Beranda Hikmah Ramadhan Puasa Bukan Sekadar Tak Makan

Puasa Bukan Sekadar Tak Makan

391
BERBAGI
Ustaz Ali Farkhan Tsani

Oleh: Ali Farkhan Tsani*

Puasa, dalam bahasa Arab ‘shaum’ secara bahasa artinya menahan diri. Yakni menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkannya dari waktu sahur pagi sampai berbuka (Maghrib). Namun, hakikatnya puasa bukan sekadar menahan diri seperti itu. Secara lebih luas, puasa Ramadhan adalah menahan diri dari perkataan dan perbuatan sia-sia, maksiat, kotor dan mungkar.

Maka, jika ada orang lain mengajak kita berkata yang menjurus pada kemaksiatan, atau untuk menggunjing saudaranya misalnya, apalagi membuat fitnah, mengirim informasi hoaks (bathil), menyebar ujaran kebencian (hate speech), hujatan, dan sebagainya.

Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan untuk kita agar mengatakan, “Innii shooimuun, innii shooimuu….” (Sesungguhnya saya sedang berpuasa, sesungguhnya saya sedang berpuasa). Jika ada ajakan berbuat dosa dan pelanggaran syariat agama Islam.

Sebab, jika perbuatan dosa itu tetap saja dilakukan dengan penuh kesadaran dan terus-menerus tanpa merasa berdosa, akan menjadi sia-sialah ibadah puasanya. Allah pun tidak perlu dengan model orang yang berpuasa seperti itu.

Ini seperti disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah terhadap meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)”. (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Pada hadits lain Rasulullah SAW memperingatkan, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah memperoleh apa-apa baginya dari puasanya selain lapar, dan betapa banyak orang yang mendirikan shalat, tidaklah memperoleh apa-apa baginya dari shalatnya kecuali lelah”. (HR Ad-Darimi dari Abu Hurairah).

Untuk itu, marilah di sisa-sisa hari puasa Ramadhan ini, kita perketat penjagaan pribadi kita dari perkataan dan perbuatan dosa, yang hanya akan merusak nilai ibadah puasa Ramadhan kita.

Jika ini bisa kita lakukan, puasa dengan penuh keimanan dan kesadaran (ihtisaban), insya-Allah dari ibadah puasa Ramadhan ini dapat menjadikan penghapus dosa-dosa kita yang lalu.
Seperti disampaikan baginda Nabi SAW, ”Barangsiapa puasa Ramadhan dan mengetahui segala batas-batasnya, serta memelihara diri dari segala yang baik dipelihara diri darinya, niscaya puasanya itu menutupi dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Ahmad dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id).

Juga hadits lainnya,“Barangsiapa berpuasa karena imannya (kepada Allah) dan hanya mengharapkan (ridha-Nya), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR Bukhari dari Abu Hurairah ).

Semoga kita dapat mengamalkannya. Aamiin yaa Rabb

* Direktur Ma’had Tahfidz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation)

Loading...