Beranda News Budaya PUISI: ENDANG SUPRIYADI

PUISI: ENDANG SUPRIYADI

453
BERBAGI
Shadow of No Towers (canadianart)
RASA PIZZA
YANG TERPISAH
 di depan
gedung aquity tower, penuh langkah
yang bergegas.
dua bayangan gedung,
melengkung
seperti alis matamu yang hitam
di sebuah meja
yang bersebelahan dengan
 dinding kaca, menyuguhi hidangan ala amerika
dengan suhu
sehangat popok bayi yang dijemur
rasa pizza
yang terpisah dari jiwa, jangan
sampai
melegenda ke anak cucu kita. lidah mereka
tak boleh lupa
akan sejarah botok, tumis kangkung,
sambal petis,
oncom, ketela yang dikukus
kita mengepung
meja di beranda siang yang
gaduh. menu
asing yang terhidang di meja,
seperti topik
aktual yang harus dibahas dengan
pikiran cerdas
namun
sebenarnya hati kita tak ada di situ,
entah
tersangkut dimana. juga tuhan entah
berada di
sebelah mana ketika kita lupa berdoa?
orang-orang
terus berteriak-teriak, soal
air meneral,
menu yang ditambah. dengan mulut
 yang penuh, 
lupa bercermin. sedang pisau dan garpu
bergemerincing
di atas piring, membentuk
simfoni tanpa
jiwa
orang-orang
terus bergerak seperti ombak yang
bergulung-gulung.
mencari tepian dunia di atas meja
kita masih
tetap dengan menu yang sama, asing
di lidah,
asing di hati. sedang hati kita adalah sajadah,
bukan meja
yang menghidangi karut marut dunia!
dalam bising,
ada yang tercuri dari matamu, yaitu
kedamaian.
sebuah ruang yang teduh telah
disusupi
suara-suara gaduh. ah, mungkin itu
suara hatimu
yang terlepas ke langit menjelma hujan
yang membasahi
tubuh kita.
Jakarta,
2012/2013
AKU MALU PADA
ANAKKU
seseorang
menginginkan aku selalu tertinggal
dibelakang
larinya. namun selalu saja
tangan anakku
meletakkan kembali
langkahku
dibarisan paling depan
ketika orang
itu menebang seluruh pohon
yang
melindungi diriku dari terik, lagi-lagi
tangan anakku
ada di sana menjelma payung
aku tunggu
orang itu di simpang jalan,
untuk
menyampaikan hak keberadaanku. tapi
anakku bilang,
“jangan ayah! sebab ia telah
menjelma
selimut di ruang kehidupan
bagi si
pemalas!”
Depok, 2013
KELAM
aku pasak yang
kau jadikan arang
berserak
menghitamkan genangan
mari kemari
buih lautan
di pantai aku
menganga bagai kawah
mengepulkan
uap bara ke rongga jiwa
mari kemari
angin kembara
ladangku
tumbuh ilalang
sumurku berkubang
belerang
aku tirai yang
kau jadikan tameng
koyak moyak
menahan titian.
Depok, 2013
Falling Toward Mythopoesis (Phantastes illustration)
 TERAPUNG DI
LAMPUNG
kita sudah
sampai di hutan bakau. siang nanti,
kita akan ke
anak gunung krakatau, katamu. aku
menepis debu
di bangku. duduk meragu. akankah
kita sampai ke
pantai panjang? aku rindu ombak
yang gemulai,
yang kerap melukis punggung onta!
carilah dunia
di dalam buku, saranmu dari balik
pintu. aku
masih meragu. akankah buku membuka
pintu gerbang
kegelapan untukku?
sebelum
petang, aku akan ke pematang. melihat
para petani
berkeringat sutera; punggungnya berkilau
diterpa
matahari.di situ ada ayahku, katamu. dia pelestari
adat,
sehari-hari mencangkul matahari. sayangnya,
yang ditemukan
adalah bayang dirinya sendiri!
di situ juga
ada ibuku, katamu lagi. limapuluh tahun lau,
ia sebagai
muli muda di kampungku. untuk
mendapatkannya,
kata ayah, lelaki harus berkeringat sutera
pertanda rajin
bekerja.
kalau kita
apa? kataku. kita adalah sebongkah garam
di meja
peradaban. peladang yang tak bercangkul
kita ibarat
gunung krakatau, muncul di laut
malu berlutut!
Depok,
2013/2014
CATATLAH
aku tak jadi
pergi. jembatan itu
sudah melepuh
sebelum kutempuh
akar pagi
menjerat langkahku dengan
gerimisnya.
ada serpihan janji di benakku
tapi itu sudah
kulebur saat badai bertamu
aku melihat,
orang-orang risau melihat keranda
selalu
menawarkan hari agar minggu bisa
kembali ke
sabtu, senin mengalir ke jumat
tapi siapa
yang memberi garis pada detak
di jantung
kita? catatlah
catatlah pasir
yang selalu berjaga-jaga di tepian
catatlah
pohon-pohon nyiur yang memotret
dunia dari
atas bangkai kepiting, bulan yang
merelakan
sepotong tubuhnya dimamah gerhana
para
kekasihku, catatlah
aku tak jadi
pergi. ya, air sungai sudah berbalik arah
berkubang di
kamar-kamar rumahmu. aku
membiarkan
sebuah lilin tetap menyala dari lima
yang
kumatikan. karena cahaya dari lukaku
cukup membantu
untuk melihat kegagalanmu!
Depok. 2014
   
GEJALA
mengelana ke
dasar diam,
kutemukan
selongsong peluru di mulutmu
yang tak
meledak. kalimat apa
yang tercekat
di dalam sana?
bertahun-tahun
jejak yang tercipta ini
begitu
sempoyongan. mengekor sampai
ujung dapur,
menekuk di tepi ranjang,
membusuk di
meja makan
tembang dari
segala cuaca membentuk
simfoni yang
buruk. di tiap kelokan waktu
terendus aroma
belerang, udara yang kejang
ah, di
mana-mana tumbuh ilalang!
mengelana ke
dasar diam,
sebuah laut
dan sebuah perahu
berada dalam rejam
gelombang
namun di sisi
ingatan, lahir bualan!
Depok, 2014

Endang
Supriadi,
lahir di Bogor 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen secara
otodidak sejak tahun 1983. karya-karyanya dimuat dipelbagai media cetak pusat
dan daerah seperti, Suara Karya, Republika, Merdeka, Media Indonesia, Pelita,
Berita Buana, Berita Yudha, Swadesi, Pikiran Rakyat, Nova, Lampung Post, Anita
Cemerlang, HAI, Nona, Singgalang, Majalah Sastra Kolong, Majalah Puisi Diksi,
Buletin Kreatif HP3N, Trans Sumatera, Bentara Budaya Kompas, Horison, Suara
Pembaruan, Koran Tempo, Jurnal Nasional.
Sebagai
juara I Lomba Cipta Puisi SPSI Tingkat Nasional (1992), Juara Harapan I Lomba
Cipta Puisi Hutan Eboni Tingkat Nasional (1994), Sepuluh Terbaik Lomba Cipta
Puisi Batu Beramal I (1994), Juara I Lomba Cipta Puisi Batu Beramal II (1995),
Sepuluh Terbaik Lomba Cipta Puisi Dewan Kesenian Mojokerto (1998), Nominasi
Lomba Cipta Puisi Perdamaian ‘Art and Peace’ Bali (1999), Nominasi Lomba Cipta
Puisi Borobudur Award (2000), Pemenang Lomba Cipta Puisi Seratus Tahun Bung
Hatta (2002), Pemenang Lomba Cipta Puisi Seratus Tahun Bung Karno
(2000),
Juara III Lomba Cipta Puisi Krakatau Award (2002), masuk 15 Nominasi Lomba
Cipta Puisi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, (2006).
Beberapa
puisinya terkumpul dalam antologi puisi Sembilan Penyair Menatap Publik, Batu
Beramal I dan II, Kebangkitan Nusantara I dan II, Cerita dari Hutan Bakau,
Nuansa Hijau, Getar, Sahayun, Dari Bumi Lada, Songket I, Trotoar, Mimbar
Penyair Abad 21, Kaki Langit Kata-kata, Jakarta Jangan Lagi (selipan jurnal
kolong), Antologi Puisi Indonesia (KSI 1997), Antologi Puisi Borobudur Award,
Resonansi Indonesia (antologi puisi dwibahasa Cina-Indonesia 2000), Datang dari
Masa Depan, Gelak Esai& Ombak Sajak Anno 2001, Antologi Puisi Bentara
Kompas, editor Sutardji Calzoum Bachri, Jakarta Dalam Puisi Mutakhir, Nyanyian
Integrasi Bangsa (2001) Lampung Kenangan-Antologi Puisi Krakatau Award 2002,
Antologi Puisi Malam Bulan, 2002, Konser Ujung Pulau- Lampung Art Festival
(2002), Bung Hatta dalam Puisi (2003), Bisikan Kota, Teriakan Kota, Kota Yang
Bernama dan Tak Bernama-Dewan Kesenian Jakarta, 2003,Puisi Tak Pernah Pergi
2003-Anotologi Puisi Bentara Kompas, editor Sutardji Calzoum Bachri, Narasi
dari Pesisir, antologi puisi Krakatau Award 2004, Bumi Ini Adalah Kita Jua,
Antologi Puisi Kado Buat: SBY (2005), dan Jogya 5,9 Skala Richter (2006),
Dermaga Kota Tua (puisi-puisi pesisir, bersama Slamet Rahardjo Rais, Penerbit
Perpustakaan Umum Kota Madya JAKUT, 2007), Antologi Penyair Depok, Gong Bolong
(2008), Tanah Pilih, (Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I-2008),
Kenduri Puisi (Buah Hati Untuk Diah Hadaning – 2008), Jejak Sajak (sehimpun
puisi generasi kini, 2012), Narasi Tembuni (kumpulan puisi terbaik KSI Award
2012), Antologi Sastra Nusantara, penerbit Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, 2012, dan Antologi Puisi Menolak Korupsi, Penerbit Forum Sastra
Surakarta, 2013
.

 Puisi Tunggalnya: Tontonan Dalam Jam (1996), Lumpur di Mulutmu
(2010).
Lima
buah cerpennya dijadikan skenario audiovisual untuk sinetron televisi: Lelaki itu
Bernama Oding, Sosok Bertopeng, Protes, Sumirah
dan Dendam.

Diundang
pada Temu Penyair se-Indonesia tahun 1994 dan 1996 di batu Malang, diundang
pada Temu Penyair Sumatera, Jawa dan bali oleh Dewan Kesenian Lampung th. 1996,
sebagai peserta Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki th. 1996,
sebagai peserta pada Pertemuan Sastrawan Nasional ke IX dan Pertemuan Satrawan
Indonesia di Kayutanam Sumatera Barat th. 1997, diundang pada Pertemuan Penyair
oleh Dewan Kesenian Mojokerto th. 1998, dan salah satu juri dalam Lomba Cipta
Puisi Anti Kekerasan KSI Award 2001. Sebagai perserta pada acara Sastra Kota
DKJ Th. 2003, sebagai peserta MPU ke-1 di Anyer Th. 2004, sebagai perserta MPU
ke-2 di Bali Th. 2006, dan diundang sebagai peserta Lampung Art’s Festival Th.
2007 oleh Dewan Kesenian Lampung. Salah satu Panitia Kongres Komunitas Sastra
Indonesia ke-1 Th. 2008 di Kudus, Jawa Tengah. Sebagai peserta MPU ke-3 di
Lembang-Bandung Th. 2008, sebagai peserta MPU ke-4 di Solo Th. 2009, sebagai
peserta MPU ke 7 di Yogyakarta Th. 2012, Road show pembacaan Puisi Menolak
Korupsi di Halaman Gedung DPRD Kota Tegal Th. 2013, dan pernah beberapa kali
diundang baca puisi di studio RRI Jakarta. Kini tinggal di Depok. Jawa Barat.
Alamat
email : endang_supriadi010860@yahoo.co.id, FB :endang.supriadi.7@facebook.com
Alamat
Rumah:  Jl. KH. Ridi RT003/02 No. 96,
Kel. Pondok Jaya, Kec. Cipayung – Depok 16431
Loading...