Beranda News Budaya Puis-Puisi untuk Aceh Karya Tengsoe Tjahjono

Puis-Puisi untuk Aceh Karya Tengsoe Tjahjono

198
BERBAGI
Madjid Raya Banda Aceh saat tsunami 2004. (Foto: dok atjehpost.co)



BARU SETENGAH JAM LALU, ISTRIKU

Baru setengah jam lalu sayap-sayap ombak berkepak di sepanjang cakrawala
Dan kita nikmati kilau perahu disepuh matahari. Lihat, anak-anak kita
berteriak ‘Mama, kan kubangun istana untukmu’ sembari menata pasir menjadi
gundukan-gundukan surga dalam diri mereka

Baru setengah jam lalu kita rekam peristiwa demi peristiwa sepanjang pantai
ini sambil sesekali berceloteh, ‘Ini rekaman terakhir, siapa tahu badai
menjemput ajal kita, dan mengirimkannya ke bumi asing’. Aku cuma tertawa, juga
anak-anak, mama memang suka bercanda, kata mereka

Baru setengah jam lalu kita kumpulkan rumah-rumah kerang dan bebatuan.
‘Tuhan sungguh Mahabesar’ katamu ketika kau pandangi tekstur batu, rumah
kerang, karang, juga nyiur yang menepi di sisi pantai. ‘Ya, mama.Ya, mama’
jawab anak-anak kita.

Baru setengah jam lalu kau berbisik ‘Aku ingin rumah di tepi pantai. Agar
setiap pagi bisa kulihat perak matahari muncul dari kaki langit jauh dan debur
ombak menghidupi segenap detak jantung. Akan kususuri milyar pasir agar
kurasakan pijatannya yang mesra. Aku ingin rumah di tepi pantai kerna
kesederhanaan nelayan ialah potret hidup yang mesti dipelajari.’

Baru setengah jam lalu anak-anak kita bertanya ‘Papa, nelayan-nelayan itu
tidakkah takut pada gelombang?’ Kau pun menjawab, ‘Tidak anakku. Gelombang
selalu cinta kepada kita.’ Lalu mereka pun berteriak ‘Hore, hore. Kita bersuka.
Mari bersuka.’ Sambil berlari-lari di antara pasir, air laut, dan percik ombak
yang mencium bibir pesisir.

Baru setengah jam lalu kau berucap Allah Akbar, Allah Maha Besar, kekasih
Tetapi gemuruh itu, gelombang setinggi nyiur itu, bergulung-gulung dalam
hitungan detik. Aku pun timbul tenggelam di antara batang-batang kelapa,
tiang-tiang layar, kapal, atap-atap rumah, dinding papan, orang-orang, sampah,
jeritan, teriakan, terlempar antara hidup-mati, tersangkut di cabang-cabang
pohon jambu. Lalu senyap.

Mataku nanar mencarimu, istriku, mencari anak-anak kita. Yang tersisa cuma
kota yang porak-poranda. Bangkai mobil, bangkai rumah, bangkai pepohonan,
bangkai binatang, bangkai manusia menjadi panorama kelabu di antara langit
gelap dan pengap. Dalam hitungan detik, kekasih, aku telah kehilangan dirimu,
anak-anak kita, kehilangan masa depan yang pernah kita mimpikan bersama.

Kau sungguh berumah dalam gelombang. Anak-anak sungguh berbilik gundukan
pasir. Aku terperangkap dalam lumpur, dalam jiwa hancur. Dan Tuhan, masihkah
ada ujian lagi yang mesti kuselesaikan tatkala tubuh telah remuk sebab Kasih-Mu.

                                                                         akhir tahun 20014

NYANYIAN BADAI 

/1/
Laut kemarin tiba-tiba tak kamu temukan. Ikan-udang
di rumah karang merenggut kesadaran sebelum terjaring
udara lumpur

jeritan dan gelombang berlomba
mendaki jantung. Sampah dan jenasah bermunculan
antara putus asa dan harapan
lalu dipamerkan di etalase-etalase televisi
air mata pun dituangkan ke dalam gelas
di tiap meja makan

Siapa mereguk?
Nuranikah ia yang senyatanya telah terpangkas
sepanjang sejarah
pelor dan pemerkosaan
teror dan penculikan
sekonyong jadi lembut lahirkan Cinta
samar

maafkan bila aku gamang percaya
kerna sakit menahun mendidikku jadi pencemburu

/2/
Ini kiriman yang kuterima dalam onggokan batang-batang iga
cakrawala belatung bergulung-gulung dalam gemuruh sedetik cuma
Lalu pandanglah tubuh-tubuh lunglai bertumpuk di gang-gang menuju
surgaMu

Ini kiriman yang kuterima saat matahari bersinar begitu sempurna
tanpa tanda jelaga, juga garis tangan, jarum jam yang ke kiri berputar
Lalu ribuan keranda terbanting-banting di gelap air menyesaki got-got,
lapangan rumput, perut ikan, ular, lempengan-lempengan mimpi

Ini kiriman ya Allah, kirimanMu di Ahad yang fana
saat tangan anak-anakku melukis wajahMu di pesisir: Allah Akbar
ketika istriku menikmati ganggang dan gelombang dengan takjubnya
: Allah Akbar!

Ini kiriman, nyanyian badai bergemuruh di panggung tanpa layar
dan suara ini tentu saja sumbang saat bergabung dalam orkestra
hanya tangis mengisi ruang sunyi pada detik-detik
yang entah sampai kapan jadi punyaku

Ini kiriman, parsel tanpa pita
yang kudekap dalam geletar jemari

/3/
Ohoi, masa depan
terapung-apung di laut tanpa dermaga. Bumiku hanya
menyisakan catatan-catatan kelam di dinding rumah yang roboh
di mesjid tanpa menara

tangan tlah beku direndam nyanyian badaiMu
kaki tlah membusuk dipaku nyanyian badaiMu
mata tlah mengabur dirajam nyanyian badaiMu
tersungkur pada kaki langit jauh
tanpa pepohonan dan burung-burung

Ohoi, masa depan
Ohoi, jawabnya. Perahu terus melaju

/4/
Sepasang merpati menanamkan melati
di hati
: Terima dan pupuklah, esok akan kutagih
  wanginya yang abadi

lalu kupintal dzikir
sambil kuingat gelombang yang
memporakporandakan kata-kata

ya, debu aku di kelingkingMu

                                       Malang, awal tahun 2005

KWATREN KELABU 1 

Tuhan, bukankah ini hanya mimpi
saat Kaujaring istri dan anak-anakku dengan tsunami
lalu masa depan Kaubaringkan di rimba gelap
jalan-jalan lumpur, matahari berdinding senyap

KWATREN KELABU 2

Tuhan, ajari aku bersyukur
Bukan karena badai atau pulauku yang tenggelam
Oleh amuk-Mu
Hanya senyatanya aku cuma debu di kelingking-Mu

KWATREN KELABU 3

Badai itu mengirimkan rencana-rencana yang
Tak kupahami maknanya
Kecuali luka, dan sejarah
Yang bermula dari titik nadir ini