Psikologi Massa Sepak Bola

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Negeri ini sedang prihatin, karena gara-gara benda bulat terbuat dari kulit sintetis bernama bola ratusan nyawa melayang sia-sia. Negeri dongeng sekalipun tidak pernah ada penulis yang mensekenariokan tulisannya untuk mematikan orang gara-gara benda bulat ini. Pada umumnya banyak di antara kita hanya mengemukakan keprihatinan, menyesalkan, mengutuk, kemudian melupakan. Bahkan organisasi besar yang mengurusi persoalan ini tidak banyak melakukan langkah-langkah pencegahan. Apalagi untuk membuat kajian ilmiah guna meneliti fenomena ini , kemudian memberikan rekomendasi. Padahal organisasi itu jumlah pengurusnya lebih banyak dibandingkan dengan jumlah klub yang diurusnya.

Mari kita menelisik ke belakang perjalanan panjang persepakbolaan kita. Setidaknya dalam catatan sejarah sejak tahun 1950-an sampai sekarang sudah berapa banyak insiden yang disebabkan oleh benda yang bernama bola ini. Demikian juga semenjak berdirinya organisasi yang mengurus masalah ini sampai sekarang, sudah berapa kali insiden terjadi. Rasanya referensi untuk melakukan kajian ilmiah sudah cukup banyak tersedia. Bicara soal ahli tentang persepakbolaan lebih banyak lagi. Dari ahli ngomel, ahli menyalahkan, ahli mencari kambing hitam, sampai ahli ilmiah yang bergelar tertinggi secara akademik tersedia banyak. Tinggal maukah kita melakukan kajian ilmiah bersama untuk melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang mendesak untuk dicarikan jalan keluar.
Namun,  ada persoalan lain yang terkadang kita tidak mau jujur untuk bicara satu ini; yaitu kepentingan Bisnis, biasanya kita malu malu kucing untuk membicarakan ini secara terbuka, namun manakala ada amplop berisi cuan, penerimanya menjadi sumringah, terlepas apa itu diperoleh dari yang haram atau halal. Baginya semua diberi label makruh.

Tulisan ini ingin melihat dari dua sisi yaitu jangka menengah dan jangka panjang; kita tidak membicarakan jangka pendek, karena semua kita paling pandai menyelesaikan persoalan untuk sesaat kemudian kita anggap selesai. Andaikata itu terulang, kita sepakat bahwa itu sudah bukan masa kita. Sikap pragmatis seperti ini bukan hanya di dunia persepakbolaan, tetapi hampir semua lini kehidupan ini mewabah di negeri ini.

Untuk jangka menengah organisasi yang mengurus persepakbolaan harus melakukan “pemetaan suporter”. Sebagai contoh, jika klub yang berkarakter sama atau relatif sama, jika mereka melakukan pertandingan tidak dilaksanakan di “tanah air” mereka. Pertandingan harus  dilaksanakan di tempat lain yang relatif netral. Bahkan jika perlu dilakukan di luar pulau markas mereka. Dengan begitu, hanya para maniak saja yang akan nekat untuk datang melihat pertandingan. Tentu ini bisa diantisipasi lebih jauh oleh panitia pelaksana.

Pemetaan seperti ini memang menjadikan biaya mahal untuk penyelenggaraan suatu even; namun paling tidak bisa menekan peluang untuk terjadinya insiden yang memakan korban sia sia. Cara ini paling tidak bisa mencegah terjadinya mereka mereka yang hanya “modal nekat” untuk hadir sebagai suporter; jadi tidak perlu lagi ada Kereta Api Luar Biasa pengangkut perusuh, karena keberlangsungan pertandingan jauh dalam jangkauan. Namun jika langkah ini dilakukan masih saja terjadi, pertanyaannya “apakah kita harus melakukan pertandingan sepak bola antar klup dilaksankan di luar planet bumi”. Tentu jawabannya ada di pemikiran kita semua sebagai bangsa.

Jangka panjang, untuk yang satu ini saya sependapat dengan jalan pemikiran Ferdi Gunsan yang mempersiapakan generasi ini untuk bersikap sportif melalui pendidikan. Namun, ada catatan panjang yang perlu dinalarkan bahwa pendidikan formal saja tidak cukup. Justru andil pendidikan informal menjadi begitu besar. Sikap orang tua yang tidak mau melihat anaknya gagal, kemudian berbuat apa saja untuk kesuksesan anaknya, sekalipun jalan itu tidak halal, tetap dilakukan; maka sikap sikap begini menjadi virus yang membiak ke mana- mana, termasuk pembenaran yang dilakukan oleh pelaksana pendidikan formal. Korbannya sudah cukup banyak. Kita lihat di dunia pendidikan formal, dari mahasiswa pemalsu tandatangan, sampai pimpinan perguruan tinggi yang ditangkap lembaga antirasuah. Semua itu bentuk besar dari bertriwikramanya virus ketidak seportifan yang hidup pada lembaga pendidikan informal.

Kajian singkat ini tentu tidak koprehensif  karena keterbatasan referensi yang penulis miliki.. Namun ,paling tidak memberikan satu kunang-kunang ditengah kegelapan malam. Itu lebih bermakna dari pada obor besar di tengah terik matahari.

Selamat ngopi sore….