Beranda Teras Berita Psikologi Puasa

Psikologi Puasa

250
BERBAGI

Siti Nuzulia

RAMADAN datang menawarkan berjuta makna, pesona, serta harapan untuk kembali menjadi fitri. Namun tak semua orang bisa menangkap makna dan menikmati pesonanya. Apalagi mencapai tujuan akhir, kembali ke fitrah, menjadi yang terlahir kembali.

Perjuangan berat harus dilampaui. Tak sekadar menahan haus dan lapar, tantangan terberat justru pengendalian diri (untuk mencapai self-improvement) yang merupakan kunci keberhasilan mencapai tujuan saum ramadan.

Ibarat mobil yang penuh lumpur setelah perjalanan panjang, puasa ramadan adalah saat mobil harus dicuci dan diservis ulang. Setelah hampir setahun bergelimang dengan urusan duniawi, kita diberi waktu sebulan penuh untuk instrospeksi, belajar mengendalikan emosi, dan menata ulang diri.

Diungkap oleh Zillman (dalam teori emosi), bila seseorang sedang berada dalam kondisi tidak bisa mengendalikan diri, akan terjadi “pembajakan emosi”. Tubuh akan dikuasai oleh emosi hebat, sehingga sedikit saja distimulasi muncul emosi berikutnya dengan intensitas yang makin tinggi (baca: emosi negatif).

Dalam rangkaian ini, pikiran atau persepsi yang dapat memicu emosi berikutnya merupakan pemicu minor yang mengakibatkan terjadinya peningkatan katekolamin yang dibangkitkan oleh amigdala dalam otak, dan masing-masing berdasarkan peningkatan hormon yang muncul sebelumnya.

Peningkatan kedua muncul sebelum yang pertama mereda, dan yang ketiga menumpuk di atasnya, demikian seterusnya. Tiap-tiap gelombang menumpuk di ujung gelombang sebelumnya yang dengan cepat menambah kadar perangsangan fisiologis tubuh. Gelombang emosi negatif akan terus bersambung dan rangkaian panjang ini memicu intensitas emosi yang lebih hebat dari pada emosi pada awal rangkaian. Pada saat itu, emosi sulit dikendalikan oleh nalar, dan dengan mudah meletus menjadi tindak kekerasan. Emosi negatif akan hilang ketika rangkaian panjang gelombang mereda dan terputus.

Emosi yang kuat akan mengacaukan ingatan kerja seseorang (mengingat dan berpikir). Jika emosi negatif berlangsung terus-menerus, kemungkinan akan timbul cacat pada kemampuan intelektual dan melemahkan kemampuan belajar seseorang. Di samping itu, orang yang terus-menerus dilanda emosi negatif berisiko dua kali lipat terserang penyakit, termasuk asma, artritis, sakit kepala, tukak lambung, dan penyakit jantung.

Emosi negatif yang berlangsung terus-menerus juga berhubungan dengan sistem kekebalan melalui pengaruh hormon yang dilepaskan apabila seseorang mengalami stres. Katekolamain (adrenalin dan noradrenalin), kortisol, prolaktin, serta betaendorfin dan enkefalin semuanya dilepaskan ketika terjadi rangsangan emosi negatif. Masing-masing mempunyai pengaruh kuat terhadap kekebalan dan stres menekan perlawanan sistem kekebalan.

Memutus Rangkaian
Puasa ramadan merupakan sebuah upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif tersebut. Setelah hampir sebelas bulan otak kita penuh dengan gelombang emosi negatif yang sangat panjang,

Ramadan datang dan berperan sebagai pereda, memotong gelombang emosi negatif yang meracuni otak kita. Syarat Ramadan, yang penuh taburan pahala dan pengampunan dosa, dengan menahan diri dari nafsu manusia dan memperbanyak ibadah, membuat kita berlomba-lomba melakukan ritual keagamaan dengan kuantitas dan kualitas yang makin meningkat. Kegiatan ritual serta upaya pengendalian diri berperan penting dalam “mengadu pikiran-pikiran yang memicu lonjakan emosi negatif”.

Dengan begitu gelombang emosi negatif yang menumpuk di otak sedikit demi sedikit memendek sampai akhirnya menghilang. Implikasinya, ingatan kerja berjalan normal, pikiran lebih tenang, dan kondisi tubuh lebih sehat.

Selain mampu mengadu pikiran yang dapat memicu lonjakan amarah, rutinitas ritual yang semakin intensif juga melatih kedisiplinan diri. Ia menuntun manusia untuk mengatur waktu hidupnya dengan keseimbangan penuh antara kepentingan akhirat dan duniawi.

Ramadan merupakan bulan penggodokan untuk mencetak orang-orang dengan perbuatan baik. Seperti yang dikatakan oleh banyak ahli ilmu perilaku, perbuatan baik akan cenderung menetap pada diri seseorang ketika selama 21 hari dia berhasil mendisiplinkan diri melakukan perbuatan tersebut. Ramadan tidak hanya 21 hari, tapi sebulan penuh. Jika sebulan penuh kita mampu bertahan, niscaya, kita akan terlahir sebagai manusia baru.

Semoga puasa Ramadhan menjadikan peningkatan kualitas kemanusiaan kita, sehingga kita terlahir kembali dan memiliki kekuatan, ketabahan, kesabaran untuk menghadapi tantangan ke depan yang kian berat. Amin.

Siti Nuzulia, dosen Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

sumber website Universitas Negeri Semarang

Loading...