Beranda Seni Puisi Puisi Ahmad Yulden Erwin

Puisi Ahmad Yulden Erwin

1366
BERBAGI
PERAWI REMPAH
1
Minggu 
pagi  menggigil  di sayap  burung  undan, seperti ratusan
minggu pagi 
lainnya, menyusun  sesatu  kenangan. Kau mencari
beberapa  onggok
pulau  di  Timur dengan wangi  cengkih  tertiup
angin  muson,
dan  kelasi itu  berteriak,  ‘Surga telah  ditemukan!’
Ketika itu  di
anjungan, kau  nampak berdiri menatap  selengkung
ombak biru,
setapak  jejak  sepatu mengutuk layar  kapalmu;  kini
kaubayangkan
putri duyung  berbau  pala  di  ranjang  kabut
pagi,
kaubayangkan 
lidah jahe  menjilat  ususmu.  Saat  itu angin mati,
separuh 
kelasi  lapar  dihajar  kudis.  ‘Bunuh saja aku!’ gerutumu.
Lalu  
kaukenang  janjimu, atau  mimpi  buruk itu: 
berkarung  lada
dan kapulaga bagi
tumbung gurita raksasa saat  kembali, delapan
tentakelnya  
membelit  sepeti  koin  emas, tentu  saja bajingan
itu 
keranjingan
menuntut  balas andai tiada kautebus  amis mulutnya
dengan 
kayu  manis, plus bebiji lada, dari  ladang rahasia. Maka,
demi berkah Yesua,
kauburu rempah sepanjang bandar antik dan
teluk 
Afrika:  ‘Meski  badai  mendampar  kami  ke tengah
pasifik.’
‘Surga 
telah  dihamparkan!’  kelasi itu  kembali  berteriak, ombak
mencium wangi 
tangkai  cengkih  di puting  pelangi. Kau  terjaga.
Bagai tak
percaya  kaugosok  kedua  matamu  di bawah alis pagi:
Yesua telah 
berbaring nudis di pantai sunyi. ‘Haleluya!’ Alangkah
bahagia: kau 
tengah menapak di pasir  pantainya. Tentulah wajar
bila  kaupungut 
bebulir hitam  terserak di sana, surga akan selalu
berlimpah.
Pantaslah  tamak-tamak  kauisi palka kapalmu dengan
bebiji 
rempah.  Beginilah  hikayat  Nusa Moloku  sebelum dijarah.
2
Sesayat mimpi 
bersama  irisan daging kering, kutu dan belatung
pasti 
lebih  dulu menyantapnya, begitu  sarapan bagi para kelasi
hingga  makan
siang  dan  makan malam mereka; sesayat mimpi
demi 
setimbun  rempah  eksotis  di pulau  tropika. Mereka bukan
awak perompak 
Selat  Malaka, mereka  lanun  penggila  misteri,
juru selamat 
kaum kafir  dari ketel neraka.  Tiada gentar mereka,
sebab wahyu 
telah  mekar di ladang  nyali  musim  dingin Eropa,
sebab tukak dihangati
lada, sebab  tafsir tertera dalam sabdanya:
Setiap sebiji rempah
kaurampas di tanah ini akan menjelma doa,
sebab  misi 
sempurna, resah  tiada, kaulah wakil kerajaan Bapa.
Di  pantai
itu  kau berdoa:  ‘Undanglah kami, O Yesua,  mencicipi
lezatnya gurita, 
beraroma rempah, semeja-hidang  Ratu Sheba.’
Fakta cogito akhirnya,
bukanlah Yesua undang kalian, melainkan
diseret 
tentara  Sultan:  ‘Kalian  babi  bulai pencuri  pala
petani!’
Randai beriring 
mereka  digiring  ke halaman  istana; menanting
aneka 
piring,  panci,  kuali dan peralatan makan lainnya –– juga
kompas 
juru  peta,  juga  Kidung  Cinta Salomo  penakluk
dunia: 
kuasa gaharu  di
hidung  surga.  ‘Kenapa Tuan Nakhoda  curi itu
bebiji 
pala?’  murka  Sultan Boalief.  ‘Sebab  di sini tanah
Yesua,
segala bole 
dipungut  seturut  kami suka,’ singut Tuan Nakhoda,
sejenak 
kecut,  ditatapnya  merah  jambul   kasuari di
pici Sultan
dandan Persia. 
‘Di Nusa Tarnate  orang  bole  ambil segala suka,
andailah 
bisa  Tuan  ganti  kami  punya!’  Ciutlah 
nyali  nakhoda,
bekal segala habis di
Sunda Kelapa, hanya jubah lusuh dan zirah
besi miliknya semata.
Cemas oleh gagal akan misinya, pias akan
cekik delapan 
tentakel gurita, ia letakkan sarung  belati dan kitab
suci di  duli
kaki  sultan Tarnate,  ‘Habis  kini  harta  tersisa.’
Haru
sebab  siasah
begini, setengah tertawa, sultan berbagi jatah pala.
3
Mereka 
membangun  benteng  kecil  di  tengah 
padang   ilalang,
sebelum  kaum
kafir  itu  mengayunkan  pedang,  sebelum 
tarian 
bumbung hantu dikepung
tabun perang. Cuaca melesit langit biru
jadi kelabu, disorot gahar 
sebiji mata kucing lapar. Dagumu naik,
sedikit bergetar,
lekas  meracau  kalimat  jemu, ‘Salju tak laik ada
di lekang pulau
tropika.’  Kecuali  batu dan  kepulan debu, musim
kemarau menyulut pasukan
Tidore  membakar  benteng  kecilmu,
melampuskan 
segenap harapmu; begitulah kauputuskan segera
menikahi gadis 
coklat itu, pentil  sepasang teteknya berbau pala.
Jadi, diam-diam 
kautakik   tradisi  membenci, melawan nasibmu
sembari berburu babi,
begitu  jelas taktik  paling minim, sebelum
fajar kaukirim sepucuk
surat itu, sebelum  datang  penjarah baru
melocok  senapan
dengan mesiu. Terayun  dari  moncong buaya
ke taring singa,
begini nasibmu terbantun dikutuk aroma rempah
serupa kemaruk busuk
mulut gurita. Tiada Yesua di pantai surga,
tiada Bapa,
kecuali  sepasang  beruk  keling memanjat sebatang
pohon cockyane tumbuh
subur di ranah mimpimu, mereka kawin
dan berpinak di sana,
merekalah moyang segala penjarah terkeji 
di  muka 
bumi,  pelahir  jadah-jadah  sinting  sejarah, penghasut
jenial
cacing-cacing  pita  penafsir vagina-kedamaian paling suci.
‘Jadi begini 
saat  paling  tepat buat pembalasan, bukan?’ Begitu
kaucatat 
dalam  suratmu  ke Lisbon, usai  perjanjian  paling oon 
membelah bumi semata
milik dua kerajaan –– seekor paus putih
resmi melontarkan
restu  dari moncongnya menganga kelaparan
melahap aneka plankton
dan ubur-ubur, plus ganggang beracun.
Teritip di lambung
kapalmu makin mengganas, kau tak berharap
bisa kembali,
jadi  kauputuskan  wajib menjarah dan membantai
sepulau 
penduduk  surga ini, meski Yesua mesti disalib dua kali. 
Catatan:
1. Cogito: aku
berpikir; prinsip filsafat Descartes. 
2. Bole: boleh.
3. Oon: dungu.
4. Gahar: garang.

KITAB BAKTERI 
Hei, manusia, tanpa 
bakteri: engkau
                   
hanyalah atom, buih api yang terkunci
di balon semesta. Tanpa bakteri:
kita
               
cuma  karbon, tanah hitam  tempat naga
hitam menetaskan telur hitamnya.
               
Beberapa bakteri  adalah anarkhis sejati,
mereka muak dengan episteme kursi,
             
benci sapu kotor, mereka asyik main band
di serpihan meteor, di
sanalah  Manu
              
memandikan testisnya  dengan  air mata.
Sebagian bakteri itu aktivis
ultra kiri,
              
jadi patogen, namun tergesa menginfeksi
mimpi-mimpi  antitesa  di usus
matahari.
                  
Beberapa bakteri bagai mistikus bulan,
dengan flagela menari di danau air mata,
             
mendadak jadi parasit di tumit pemujanya.
Tapi, ada banyak juga bakteri
liberal,
             
gagal menyangkal asumsi di bibir siluman:
memakan atau dimakan, itu bukan
Tuhan.
               
Seluruh bakteri telah usai membelah diri.
Tibalah  waktunya 
trans-hagemoni.  Kini,
                
setiap bakteri cuma the game of binary.
Tugas bakteri bukan lagi
berpikir, bukan
                
menafsir.  Bakteri  itulah  kitab  terakhir.
Bakteri itu  mata yang
melihat  segalanya.
            
    Bakteri itulah testamen yang menjelma.
O, Putra, bakteri itukah CIA di
tubuh kita?
RUMAH PARA PENCURI
Akan kulompati pagar
samping rumahmu.
                    
Ada bangku api di teras hening rumahmu,
dua kaktus hangus di
tengah ruang tamu,
                    
satu  pintu  bagi  jalan  pelarianku.  Tentu,
telah kuhafal kerling
sudut kamarmu: aku
                    
bayang yang menyaru sebagai kucingmu.
Aku tahu, ada peta
harta lelah meringkuk
                     
di laci mejamu. 500 tahun lalu pencuri itu
mengurungnya di sana.
Kini, aku tak sudi
                  
menunggu lagi. Aku cuma siput yang telah
beringsut dari
cangkangnya. Aku tak akan
                  
mencari rumah kerang yang lain. Rencana
telah mumpuni: gelap
tak bisa lagi menjaga
                 
laci mejamu, embun tak mungkin menyapa
teras rumahmu; segenap
pagi  telah kucuri. 
                
Laci meja itu pelan-pelan mendengar suara
dongkelan pintu.
Pencuri itu melangkah santai
                
ke kamar tidurmu, membuka satu laci meja,
dan mencuri 
sendiri  riwayat  hidupnya.
                 
Apa kau lupa: 500 tahun lalu, telah
mereka       
curi sejarah
bangsanya? Apa kita lupa?
Loading...