Beranda Budaya Pentas Puisi Natal Ari Pahala Hutabarat dan Ahda Imran

Puisi Natal Ari Pahala Hutabarat dan Ahda Imran

331
BERBAGI

BANDARLAMPUNG–Dua penyair, muslim, menulis puisi bertema Natal. Ari Pahala Hutabarat, penyair ternama Lampung berdarah Batak, menulis dengan nada lirih tapi penuh optimisme.

Ahda Imran, penyair Bandung yang salah satu buku puisinya masuk nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, menulis dengan tajuk ISA. Puisi ISA merupakan salah satu yang masuk dalam antologi “Rusa Berbulu Murah”.

Berikut puisi penyair kita:

Ari Pahala Hutabarat:


MALAM NATAL

-ompung doli

seperti mendung, yang tiba-tiba turun
ke meja terang

ke gegas orang-orang yang mencari
teduh

dan ingin menyimpan firman
ke rapat baju

seperti terompet masa kecil dan kilau
sungai
dan gitar ayah atau kue buatan bunda

yang merasuk ke pembuluh darah
setelah sangsi
melingkar dalam cuaca gatal

dan tamsil tentang santa
perlahan luntur warna

“maafkan kesalahan dan kebiasaan
untuk tak menepati janji

tapi, di tahun depan, ibadah akan
sempurna serta rencana berjalan menuju genap”
mendung milik kita. semoga kekal

semoga senyum dan rasa ramah
jadi dinding dan atap

lesu rumah dan ranjang hampa

semoga angka-angka di almanak hujan
makin jelas

ke gegas musafir yang mencari
teduh
dan menyimpannya ke lubuk tubuh

seperti kilau bintang
di altar malam
di puncak galau

domba yang jadi kekal

2006

Ahda Imran

Ahda Imran:


ISA

Wajahmu: jantung hijau yang berdetak,
hening sepasang mata dan seekor ular
yang mendengkinya, taplak meja berenda,
cahaya lilin, roti dan anggur, suara lonceng,
gerak grendel pintu sebelum tampak
anak dara tersipu

Atau mungkin ini: segala yang melampaui
waktu dan pusaka—yang mengebat dan menetap
sengketa cahaya dan bayang; berpilin segala
yang mungkin. Sebuah nyanyian, menyerupai
koor, mengiringiku berjalan dan tidur
sejak itu darahku terus mengucur
menetesi jantung hijaumu

(Sumber: “Rusa Berbulu Merah”)