Beranda Teras Berita Puisi Esai: Konspirasi Suci*

Puisi Esai: Konspirasi Suci*

265
BERBAGI

Burhan Shiddiq

ilustrasi sampul buku

Seperti siapa pun yang pernah merasakan gelombang cinta di tengah samudera yang berkecamuk, aku tidak akan pernah karam atau bunuh diri dengan melompat ke dasar lautan atau menakbrakan tubuhku pada cadas-cadas batu yang terjal dan tajam.

Dia lelaki yang pandai berbicara dengan langit dan mendung itu selalu menyendiri memandang wajah tampannya di hening telaga di taman penuh bunga. Dia hanya ingin mengajakku merasakan nyeri, betapa nikmatnya hidup menyendiri.

Seperti siapa pun, aku ingin memilikinya meski harus  mandi di telaga air mataku sendiri. Aku tak ingin mengutuk cintaku menjadi ayat-ayat api yang membakar gereja. Aku tak ingin melaknat nenek moyangku yang tenggelam dalam derita cinta karena dikutuk Tuhan dengan hujan batu dari neraka.

Dia lelaki yang selalu mencari telaga untuk becermin itu hanya berharap cintanya  diterima, hanya berharap  mengubah anjing menjadi angsa, mengubah kerikil menjadi berlian, mengubah hina menjadi mulya. Dia berharap menjadi lelaki suci, lelaki yang ketampanannya melebihi keindahan wajah semesta yang penuh cahaya.

Saat itu aku mencoba melupakan cintaku pada lelaki suci. Saat itu, aku ingin menjadi kupu-kupu yang terbang ke sana kemari dengan bahagia tanpa peduli siapa aku sebenarnya.  Aku berdoa di keheningan taman gereja yang penuh bunga. Aku mendengar suara ulat yang berdoa, kemudian dia berubah menjadi kempompong lalu menjadi kupu-kupu.

Lelaki suci melihatku dan mencium bibir sunyiku di keheningan lonceng gereja, di bawah salib ungu saat bulan merah jambu. Kulahap segala yang masuk ke dalam bibirku termasuk ular kencana yang selalu menjulur-julurkan kepalanya di balik jubah pendeta. Dialah kekasih yang senantiasa mencintai Kristus sebagaimana dia mencintai dirinya.

Bulan turun dari langit, mengintip dari balik jendela yang bergaya victoria. Apa bulan menangis? Apa bulan tertawa?  Tidak. Dia tidak menangis atau tertawa. Dia murka saat menjadi saksi atas cinta kami yang nista.

Malam-malamku menjadi semakin penuh dosa, tapi aku semakin merapatkan gigil tubuhku ke dalam gigil tubuhnya. Meledakkan seluruh cintaku di atas dadanya. Kami punya sepasang ular kencana yang saling jatuh cinta dan senang bersenggama.

Kini setelah segalanya menjelma dosa, penyesalan menuntunku ke surga air mata. Tempat yang indah tapi membawa celaka. Aku selalu ingin kembali ke sana untuk menikmati dosa yang benar-benar indah.

Apakah setelah itu aku akan dikutuk? Apakah Tuhan akan menurunkan hujan batu dari neraka? Apa aku akan mikraj ke nirwana? Apa lelaki penebus dosa itu mau membuka pintu surga?
Saat itu ayat-ayat hujan turun  mengabarkan cintaku diterima. Akhirnya,  nista menjadi mulya, anjing menjadi angsa, kerikil menjadi berlian,  dan aku menjadi kekasih pujaannya, lelaki suci yang ketampanannya melebihi wajah semesta.

Saat itu, dia adalah cahaya yang terbit dari segala dewa, mengajakku terbang ke angkasa, memasuki surga yang di dalamnya terdapat empat air terjun yang berbeda rasa.

Sering aku bertanya pada bangku-bangku gereja, pada patung Bunda Maria, pada  patung-patung malaikat bersayap, Apa aku bahagia? Apa hanya kepadanya aku mencinta? Tapi semuanya tak memberikan jawaban. Termasuk pada lelaki penebus dosa yang tersalib di altar gereja, Kenapa mencintaimu tidak mengundang cela, bukankah kau juga seorang pria, sementara mencintai pelayanmu adalah dosa. Kenapa kau diam saja?  Apa kau bisu dan tuli? Apa Kau tak melihat betapa cintaku padanya telah membakar gereja dengan dosa?

***   

Jadi, apakah aku berdosa, Bapa? kataku pada seorang pendeta di bilik pengakuan dosa.

“Kau bocah celaka. Kau bocah penuh dosa. Usiamu masih remaja tapi dosamu telah memenuhi semesta.”

Sungguh, ya Bapa, di tubuhku ada seekor ular kencana yang selalu menjadi raksasa saat melihat pria-pria dewasa. Di tubuhku, ya Bapa, ada lorong penuh dosa, tempat para pendeta mengucap doa. Di tubuhku, ya Bapa, ada seorang pria yang tergesa-gesa menciumku sebelum lonceng gereja bersuara, sebelum para pendeta menjalankan misa. Di tubuhku, ada pria yang bergegas memelukku saat doa dilantunkan dalam liturgi1 para jamaat yang menghanguskan segala dosa.

“Santu Petrus, kau berbuat dosa di dalam gereja, kau akan dibakar di dalam nereka yang menyala-nyala. Kau telah terbujuk rayuan setan”

“Tidak. Aku tidak terbujuk rayuan setan, Bapa. Tapi aku terbujuk rayuan pelayan Tuhan.”

“Santu petrus, bicaramu seperti orang gila, kau tidak butuh pendeta tapi kau butuh dokter jiwa.”

“Aku tidak butuh pendeta atau dokter jiwa, aku butuh cinta atau anda yang telah mengajakku bercinta di bawah mimbar gereja.”  

“Yesus kristus,” pria itu membuka tirai pembatas dosa: menatapku dengan mata berkaca-kaca.

 “Kau adalah cinta yang selalu ingin kuhancurkan, kau adalah bocah lelaki yang selalu tersenyum di pelupuk mata yang senantiasa kubenci tapi selalu ada. Kau adalah cahaya yang membuatku punya alasan untuk menjadi seorang pendeta.”

“ Aku ingin lahir kembali sebagai malaikat tanpa dosa, Bapa. Baptis aku dalam katekumenmu.2 Aku tidak ingin mencintai pria, tapi ketampanan dan karismamu telah membunuh segala logika. Cinta itu memaksaku mempesembahkan tubuhku dalam liturgi birahi. Tapi teman-temanmu bilang, mencintaimu adalah dosa. Cinta sesama pria itu celaka, tapi teman-temanmu melakukan hal yang sama.”

“Karena itulah, Anakku. Engkau harus tetap bersembunyi di balik mimbar gereja. Kelak kau akan lebih gelap dari bayangan, lebih hitam dari malam, lebih terang dari siang, kau akan tetap tak nampak di mata dunia. Sekarang, masuklah ke dalam kegelapan gereja dan bermainlah dengan gambar-gambarmu; gambarlah surga, gambarlah neraka, gambarlah waktu, gambarlah cinta, gambarlah Isa yang mengucur darah di kayu salib: menahan luka, menebus dosa. Aku akan mengadakan misa, menyelami keheningan semesta, mencari surga,  tempat segala sesuatu bermula.”

“Apakah aku akan tetap hina, Bapa? Sementara engkau tetap mulya.”

“Oh, ketahuilah, anakku. Betapa sulit berperang melawan perasaan sendiri, apalagi rasa itu telah menjelma bocah ranum serupamu. Setiap kali bertemu, senyummu yang lugu telah menggodaku. Kau tengadah padaku di bawah salib ungu. Wajahmu yang tanpa dosa membuatku ingin berbuat dosa. Kau adalah anak altarku, yang membawakan air suci untuk membersihkan para pendosa. Dunia akan mengutukku jika tahu bahwa aku mencintaimu.”

“Tapi kau telah memberiku pelajaran mencicipi keheningan birahi. Dalam sunyi, aku membiarkanmu menjamah tubuhku, membiarkanmu mengerang dan menggelinjang. Dalam sunyi, aku patuh kepadamu, patuh kepada birahi yang membakarku dalam cinta yang menyala-nyala.”

“Jadi,  mengertilah Anakku, akulah pendosa yang tak ingin menjadi menjadi pendosa, akulah pendeta yang tak ingin punya kisah cinta, aku hanyalah pria yang takut mencintai bocah molek serupamu.”

“Kau tak pernah mencintaiku. Aku hanyalah lonceng tanpa bunyi, aku hanyalah misa tanpa arti. Aku  hanyalah bocah dungu yang mengharapkan cinta dari pendeta serupamu.”

 “Apakah kau tak melihat penderitaanku? Menahan cinta agar tak terlihat dunia. Aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu, tetapi aku tak ingin dunia tahu.”

“Kau selalu menganggap dirimu lelaki paling suci, paling mulya yang menghabiskan malam-malam kudus bersama bocah-bocah dungu yang kau pungut dari mimbar gereja. Ya, kau selalu mengira bisa menjantani semua bocah lelaki sambil meminta mereka mengulum ular kencanamu di bawah salib ungu.”

“Aku menyukai bocah-bocah tanpa dosa yang mendesahkan keajaiban cinta di keheningan gereja.”

“Jadi, siapakah aku di matamu, Bapa?”

“Maaf, aku tak sanggup menolak cintamu, Anakku. Tak sanggup kupadamkan bara cinta yang kau nyalakan dengan gairah muda. Tak sanggup kumenolak tubuh wangimu yang menggelinjang di atas ranjang, tak sanggup kumenolak keindahanmu yang terpancar. Karena itu aku suka menatap  lama-lama anak-anak lelaki molek serupamu, terlebih melihat lubang duburmu yang bercahaya. Tapi aku tak sanggup mendapat cela dan rajam di neraka.”

Nista tetap saja nista
Hina tetap saja hina
Celaka tetap saja celaka

“Dan pada malam jahanam itu, aku tak berani memilih, menjadi pastor atau menjadi kekasihmu, aku ragu apakah aku  manusia atau aku serigala.  Apakah aku malaikat yang membawa rahmat atau aku iblis yang membawa petaka. Aku tak berani, sungguh tak berani, menolak tatapan matamu yang tanpa dosa:  menyalakan birahi, meletupkan syahwat lelaki.”

Cinta tetap menjadi cinta
Pria tetap menjadi pria
Pastor tetap menjadi pastor
Anak altar tetap menjadi anak altar.

“Jadi siapakah aku di matamu, Bapa?”

“Aku tahu kau akan mempertanyakan itu, kata-katamu itu menancap di jantungku, dan alkitab akan melantunkan ayat-ayat perih di jiwaku. Apa Tuhan akan melaknatku? Seharusnya Dia membolehkan seorang pastor bercinta dengan seorang wanita. Ah, tapi percuma saja karena aku tidak akan tertarik pada wanita.”

“Kau mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tololku. Kau malah memejamkan matamu untuk melupakan segala cinta dan perasaanmu yang mengejawantah menjadi diriku. Bukankah bagimu aku hanya anak altarmu? Bukankah bagimu aku hanya dosa yang kau sembunyikan di balik jubah pendetamu? Bukankah bagimu aku hanya bocah lelaki yang kau gagahi di bawah mimbar gereja? Apakah aku akan menjadi azab bagimu? Apakah aku akan menjadi petaka bagimu? ”

“Berhentilah mengoceh, anakku. Aku ingin melesat kedalam ceruk gelap untuk meninggalkanmu. Aku ingin menyalibkan diri di bukit tandus, di atas tanah gersang, di antara salib-salib kayu yang terpancang,  tempat Kristus meregang ajal sendirian untuk menebus dosa dalam siksa tak terperi”

Kalau begitu, aku ingin menjadi lembing yang membelai lambung kirimu, aku ingin menjadi mahkota duri yang memeluk kepalamu, aku ingin menjadi paku yang mencium telapak tanganmu, aku ingin menjadi salib yang moksa bersamamu.  Aku ingin merasakan nyeri dan mati bersamamu. Aku ingin menjadi kekasih yang senantiasa menemani kesepiaanmu.

“Tapi hujan api di masa lalu telah menghapuskan cintaku padamu. Setelah Tuhan menghancurkan sebuah kota dengan menjungkirbalikan tanah mereka, mendatangkan badai api dengan dengki tak terperi, kuanggap cinta kita adalah dosa.”

Tapi kau telah menggigit leherku, menelanjangiku, menciumi seluruh tubuhku, juga ular kencanamu telah memuntahkan racun cintanya di wajahku. Saat kudapat dosa pertamaku, aku terisak  dengan tubuh yang masih telanjang. Kau segera berpakaian pendeta, memakai kembali kalung salibmu, mencium hangat keningku. “Santu Petrus, Yesus akan menyelamatkanmu” ucapmu dengan gaya pendeta kemudian kau pergi menjalani misa pagi.

Kini ketika orang-orang tahu bahwa aku mencintaimu. Mereka mulai mengutukku. Mereka mencelaku. Teman-temanku mengejekku dengan sebutan, ‘isteri kecil’ para pastor3. Kemudian para pastor memenjarakanku dalam kamar   tanpa jendela. Mereka menyuruhku membaca alkitab sepanjang malam, mencambukku dengan rotan sebagai hukuman atas dosaku yang menceritakan cinta pengecutmu dalam buku harianku. Buku yang ditemukan teman pastormu di balik bantalku setelah temanmu melakukan hal yang sama kepadaku, perlakukan yang akan terpancang sepanjang waktu dalam sejarah hidupku.

Tak ada yang memberikan dukungan, tak ada yang berpihak kepadaku, tak ada siapa pun yang bersamaku. Bahkan Tuhan meninggalkanku sendirian. Aku tak ingin hidup lebih lama lagi. Aku ingin mati, tapi aku ingin mati bersamamu. Saat kuceritakan kepadamu, kau diam saja memejamkan di bawah kayu salib yang melindungimu, berharap surga masuk ke dalam dadamu.

Temanmu telah memperkosaku, Bapa. Tapi dia tetap memimpin liturgi, menjalani misa pagi. Semua sakramen4 suci gereja, dia jalani. Bahkan, Dia  memberkati jemaat dengan tangannya yang suci, tangan yang telah menjamah tubuh telanjangku. Memberikan tanda salib di dahi setiap jamaat dengan jarinya yang suci, jari yang pernah menyelusup pada lubang sunyi duburku.

Mereka, para pastor yang telah memperkosa bocah-bocah jelita, lolos dari hukuman atas perlindungan gereja. Semua suara dibisukan. Semua mata dibutakan. Di mana Tuhan saat itu? Apakah Tuhan ada di dalam gereja? Bahkan Lelaki yang kusembah sebagai Tuhan pun, Dia tak bisa berbuat apa-apa.

Bapa, apa Tuhan demikian pemaaf hingga mereka cukup menjalankan prosedur pengampunan dosa dalam upacara abjurasi5 untuk dosa-dosa mereka yang memenuhi semesta. Dengan jubah berwarna ungu mereka berlutut di bawah salib kayu untuk menghayati dosa-dosa sambil membaca doa Miserere dengan Gloria Patri6. Mereka menyentuh alkitab kemudian bersumpah atas nama Tuhan Yesus: mereka tak akan menjamah bocah-bocah jelita.

Kyrie, eleison, chiste eleison, Kyrie, eleison,
Peter noster, secretly up7
Dan bimbing kami bukan kepada godaaan.
Tetapi jauhkan kami dari yang jahat
Selamatkan hamba-hambamu wahai Tuhan
Tuhanku, mereka memohon kepadamu
Tuhan dengarkan doaku
Dan biarkan aku menangis karena-Mu
Tuhan akan bersamamu dan bersama jiwa-Mu.
Mari kita berdoa

Tuhan, Zat yang paling layak memiliki rahmat dan menangani dengan kesabaran, kami benar-benar menghiba kepada-Mu. Bahwa kasih sayang dari kesucian-Mu mengampuni dengan kasih hamba-Mu ini yang terikat dengan ikatan pengecualian. Melalui Kristus Tuhan kita, amin. (Yahya, 2007:179)

“Dengan kekuasaan keuskupan, saya mengampuni semua dosa-dosamu dengan ikatan pengecualian. Kepada sakramen suci, kepada jamaat, dan kesatuan orang beriman, atas nama Bapa dan Putra dan roh Kudus. Amin.” Begitulah kalimat yang diucapkan abjurasi dalam upacara pengampuan dosa para pastor.

Kemudian mereka melantunkan lagu-lagu misa yang tak pernah mereka pahami. Mereka melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Setelah memperkosa, mereka mengakui dosa. 
Apa kebisuanmu itu kemenanganmu? Apa kemenanganmu itu  mendapatkan diriku? Atas kesanggupanku menjadi kekasih rahasiamu. Atas kesanggupanku menjadi kuda tunggangamu. Sebagai kekasih sekaligus sebagai kuda, aku pun berlari menemuimu yang sedang mengadakan misa.

 Di atas mimbar di bawah kayu salib, wajahmu begitu bercahaya, kau nyaris seperti malaikat yang baru saja di turunkan dari surga. Nyanyian misa bergema di dalam gereja. Namun, tak satu pun ayat-ayat Tuhan itu menyusup ke telinga mereka.  Semua orang menganggapmu adalah lelaki suci yang patut dipuja.

Buta mereka yang mengenalmu sebagai pendeta.

Aku telah cukup sabar membawakan air suci pada nampan kecana, membawakan jubah kebesaranmu, membawakan tongkat keagunganmu dan berjalan tiga langkah di belakangmu agar kau tetap dianggap mulya.

 Aku mendesis di telingamu saat  jamuan ekaristi8. Di hadapan mereka, kau tetaplah suci dan mulya. Aku mencintaimu dalam keheningan misa agar bisa menikmati rasa nyeri hidup sendiri seperti yang kau ajarkan setiap hari. Tapi jangan harap aku akan mengenalmu sebagai pendeta sejak ular kencanamu menyelusup ke dalam lubang duburku. Aku akan belajar dari suara cintamu yang lirih mencekik leherku sebelum orang-orang melempari mayatku dengan batu. Aku menunggu kau yang membunuhku.

“Kematianmu tak akan membuat orang-orang simpatik. Kematianmu  hanya mengundang kutuk dan cela. Kematianmu tidak akan membuat pintu surga terbuka. Kematianmu tak akan mengubahmu menjadi malaikat tanpa dosa.  Kematianmu hanya melahirkan arwah hitam yang tersiksa di neraka. Tak ada gunanya kita mati bersama hanya karena ingin cinta kita diterima dunia. Cinta kita akan tetap sirna dalam kegelapan yang sia-sia.”

Tetapi mengertilah, Bapa. Aku tidak bercinta dengan nafsu syahwatku. Aku bercinta karena aku mencintaimu, bukan karena keindahanmu tubuhmu, bukan karena ketampanan wajahmu, aku hanya ingin menjadi kekasih abadimu, aku hanya ingin menjadi bagian dari dirimu. Aku berharap kau tak lagi bertanya, kenapa cinta kita menjadi dosa, kenapa cinta sesama pria itu celaka.

“Kita akan jatuh pada kehampaan, bukankah hujan api di Sodom dan Goromah9 menjadi saksi sejarah bahwa cinta sesama pria adalah dosa. Kehancuran kota itu akhirnya membuat orang-orang tak percaya pada kesucian cinta sesama pria.”

Saat itu aku tertunduk dihadapan lelaki kencana berwajah surga. Bilik sempit tempat mengakuan dosa terasa semakin menghimpit. Kata-katanya terdengar seperti kutukan yang ditujukan kepadaku.

Apa hanya aku yang berdosa, Bapa? Apa kau tak pernah mendengar kisah seorang pria yang jatuh cinta pada keheningan telaga?”

“ Apakah masih ada yang harus kita bicarakan, Anakku? Apakah kau tidak melihat ke telaga yang memantulkan dua pria pendosa yang saling jatuh cinta? Wajah kitalah yang tampak paling kelam, bernanah, berlendir,  dan penuh belatung menjijikan”

Apakah itu, wajahku, Bapa?

“Itu wajah pendosa”

Apakah itu wajahmu, Bapa?

“Itu juga wajah pendosa”

Apakah cinta kita selalu menjadi dosa?

“Ya, anakku, cinta kita adalah dosa. Cinta yang selalu ingin kubunuh, tetapi selalu ada.”

Apakah cinta sesama pria hanya pantas bersekutu di neraka? Apakah cinta yang najis hanya mengeluarkan bau yang amis?

“Tidak, anakku. Di mataku kau adalah kekasih yang wangi, kekasih sejati.”

Tapi kelak cinta kita akan remuk. Akan terkutuk.

“Ya, kita memang akan terpuruk, kita akan terkutuk, tetapi kau dan aku akan dikenang sebagai pendosa yang masih punya cinta oleh orang-orang yang tak mengerti soal cinta. Seperti dalam kisah-kisah masa lalu, aku dan kamu akan tetap hina. Kita tetaplah kaum terkutuk yang tak pernah mau mendengarkan ayat-ayat Tuhan yang pedih dan menyilaukan. Kita tetaplah para asura, makhluk berjiwa gelap dari goa setan dan hantu-hantu.”

Jika pada akhirnya kita harus mati karena cinta atau  dirajam cela, hanya satu yang harus kita kutuk sepanjang waktu, kenapa kita terlahir sebagai pendosa, kenapa di antara kita harus ada cinta, kenapa cinta sesama pria begitu hina, kenapa kita terlahir sebagai pria yang menyukai pria.

“Tidak, anakku. Kau yang harus mati lebih dulu. Dunia akan tahu bahwa aku pendosa jika kau terlalu banyak bercerita. Aku lebih suka menjadi pendeta daripada menjadi kekasih sejatimu. Aku lebih suka dipuji dan puja daripada dihina dan dicela. Aku lebih suka berada dalam gereja daripada dalam penjara. Kini terima takdirmu yang telah lancang menuliskan kisah cinta kita dalam buku harianmu. Kini aku akan mengantarmu menemui penciptamu. Aku membunuhmu sebab aku lebih mencintai pekerjaanku daripada kamu, bocah dungu.”

Tangannya yang sehalus udara itu membelai leherku dengan lembut.

“Bapa, apa kau mencintaiku”

“Aku mencintaimu karena itu aku membunuhmu.”

“Aku mencintaimu, Bapa.”

Kemudian udara menjadi sesak.  Tubuhku mengerejat-rejat. Dunia menjadi gelap. Dan cahaya pun lenyap.

*** 

Setelah semuanya gelap dan rasa sakit itu lenyap. Jutaan cahaya masuk kedalam mataku. Aku terisak seperti bangun dari mimpi buruk yang gelap. Dalam doa, di antara lonceng gereja cahaya tiba bersama senja, menyilaukan mata, bagai sesosok pria. Dia begitu megah dan tampan. Matanya berkilauan bagai jutaan berlian.

“Jika pada suatu hari kau melihat bianglala berwajah Bunda Maria dan kau mencium wangi mawar yang memenuhi udara, itu berarti dosa-dosamu terampuni. Ingatlah aku dihamparan hidupmu, di hamparan dukamu, di hamparan dosa-dosamu. Biarlah aku yang menanggungnya,  terhisap ke dalam rongga-rongga dadaku, ke dalam keheningan surga.  Biarlah aku yang menjelma air mata dalam kekudusan senja”

Siapakah engkau, ya Bapa. Aku seperti pernah melihat-Mu, bahkan aku begitu dekat dengan-Mu, tetapi aku tak pernah mengenal-Mu. Jutaan kali aku melhat wajahmu di altar gereja, tetapi Aku tak pernah tahu siapa diri-Mu.

“Aku selalu ada di dekatmu anakku, aku ada dalam hatimu.”

Jadi, siapakah Engkau ya, Bapa, Engkau bukan pria yang suka menggagahiku di bawah salib ungu, Engkau juga bukan pria yang suka melantunkan doa, kau bukan pendeta yang suka menjalankan misa.

Pria itu tersenyum kepadaku dan membelai rambutku.

“Kau hanya anak-anak. Kau tidak tahu apa-apa.”

Kenapa Kau ingin menanggung semua dosa. Kenapa langit terbuka, kenapa bianglala itu berwajah Bunda Maria

“Sebab kau telah percaya,”

ucapnya dengan lembut dan membawaku terbang menembus cakrawala, memasuki taman dengan aroma mawar yang memenuhi udara.

Di bawah sana kulihat seorang pendeta sedang memeluk jasad bocah yang dicintainya. Dia masih menangisi cintanya. Menangisi kesendiriannya.

Bandung, 10102013

DAFTAR CATATAN KAKI
1.    liturgi adalah upacara keagamaan dalam gereja
2.    katekumen adalah bagian upacara suci katolik, yaitu orang yang menerima ajaran katolik sebelum upacara pembabtisan.
3.    Isteri kecil para pastor ejekan dikalangan anak-anak gereja di Vatican, jika seorang anak kecil menjadi korban skandal para pastor.
4.    Sakramen adalah ritus agama Kristen yang menjadi perantara untuk menyalurkan rahmat ilahi. Kata ‘sakramen’ berasal dari bahasa latin sacramentum yang secara harfiah berarti “menjadikan suci”.  Sakramen adalah nama upacara suci dalam gereja katolik ada tujuh sakramen yang harus dijalani sebagai umat katolik, yaitu baptis, ekaristi, tobat, krisma, pengurapan orang sakit, perkawinan, dan imamat.
5.    Abjurasi adalah orang yang ditunjuk untuk menerima tobat seorang pastor. Biasanya orang tersebut adalah kepala pastor atau pastor lain mempunyai wewenang untuk melakukan upacara suci tersebut. Dalam abjurasi seorang pastor harus bersumpah dengan serius untuk meninggalkan dosa yang telah dilakukannya. Dosa yang dilakukannya adalah dosa besar seperti menyakti orang lain, berbuat asusila, atau bertindak semena-mena terhadap sesama.  Upacara ini biasa dilakukan untuk mengikari perbuatan dosa itu sendiri sebab seorang pastor harus terbebas dari dosa.   Abjurasi  berasal dari abjurare bahasa Latin yang artinnya untuk mengingkari.
6.    Gloria parti adalah himne yang dinyanyikan diakhir kebaktian terutama saat pengempunan dosa.
7.    Adalah kalimat yang dikutip dalam buku (yahya, 2007 : 179) yang bisa diartikan tuhan kasihanilah kami. Kyrie, eleison, chiste eleison, Kyrie, eleison, kalimat yang diucapkan saat misa, biasanya dinyanyikan sebagai penutup doa. Kyrie Eleison  diambil dari bahasa Yunani yang artinya “Tuhan kasihanilah kami.” kalimat sering diucapkan dalam doa-doa bahasa latin bahkan pada prakristen. Kemudian ungkapan ini digunakan dalam semua liturgi Kristen untuk menyeru Tuhan  Kalimat ini banyak tertuang dalam ayat-ayat alkitab  seperti dalam Perjanjian Lama (Mazmur 4:2, 6:3, 09:14, 25:11, 121:3, Yesaya 33:2; Tobit 08:10)  Begitu juga dalam Perjanjian Baru kalimat ini berulang-ulang (Matius 9:27, 20:30, 15:22, Markus 10:47, Lukas 16:24, 17:13).
8.     Ekaristi adalah bagian sakramen katolik yang artinya bergembira biasa dilakukan jamuan minum anggur namun tidak memabukan. Jamuan ekristi adalah peristiwa bersejarah saat yesus mengadakan jamuan terhadap dua belas orang sahabatnya. Sakramen Ekaristi adalah Perjamuan Kudus yang diadakan Kristus menurut Alkitab. Istilah ekaristi berasal dari bahasa Yunani ευχαριστω, yang berarti berterima kasih atau bergembira. Perjamuan ini untuk menyelamatkan umat manusia atau bentuk rasa syukur bahwa umat manusia telah diselamatkan dari dosa-dosa, biasanya dilaksanakan saat paskah sebagai pesan bahwa Yesus telah menyelamatkan umat manusia dengan kematiannya
9.    Sodom dan goromah adalah sebuah kota di zaman nabi Luth (alquran) atao lot (alkitab) yang dihuni oleh kaum penyuka sesame jenis, yaitu kaum homo seksual. Saat itu Tuhan mengirimkan tiga malaikat berwajah tampan untuk meluruskan jalan mereka yang tersesat. Namun mereka malah ingin memperkosa malaikat tersebut beramai-ramai. Malaikat itu bersembunyi di rumah nabi Luth dan orang orang itu memaksa Luth untuk memberikan tamu-tamunya itu. Kemudian Tuhan langsung menurunkan hujan api berupa batu-batu yang terbakar yang dari neraka. Maka hancurlah kota tersebut karena mereka adalah kaum yang melampaui batas.
10.    Hujan api di masa lalu Dalam alkitab diceritakan tentang hujan api yang menimpa sebuah kota di masa lalu; kutukan bagi kaum homoseksual. Kejadian 19:24-25
Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang   dan api atas Sodom dan Gomora,   berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota   itu dan Lembah Yordan   dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.
11.    Santu petrus adalah kalimat yang diucapkan pendeta dalam sajak nyanyian angsa karya ws rendra. Atas keterkejutannya terhadap seorang pelacur yang mengaku dosa, yaitu maria zaitun.
12.    Asura adalah makhluk makhluk kegelapan dalam mitologi agama Hindu. Mereka adalah musuh pada dewa. Mereka adalah symbol dari kejahatan.

Nomor 10, 11,dan 12,adalah catatan kaki tambahan setelah direvisi

*Konspirasi suci judul dari puisi esai ini adalah istilah yang digunakan untuk skandal seks yang dilakukan para pastor pada anak-anak altar di Vatikan.
Daftar pustaka
Yahya, Abu Salma Ibnu. 2007. Sex Crimes and Vatican. Yogyakarta: Alas.

Burhan Shiddiq, lahir di Bandung, 26 September, Pendidikan S1 Sastra Indonesia, UPI, Pendidikan S2 Bahasa Indonesia, UPI. i Guru Bahasa Indonesia ini juga aktif menulis naskah drama untuk dipentaskan di teater kampus. Menulis cerpen di beberapa media massa. Pernah menjadi Juara 1 menulis cerpen nasional tahun 2002, 2003, 2004.  Nominasi 20 besar Sayembara Menulis Novel DKJ 2012, melalui novelnya Pathetic Eden. Tinggal di Bandung.

Catatan redaksi: Puisi Esai “Konspirasi Suci” karya Burhan Shiddiq (Bandung) sebagai juara pertama Lomba Menulis Puisi Esai 2013 yang ditaja Jurnal Sajak. Naskah ini diminta langsung kepada penulisnya, dan naskah ini, menurut Burhan Shiddiq versi asli sebelum terjadi editing untuk kepentingan antolkogi puisi esai Konspirasi Suci (juga dinuat Jurnal Sajak No. 8 Tahun4/2014)