menjadi narasumber pada acara seminar tentang mafia tanah yang digelar Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 2018 lalu. Foto: Youtube
Prof. Dr. Sunarto ketika menjadi narasumber pada acara seminar tentang mafia tanah yang digelar Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 2018 lalu. Foto: Youtube

Oleh: Sudjarwo*

Subuh, Sabtu, 12 Juni 2021. Selesai menunaikan kuwajiban keilahian, saya terbersit untuk membuka media sosial. Betapa terkejutnya saya ketika membaca berita dari seorang mantan pimpinan dan sekaligus sahabat; mengabarkan bahwa beberapa saat lalu sahabat saya Prof.Sunarto — biasa saya panggil Pak Narto –sudah mendahului. Padahal, beberapa hari yang lalu kiriman guyonan saya masih dibalas beliau.

Usia kami terpaut tiga tahun, saya lebih tua. Namun, jarak usia itu tidak tampak manakala kami sedang gojekan khas Jawa Banyumasan. Kami berdua dalam berkomunikasi lewat gawai tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia, tetapi Bahasa Jawa Ngapak khas Banyumasan. Bahkan kami berdua punya rencana untuk membangun komunitas WA Banyumasan. Sekalipun kami berdua bukan berasal dari Keresidenan Banyumas; akan tetapi dalam rangka nguri uri (melestarikan) budaya kami bertekad untuk membuat kelompok itu.

Beliau selalu mendiskusikan dengan cara bahasa ngapak, saat beliau ditunjuk untuk menjadi Takmir Masjid, beliau minta pendapat saya. Saya katakan kepada beliau bahwa orang yang mengurus rumah Allah itu nanti akan dibuatkan rumah terindah di alam akhir. Beliau menjawab khas ngapak,“Rika apa inyong sing disik ya Kang?” (Kamu atau saya yang duluan meninggal ya bang?). Saya menjawab “Sapa-sapa sing urip mesti ngalami mati, perkara sapa sing disik kuwi Gusti Alloh sing ngatur… “ (Yang hidup pastin akan mati, masalah siapa yang lebih dulu itu sudah diatur Tuhan). Dialog-dialog begini adalah khas beliau.

Begitu juga saat beliau saya guyoni kalau Profesor tidak dapat gaji ke tigabelas. Beliau menjawab, “Sapa sing ngomong arep nyong gawakna muntu.” (Siapa yang bilang nanti saya bawakan ulekan).  Muntu adalah batu ulekan sambal yang khas pasangan dari layah; dan itu khas Banyumas.

Mas Narto (tengah) saat hadir di kediaman Asrian Hendicaya di Way Hui pada acara syukuran Mas Wahyu Sasongko mendapatkan gelar Profesor dari Unila.

Sekalipun Prof.Sunarto bleter (ramah: dalam Bahasa Banyumas), tetapi beliau tidak suka berbicara saru (porno). Bahkan pernah beliau mengeluh saat mendapatkan WA yang agak kurang sopan dari teman, beliau menulis begini: ”Kang kancane dewek kae kapan marine ya, kok gemblung ora rampung rampung” (Bang, kawan kita itu kapan sembuhnya, gila kok tidak sembuh-sembuh).

Sekalipun kami beda fakultas, beda keahlian, beda usia; tetapi kesamaan atmosfer budaya membuat medan fiducary kami dalam berinteraksi semakin menebal. Saat kami berdua beda pilihan dalam satu memen harus memilih, beliau pamit dengan khasnya,“Kang, inyong pamit ora bareng rika, inyong arep melu kana merga inyong kepotangan budi, aja dadi atimu ya” (Bang, saya minta izin tidak bersama kamu, saya mau ikut sana karena saya punya utang budi, jangan marah ya).

Sikap demokratis yang beliau tampilkan dan keluhuran budi menghormati orang yang lebih tua, membuat saya sangat kagum dengan kepribadian beliau. Oleh karena itu, sekalipun kami beda sikap dan pilihan dalam sesuatu peristiwa, kami tidak putus silaturahmi. Bahkan sering menjadi bahan guyonan kami berdua kalau jumpa dengan khas menggunakan bahasa ngapak.

Prof.Sunarto tidak pernah mau melupakan jasa orang, bahkan beliau pernah mengatakan bahwa kesuksesan yang beliau petik adalah berkat bantuan orang-orang baik di dekatnya. Prof.Sunarto adalah tipe manusia setia dan terus terang, terlepas apa kata orang akan keterusterangannya; itu soal lain.

Guyonan yang selalu terngiang kalau beliau membahas wayang; dengan gagah beliau berucap khas dalam dialek Banyumasan, “Pokok kiye inyong wis puas bisa nanggap wayang, berarti inyong wong Jawa asli, beda rika kang, urung sah merga durung nanggap wayang” (Pokoknya saya sekarang sudah puas bisa menggelar wayang, berarti saya orang Jawa asli. Beda dengan kamu bang, belum sah jadi orang Jawa karena belum bisa menggelar wayang).

Masih banyak kalau mau diteruskan, tetapi pelupuk mata saya tidak kuat menahan air yang terus mengalir. Selamat jalan sahabat, pandongaku kanggo rika, mugi mugi Alloh njembarke kubure, madangke dalane rika, suwarga loka panggonane rika.

Sing Urip Bakal Mati, Sing Lunga Bakal Bali (Yang hidup akan meninggal, yang pergi akan pulang). Itu kalimat yang pernah beliau tuliskan pada WA saya. Sugeng tindak Pak Narto….

*Guru Besar FKIP Unila

  • Bagikan