Beranda Seni Puisi Puisi-puisi “Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit”

Puisi-puisi “Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit”

677
BERBAGI

Shinta Miranda

JARAK

bukan sebuah menara yang membuat aku mengangkat kepala
tetapi bayangmu singgah sekejap, menatap dan membuatku terkesiap
betapa jauh jarak yang semakin membentangkan sayap-sayap hati
menujumu yang tertunda putaran jarum jam dan lepasnya tanda hari
lalu mengambil lembar surat tanpa kertas, selimuti kerasnya hati
betapa jauh jarak yang semakin merapatkan barisan tuturan diri

tubuh ini penyatuan sejarah awal sampai ke masa ini, monumen jiwa
kita saling menggapai, melempar rapal mantra lewati samudera
betapa jauh jarak yang semakin membuncahkan hasrat mencinta

kita berada di mana, di dalam samudera atau di antara awan gemawan?

8 Januari 2013

SHINTA MIRANDA. Kelahiran Jakarta. Puisi dan cerita pendek pernah diterbitkan  beberapa media dan antologi puisi. Buku puisinya, Constance.

*

Syarifuddin Arifin                                                                                                                                                                                                                                             
LANGIT YANG HILANG

langit yang melingkari matahari, yang mencumbu bumi setiap hari,
kanvas mozaik bintang di kala malam, senyum bulan menaikan pasang
yang mengalunkan gelombang, dirindukan gunung menjulang tinggi,
padang pembentang misteri, medan pertempuran teka-teki
hilang entah ke mana

keluasan langit yang menyungkup bumi, telah digulung, dilipat
tersimpan dalam tas ke dalam berjuta imaji lalu jadi kenyataan hari ini 
mematikan angin pada rotasinya;
saling berbenturan, menyasar limbubu lalu menukik puting beliung
awan kehilangan tempat mengeram gabak yang menjatuhkan hujan
meluaskan sungai, arusnya bergulung, mengaum menelan kota

pada perasaian ini, pemburu bintang kehilangan arah
siklus tak menentu, bulan entah di mana dan matahari menjalar di tanah
telapak kaki pun melepuh di pijakan leluhur

kita pun terpuruk pada detak jam
petang pun serasa pagi

Padang, 2013/14   
                                                                   
SYARIFUDDIN ARIFIN.Lahir 1 Juni 1956 di Jakarta. Pendidikan ST-KIP Sumbar, jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia dan Akademi Ilmu Komunikasi (AIK) Padang. Buku puisi: Ngarai (1980),  Catatan Angin di Ujung Ilalang (1998), Maling Kondang (2012). Juga terhimpun dalam antologi: Negeri Abal-Abal (2013).

*

Mariati Atkah

HIKAYAT PULAUKELAPA
: Wawonii

/1/
Diberkatilah daratan ini dengan rimba lebat yang menyembunyikan
cendana dan meranti, salak anjing kampung dan nyanyi burung-burung.
Keheningan agung menitis dalam percik air yang tersandung
di batu-batu sungai. Sementara lapis-lapis bukit gemetar disapa angin
dan gelombang Laut Banda yang menggulung.

/2/
Di ladang belakang rumah, kesuburan tanah diterjemahkan oleh
gerumbul jagung sebagai daun yang meruah dan buah yang melimpah.
Sedang di pesisir pantai, biji kelapa berjatuhan dalam amuk mabuk
badai tenggara. Tapi seperti sejarah moyang pulau, di daratanmana
ombak mendamparkannya, ia akan bertunas jua.

/3/
Karena emas dan intan permata tak lebih berharga dari sebiji kelapa.
Orang-orang pulau berteriak menolak mesin yang akan menambang isi
perut mereka, mengoyak belantara dan membikin lubang di sekujur
daratan, agar mereka takperlu menadah air mata untuk minum dan
mencuci kaki yang berlumpur.

Makassar,Agustus 2013

MARIATI ATKAH. Puisinya termuat dalam antologi: Kaki Waktu, Requiem Bagi Rocker, Negeri Abal-Abal.

*

Beni Setia

MIMOSA

di bandara, setelah terbang sembilan
jam: mereka bilang masih sembilan
ratus kilometer lagi dengan kereta api

di stasiun, setelah melaju sembilan
jam: semua bilang masih sembilan
puluh kilometeran lebih dengan bus

di terminal, setelah perjalanan tiga jam:
beberapa orang bilang masih sembilan
kilometeran dengan menaiki ojeg motor

dekat jembatan, setelah tiga puluh menit
menerabas,si tukang ojeg bilang: masih
sekitar sembilan ribu langkah berjalan kaki

menyusuri setapak yang bersikelok, naik
dan turundi perbukitan. terus melangkah
–”hanya ada satu jalan setapak …,” katanya

kini aku terkampar. hanya beringsut. coba
menarik tubuh dengan jari mencengkeram
tanah–dengan ngotot menjulurkan tangan

sekuat tenaga menarik tubuh dengan sisa
tenaga. luka menggelusur saat kemarau–
mimpi penghujan datang dan jalanan licin

tapi altar di mana? tapi titik dahi runduk
menyentuh tanah di mana? kenapa cuma
menggelusur dengan tangan jauh terjulur?

2013

BENI SETIA. Lahir di Soreang, Bandung Selatan, 1 Januari 1954. Selulus SPMA, belajar sastra secara otodidak. Puisinya terkumpul dalam antologi: Yang Muda (1978), Senandung Bandung  (1981), Festival Desember (1981),  Puisi Indonesia 83 (1983), Tonggak 4 (1987), Legiun Asing (1987), Dinamika Gerak (1990), Harendong (1996), dan Babakan (2010).

*

Pringadi Abdi Surya

SEPANJANG TUBAGUS, SEPEREMPAT ABAD

i.
ia akan berusia seperempat abad, tetapi
belum mengerti caranya mengusir kesepian.

ii.
ia bermimpi menjadi remaja, menelepon dan mengirim sms cinta.
tetapi tiada lagi kekasihnya, tiada lagi perempuan-perempuan
yang lahir dari ujung daun. ia menengok ke seberang jalan,
bangunan-bangunan lebih tinggi dari kesombongan.

kepada siapa ia harus menjadi remaja, pikirnya
tetapi ia lupa, ia telah tak memiliki pikiran.

iii.
ia akan menyalakan tungku. tetapi tak ada kayu bakar
daun-daun kering di sepanjang tubagus menebarkan bau hangus

ada api kecil menyala di tulang daun, ia menangis melihatnya
api kecil lain di matanya sudah lama tiada

iv.
di kehidupan yang lalu, ia pasti seorang superhero
punya sayap dan tak malu memakai pakaian dalam di luar celana
yang ia herankan, kehidupan sekarang orang-orang lebih tak punya malu
sebagianbahkan tak memakai pakaian dalam

ia tahu, ia harus benar-benar menutupi dadanya yang gosong
karenaluka, dari kenyataan atau dari perasaan

ia tahu, ia harus belajar memiliki kelamin yang terpotong kekuasaan

2013

PRINGADI ABDI SURYA. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Sekarang bekerja di KPPN Sumbawa Besar. Buku puisinya, Alusi(2009).

*

Soni Farid Maulana

HOTEL DES 3 COLLEGES
16 RUE CUJAS 75005 PARIS, 2

Ada tiga burung putih melayang terbang
melintasi atap Sorbonne. Ada langit kelam
membentang ke arah Selatan. Ada pejalan kaki
memasukkan kedua tangannya ke saku celana

dengan langkah yang bergegas; dan aku
memandang semua itu dari balik kaca jendela
dalam pelukan udara Paris yang dingin,
jarum gerimis memahat puisi dalam dinding hatiku

merah marun. “Rindu itu ingin bertunas!” bisik angin.
Tapi ini hampir musim gugur,  jawabku. Dan aku
biarkan ia melayang jatuh;  untuk kemudian

aku hanyutkan di alun Sungai Seine. Ya,
berapa jarak lagi ke arah sana? Koak gagak hitam
menguncang dinding kota. Dinding kota

2013

SONI FARID MAULANA.  Lahir 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Lulusan Jurusan Teater ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) sekarang STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung. Buku puisinya, a.l.: Secangkir Teh (2005),Sehampar Kabut (2006), Angsana (2007), Opera Malam (2008),Pemetik Bintang (2008), Peneguk Sunyi (2009),  Mengukir Sisa Hujan (2010), Disekap Hujan (2011). Juga dalam antologi, a.l.: Negeri Abal-Abal (2013).

*

Bambang Widiatmoko

JALAN SEMBILU

Tegal, kenangan masa kecil menyusut
Dalam perjalanan di atas jip keriput
Tak terasa lelah meski selalu gelisah
Terombang-ambing dalam hidup salah langkah.

Tentu tak mudah menghapus kenangan itu
Tubuh kecilku dicabut, tak kenal kasih ibu
Rindu telah menjadi debu
Tak tahu pasti tempat yang dituju.

Merasa menjadi anak yang paling dungu
Menjadikan segala langkah selalu ragu
Terus kuingat Tegal dalam kenangan masa lalu
Menjadi titik awal hati tersayat sembilu.

2014

BAMBANG WIDIATMOKO. Kelahiran Yogyakarta. Buku kumpulan puisi tunggal: KotaTanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011). Sajaknya terhimpun dalam antologi: Tanah Pilih (2008), Sajak Rindu Bagi Rasul (2010), Equator (2011), Akulah Musi (2011), Tuah Tara No Ale (2011), Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko(2012), Senandung Semenanjung (2013),Secangkir Kopi (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya (2014) 

*

Herman Syahara

KANGEN

Merindukanmu
seperti merindu pada gema yang gaib
: orkestra turaes di hutan kecil tegalega
setiap menjelang kemarau tiba
di jingga langit kotamu

Merindukanmu
seperti merindu pada bau getah basah
pada guguran daun yang menyerak di ujung sepatu
di trotoar jalan ganesha
persis ketika senja tiba

Sebelum lampu-lampu menyala
sebelum bayang-bayang memanjang

Di ruang lain yang jauh
ruhku terperangkap tali biola Andrew Rieu

Air mataku menjadi barisan notasi
pada partitur instrumentalia Yanni

Aku merindukanmu
seperti merindu pada gema yang gaib

Begitu merdu
Begitu syahdu

Jakarta, 2013

HERMAN SYAHARA (HERMANSYAH). Kelahiran Garut, Jawa Barat, 1963. Pendidikan Jurusan Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Puisinya termuat dalam antologi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (2011), #Fiksi140 (2012), Negeri Abal-Abal (2013),  Menolak Korupsi (2013), Yang Melukis Tanahmu Sepanjang Masa (2014).

                                         
*

Eddy Pranata PNP

ELEGI UNTUK MANDEH

aku tidak ingin salung yang menyampaikan bisik ke telinga mandeh
aku tidak mau angin yang mencium telapak kaki mandeh

(jubah kepenyairan membawa terbang dari ranah minang
aku berangkat membawa luka-luka di seluruh tubuh)

kabut selat dan runcing karang telah menyepuh usiaku

aku harus pulang
rumah yang digusur
tubuh yang terbujur

beribu-ribu sesal berjejal

rel telah memberangkatkan bergerbong-gerbong dosa
melindas tubuhku

laut dan bukit menelan hulu-hilir perihku
mandeh, mandeh, mandeh, o, mandeh kandung!

diriku lumbung menerima seluruh kabar baik dan buruk
diriku tabung salurkan seluruh sakit-duka mandeh

aku adalah air mata
untuk mandeh
mandeh kandung!

Cilacap, 13 September 2013.

Catatan: mandeh (bhs. Minang) = ibu

EDDY PRANATA PNP. Lahir di Padang Panjang,Sumatra Barat, 31 Agustus 1963.  Buku kumpulan puisinya: Improvisasi Sunyi (1997) dan Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara(2012). Puisinya juga terhimpun dalam antologi: Rantak 8 (1991), Sahayun(1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996),Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatra Barat (1999).

—————————
Dari redaksi: Puisi-puisi ini adalah sebagian dari 153 penyair dalam Antologi Puisi Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit yang diterbitkan Kosakata Kita bekerja sama dengan Komunitas Radja Ketjil. Pada 20 Juni 2014 akan diluncurkan di Tegal. Diperkirakan 50-an penyair akan hadir pada acara berajuk “Temu Penyair Dari Negeri Poci” tersebut.

Loading...