Beranda Budaya Pentas Puisi Iswadi Pratama

Puisi Iswadi Pratama

261
BERBAGI

Agustus

Di Timur pagi, Agustus seperti sebaris eucalyptus di lereng bukit yang mulai tandus. Hampir rebah dan tersia. Tinggal jubah kemarau yang berdebu itu membungkus bahu legamnya. Bahu Agustus yang penuh cidera oleh kenangan. Di jantungnya, kita masih bisa meraba denyut musim yang harum, sisa musim hujan yang tak lagi bisa menepati janji.

Kenangan yang membuatnya terlunta di sepanjang jalan Cavenagh. Di lorong lorong pertokoan yang bersih, yang menampik Si Hitam atau para Gypsi, setiap orang tampak baik dan welas asih. Itulah permukaannya. Kelaziman yang acap membuatmu bisa berharap ada getar dari penerimaan yang sekadar.

Tak seorang pun ingin menetap dalam kepura puraan. Tapi hari ini, pura pura adalah pakaian yang kian mewah membungkus tubuh kita, tubuh Agustus yang kian kurus.

“Seharusnya kita bisa berbahagia seperti pagi, seperti Agustus yang membersihkan diri dari kebencian pada kemarau panjang. Menunjukkan kebahagiaan, sedikit humor pada kenyataan”

“Humor adalah dahak hitam seorang gypsi yang mati di sudut jalan. Dan kenyataan adalah orang orang antre menyelamatkan seekor burung yang jatuh dari ketinggian”

Di Timur pagi, matahari baru saja menggosok matanya. Mata yang tak sempat menyaksikan Agustus yang berlari ke lereng bukit, di lampus sebaris eucalyptus. Mendatangi sebuah gereja yang tersingkir ke pinggir kota. Gereja yang bersikeras menerima debu, dan kadang memberi kita pertanyaan; manakah yang lebih berharga, seekor burung atau sebuah bangku kosong untuk berdoa?

Tafsir Kerinduan
I.

Suatu saat, mungkin juga telah atau sedang terjadi padamu setiap hari, di mana tak ada siapa saja yang mendengarkanmu selain sayup suara lautan yang sebenarnya tak ada, gemersik pokok pokok dahan di hutan yang tak lebih melegakan daripada ilusi. Kepadanyalah aku ingin datang.

Kepadanya aku ingin berbicara atau sekadar memandang. Membukakan pintu di mana ia terpenjara. Meraih tangannya dan membenamkannya dalam jantungku yang tak henti tergetar oleh hal hal yang gampang dilupakan atau dibuang.

Aku memang tak menyimpan apa pun selain getar yang terlampau halus ini, juga humor yang tak seberapa dan sejumlah puisi sepahit kacang kapri yang paling dibenci.
Maka seperti sebuah takdir bagiku, setiap yang kudatangi dengan secawan minuman ini adalah mereka yang sangat mengerti tetapi sangat takut mereguk, kecuali sekadar seteguk atau kurang sedikit dari itu, lalu pergi seraya menyesali.

Lalu tanpa henti-hentinya aku mesti menyiapkan sebuah hidangan, suatu perjamuan dan mengundang sesiapa saja yang pasti tak akan datang, terkecuali mengharapkan hal yang keliru dan tak ada padaku

Bahkan, meskipun aku bisa bersabar mendengarkan keluh kesah lautan yang tiada habis-habisnya disampaikan angin musim kering, bagaimana aku bisa membiarkan hidangan ini tanpa sepotong lidah pun mau mencicipi. Sehingga di mana pun aku membawanya, hanya hukuman kesepian yang kudapati. Ya, sepi adalah hukuman bagi pengagum keindahan yang bebas dan sendiri. Dan seperti sebuah gelombang dalam udara, kadang mereka yang tak sengaja menangkap pesanku akan mendongak bertanya: “bisakah kau mengekalkan apa yang telah dimutlakkan menjadi fana?”

Maka aku pun akan meninggalkan mereka tanpa berkata-kata. Menyeret diriku sendiri ke dalam labirin. Merasakan buih, pasir, dihantam gelombang dari laut yang tak tampak. Mengenang tangisan burung burung malam, bagi setiap hati yang enggan berbagi. Bagi tangan tangan yang sangat mengenal pemberian tapi terus menerus memamerkan cideranya.

Maka, bagiku, hanya kebebasan dan kesendirian lautan yang patut kuterima. Lebih jauh, dan lebih dalam aku menyelam. Di sanalah aku tersembunyi, luput dari segala sesuatu yang bisa disentuh matahari. Abai dari sepasang matamu yang selalu menangisi bintang bintang dan langit yang jauh. Mungkin kelak ia akan menemukan jalan untuk sampai padaku, pada dirinya sendiri.

Muslihat yang indah, cinta yang dikemas dalam seribu sayatan pedang. Berlututlah!

Agustus 2015

Biodata Iswadi Pratama

Iswadi Pratama dan Imas Sobariah (Istimewa)