Beranda Seni Sastra Puisi Bukanlah Sajak

Puisi Bukanlah Sajak

184
BERBAGI

Ahmad Yulden Erwin

Kata kerja dalam bahasa Yunani untuk “puisi” adalah “ποιεω” (poio = saya mencipta), telah memunculkan tiga kata yang khusus: ποιητης (poiets = orang yang menciptakan), ποιησις (poesis = tindakan penciptaan) dan ποιημα (poema = hal yang diciptakan). Dari sini muncullah tiga kata dalam bahasa Inggris: poet (pencipta), poesy (penciptaan), dan poem (yang dicipta).

Mungkin unsur yang paling penting dalam puisi adalah irama (gita-puitik). Seringkali gita-puitik dalam puisi, terutama puisi klasik, pada setiap lariknya diatur dalam metrum tertentu. Berbagai jenis metrum memainkan peran kunci dalam puisi klasik pada abad pertengahan di Eropa, pula puisi-puisi di Arab dan China, hingga puisi modern. Terkait soal gita-puitik dalam puisi modern pada awal abad ke-20, yang lebih dikenal dengan istilah “puisi-bebas”, penggunaan metrum sering disusun dalam unit yang lebih longgar dan tidak ketat seperti pada puisi klasik.

Masih terkait soal gita-puitik, puisi-puisi dalam bahasa Inggris dan bahasa Eropa modern lainnya sering menggunakan “sajak” atau “rima” sebagai unsur pembentuk gita-puitiknya. Sajak atau rima pada akhir larik adalah dasar dari sejumlah bentuk puisi seperti balada, soneta, dan kuplet berirama. Namun, penggunaan sajak tidaklah universal. Banyak puisi modern, misalnya, menghindari skema persajakan tradisional. Pada puisi-puisi klasik Yunani dan Latin, sajak atau rima akhir larik tidak digunakan. Bahkan, sajak tidak masuk sebagai bentuk puisi Eropa sama sekali hingga abad pertengahan, ketika diadopsi dari puisi klasik Arab.

Orang-orang Arab memang selalu menggunakan sajak secara luas di dalam karya sastranya, terutama dalam puisi yang berbentuk qasidah. Dalam hal ini, bentuk persajakan pantun pada puisi lama yang berbahasa Melayu, jelas dipengaruhi oleh persajakan qasidah dalam puisi-puisi Arab. Pada puisi-puisi Jerman awal, faktor paling penting yang membentuk gita-puitik adalah aliterasi atau pengulangan “bunyi” konsonan (bukan pengulangan huruf konsonan) dalam larik puisi. Sedangkan pada puisi klasik yang berbahasa Ibrani atau Hebrew kuno, gita-puitik dibangun oleh penggunaan paralelisme (repetisi kata).

Lalu, pertanyaannya: “Apakah puisi itu?” Lebih khusus lagi: “Apakah puisi modern atau puisi kontemporer itu?”