Beranda Seni Sastra Puisi-puisi Arther Panther Olii

Puisi-puisi Arther Panther Olii

138
BERBAGI

3 Kwatrin Untukmu

: Hera

1/
Kwatrin tentang Lindap

Niatan di hatimu jangan sesekali kau ubah. Jika memungkinkan
Tuk semayamkan rembulan di bilik hatimu, maka hadiahilah langit
Dengan doa-doa tanpa dusta. Tanpa angkara, tanpa pernah hidupkan
Perkara antara mana yang lebih kelam: nasib atau takdir?
 
2/
Kwatrin tentang Ragu

Sejak dipertemukan oleh waktu, kita lebih banyak berbahasa sepi. Kau
Atau aku yang mulamula menghidupkan debar terpanjang? Debar yang 
Simpulkan sabar tak terkira. Mana kala pagi bertandang, sisa cahaya
Malam melagukan elegi tentang betapa timpangnya perbedaaan kauaku.
 
3/
Kwatrin tentang Ngilu

Diterbangkan begitu jauh ketegaran yang pernah kau rajut. Langit
Mendadak tanpa warna di hari perpisahan. Aku akan menyicil kehidupan
Yang serba terahasiakan. Dan kutinggalkan kau untuk berdiri di sebuah
Persimpangan yang sangat asing. Kau pun basah oleh gerimis paling amis.

Manado, September 2011.

Van Gogh: “The Olive Trees”


Sementara Itu, Puisi Terus Mencatat Kenangan Tentang Engkau

: Fajar Marta Chaniago

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

tersenyumlah engkau di sana, saudaraku
karena saat ini kucatat engkau dalam puisi
adalah kenangan itu yang hendak sua
kenangan yang melulu julurkan kehangatan

lalu, harus kau urai juga apa-apa yang kau rawat
di benakmu yang ditikam onak kerinduan
tentang aku, tentang kami yang nama-namanya
begitu pelangi melengkung indah di langit hatimu

pada suatu malam, di kota ternate
kita susuri anak-anak tangga kedaton tua
sembari tatap mata terus bertukar kekaguman
pertemuan ini kehendak puisi jua, ujarmu

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

sementara itu, puisi terus mencatat
kenangan tentang engkau, tentang lembut
tutur katamu, tentang semangatmu
yang lebih bara dari larva gamalama

ada yang tak akan berhenti diriwayatkan, saudaraku
jejak langkah kita di sepanjang jalan kota ternate
sungguh magis, menjauhkan tangis dari
utuh bebayang kita yang teguh berkibar di tepi pantai sulamadaha

pada suatu senja, di kota ternate
kita sesaki sudut-sudut batu angus
seraya menghitung gugusan debar kebanggan
yang telah diciptakan oleh puisi

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

ledakkanlah tawamu di sana, saudaraku
karena sesaat lagi puisi akan usai menggelitik
ruang sadarmu, menghantarkan kenangan
putih, seputih buih-buih air laut ternate

lantas, pernahkah menyusut ingatan
akan sebuah perayaan pertautan beberapa hati?
o, usirlah lawatan jemu, rawatlah sengatan penantian
di sejauh terbangnya puisi, rindu harus terus mengiringi

pada suatu siang, di kota ternate
kita gerahkan rumah makan floridas
sembari memotret raga pulau seribu di kejauhan
sesiang itu, peluh bukanlah hasil sebuah keluh

ingin kembali o ingin kembali
torang samua ke kota ternate

sementara itu, puisi tiada letih
terus mencatat kenangan tentang engkau,
tentang santun bahasamu, tentang gairah hidupmu
yang lebih nyala dari mentari pagi di kota ternate

ada yang tak jemu dituturkan kembali, saudaraku
sebuah pelukan di antara kesangaran benteng kalamata
amatlah teduh, suguhkan kegirangan sarat nuansa
perpisahan bukanlah bagian lembaran asa

pada suatu pagi, di kota ternate
kita riuhkan kafe hotel amara
seraya saling berebutan menjelaskan seberapa bahagia
puisi terus mencatat kenangan sebuah pertemuan

Manado, 27072012.

Kisah Sepasang Tangan yang Tak Mau Diam Tatkala Subuh

Tangan Kanan

Aku dimulakan oleh mimpi. Dibatas-batasnya yang absurd, aku naik-turunkan ayunan. Di benaknya yang mesum, senyumku menjadi pecahan-pacahan culumus. Dirumuskannya aku dalam sebuah doa, lalu dihempaskannya aku ke dalam dosa. Senantiasa. Selalu. Setiap dingin itu menekuri ingin.

Tangan Kiri

Aku dihentikan oleh kegilaan. Pekik yang disumbat oleh lelehan embun dari kelopak mimpi. Bernapaslah dengan teratur sebelum segenap angan terbentur. Pada dinding subuh, sekalimat tanya hanya menjadi hiasan kusam. Pada ranjang subuh, kegelisahan adalah samudera dengan ombak yang kusut. Susut. Mengerucut. Setiap kali hasrat itu datang dengan wajah-wajah yang sama; wajah sepi, wajah sendiri. Sepenuh perih.

Manado, 18092012.

Langkah yang Mengayunkan Ketabahan

Usai percakapan dengan terik, kusimpan segala pekik
Bebayang kemudian luruh, ikuti ihwal suluh

Sederetan tanya itu; kalimat-kalimat rancu
Hendak ke mana hati mencari cinta paling arti?

Langkah terus berdegap, sepenuh gegap
Meniadakan gelap, menghanyutkan lelap

Berpulanglah riwayat pada sepasang mata yang sarat
Masa lalu yang enggan, masa kini yang segan

Angin membaca keinginan, langit menampung ketabahan
Irama-irama debu paling paham mengirim pesan-pesan kelabu

Manalah sempat kubasuh wajah
Siang terlalu panjang datang menjajah

Di beranda malam, langkah sejenak terhenti
Dan segenap kecemasan dibekap letih

Manado, 18092011

Arther Fanther Olii, kelahiran Menado. Pernah diundang setelah lolos kurasi karya pada Temu Sastrawan Indonesia (TSI) di Ternate, Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi. Karya-karyanya tersebar di pelbagai media dan antologi puisi bersama.

Loading...