Beranda News Budaya Puisi Karya Robi Akbar

Puisi Karya Robi Akbar

540
BERBAGI






ROBI AKBAR

Anakku Menghayati Pagi

anakku menghayati pagi
dalam keheningan batu dan kelopak kembang kertas
yang jatuh di taman
ia dengar angin bersenandung
melagukan irama asing dari negri yang jauh
merekahkan kekosongan di mulut kepompong
menarikan rumputan dan ilalang dalam kenang

anakku menghayati pagi
menyapa udara yang tenang
di taman yang lengang
ia dengar burungburung berkicauan
di antara jarijari kecilnya yang meraba gerimis
begitu ritmis

Anakku
Membaca

anakku membaca sobekan sejarah
pada selembar koran di pinggir comberan
ia membaca hutanhutan yang resah dalam kepunahan
pohonpohon kebajikan tercerabut sampai ke akarnya
ribuan binatang lari dan hilang entah ke mana
angin sasar
udara tercemar
siapakah yang membakar hutanhutan dan membangun
pabrikpabrik keserakahan itu? tanyanya di dalam hati

anakku membaca juga kotakota roboh dan orangorang
bersiap dengan segala pembenaran sebagai alasan
ia membaca kakikaki zaman berpatahan
mengejar nasibnya sendiri
sementara tangantangan waktu tak mampu menahan laju
kecemasannya

anakku membaca anakanak lain
menggendong setumpuk buku yang gelisah menuju
sekolah
belajar menghitung impian dan harapan yang semakin
samar
lalu hujan
dan segala bencana membanjiri rumahrumah mereka
hingga tak ada lagi yang tersisa selain kepasrahan

anakku membaca sobekan sejarah
pada selembar koran di pinggir comberan
ketika diamdiam banjir menenggelamkannya ke
comberan yang sama

bi’14

Anakku
Sakit

ada boneka beruang meraungraung di kepalanya
sama persis seperti milik anak tetangga yang kulihat
pagi tadi sebelum berangkat bekerja
anakku terbaring
badannya panas darah di dalam tubuhnya seperti mendidih
ia meracau ketika boneka beruang itu mencakarcakar
ingin di hatinya
anakku sakit
dadaku serasa terhimpit
sakit

bi’12


Pagi
yang Bening dan Lembar Cahaya

I

pagi yang bening itu
membuka lembarlembar cahaya
melepas angin dan kicau burungburung
dari kelopak matamu

jejak yang hapus
lantaran hujan merayakan kelam semalaman
seperti langkah jarumjarum jam yang meninggalkan
waktu
jemariku meraba dinding kata yang tak terbaca
meyusur lorong gelap tanpa makna
kalimatkalimat terjebak dalam sajak

II


di pagi yang bening itu
kelopak matamu
merangkum dingin dan lirih erangan angin
medekap hening
daundaun asam yang menguning sebelum berguguran
lalu jemariku lumpuh
hilang rasa raba
tak bisa membaca
sajak yang terluka di lembar cahaya

bi’13-14

Loading...