Beranda News Budaya Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS

Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS

177
BERBAGI

BERSEDEKAP DI PINGGIR PINTU
aku bersedekap di pinggir pintu seperti menanti tamu
yang, konon, akan dating hari ini. tetapi karena kau meracau
mungkin tamu yang sudah janji tak akan ke rumah ini
    dan biarlah pintu itu terbuka, aku tetap bersedekap
di pinggir pintu. melupakan segala pertemuan,
juga tamu yang mungkin sudah kembali menjadi burung

mengepakkan bulu-bulunya, dari sayapnya memancur air
melebihi sebagai hujan. menggenangi kampung
menenggelamkan rumah, ternak-ternak hanyut

barangkali saja aku salah menetapkan waktu: tak ada tamu
yang akan dating hari ini. sedang aku sudah salah,
kenapa aku cepat-cepat menuju pintu dan bersedekap?

    tak ada tamu yang datang hari ini
    dan biarlah pintu ini terbuka…

15 Januari–2 Februari 2014

TENTANG ASUH

asuh anak pada perempuan asuh hidup di tangan lelaki

maka untuk apa kita bertengkar? aku akan pergi mengasuh hidup
sebelum matahari terbit dan pulang pada waktu yang entah
ingat bahwa jalan tak selalu lurus tak pula berliku-liku
bahkan seekor burung tahu di mana ia harus berumah
dan membuang kotorannya

    jika anak berada di jemari perempuan, tangisnya
    akan tumpah di pangkuan lelaki         :  begitulah
    kalender sudah menetapkan hari-hari libur dan sakit

aku sudah berjanji tak ada sakit bersemayam dalam diriku
agar hidup bisa kuasuh. jika di tanganku telah menyanyi
anak-anak, boleh Kaupanggil aku menuju lain Waktu!

asuh anak pada perempuan asuh hidup di tangan lelaki

perlukah ada waktu untuk pertengkaran?

2 Februari 2014

LALU GERIMIS

1
lalu gerimis dan kau mulai menimbang-nimbang
apakah akan terus jalan atau diam-berdiang
sementara malam menggelayut di pipimu
“tak ada bintang apalagi bulan di sini,” bisikmu

sambil menyentuh malam, dan wajah yang ragu
semakin mendamparkan tiap perahu akan berlayar

2
jangan menunggu bintang menyapamu
ini musim-musim hujan, mawar akan segera mekar
atau cepat berguguran. kamboja memutih
wanginya menyeringai di tiap nisan

kau tahu, terlalu sering merayakan desember
hingga lupa terompet yang berjejer di jalan
seperti sangkakala
: kiamat

3
dan cahaya-cahaya yang genit di langit
akan mati teriris ujung hujan

4
seperti meteor, kembang api meluncur
ke udara pekat
lalu sekarat

di ujung desember yang hujan
aku menemuimu
dan matamu terpejam, bibirmu bergetar:

“aku sudah jauh melayang
untuk Pulang…”

29-30 Desember 2013

JADI SUNGAI UNTUK BERSAUH

aku selalu menunggumu hingga kau datang
meski aku berhujan dan tubuhku basah
aku sudah menjelma jadi gerimis dan air
sejak alismataku sampai dagu

telah tergambar warna langit kelabu
barisan gerimis, desau hujan,
dan racau petir yang tak juga serak itu

dan sesekali kau jadikan sungai
untukmu bersauh ke entah…

17 Januari 2014

Isbedy Stiawan ZS lahir dan hingga kini di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Dipublikasikan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Majalah Sastra Horison, Tabloid Nova, Jurnal Nsional, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Merapi, Padang Ekspres, Haluan, Riau Pos, Lampung Post, Radar Lampung.

Buku cerpen dan puisinya yang telah terbit antara lain Aku Tandai Tahilalatmu, Menampar Angin, Perempuan Sunyi, Dawai Kembali Berdenting, Bulan Rebah di Meja Digger, Seandainya Kau Jadi Ikan, Kota Cahaya, Taman di Bibirmu, Dongeng Adelia, Perjalanan Menuju-Mu, Perempuan di Rumah Panggung.