Beranda Budaya Pentas Puisi-Puisi Pablo Neruda

Puisi-Puisi Pablo Neruda

2461
BERBAGI
Pablo Neruda (poetsandpoetry.wordpress.com)


TAWAMU
Ambil roti ini dariku, jika kau ingin,
ambil pula udara ini, namun
jangan ambil tawamu dariku.
Jangan ambil mawar,
kembang tombak yang kaucabut,
air yang tiba-tiba memancar
meluapkan suka cita,
gelombang perak
yang terlahir dari kedalaman jiwamu.
Perjuanganku sungguh kasar dan aku kembali
dengan sepasang mata lelah
ketika kusaksikan
dunia tiada berubah,
namun ketika tawamu hadir
tawa itu pun terlontar ke angkasa
dan segera mencariku
dan membuka pintu-pintu hidupku.
Sayangku, pada masa kegelapan ini
saatnya tawamu
hadir, dan jika tiba-tiba
kaulihat darahku menodai
bebatu jalan,
tertawa, karena tawamu
di genggamku akan menjelma
serupa pedang baru ditempa.
Lalu di laut musim gugur
tawamu pasti membangkitkan
bebuih jeram,
dan pada musim semi, Sayangku,
aku ingin tawamu laksana
bunga yang senantiasa kutunggu,
bunga biru, bunga mawar
dari gema negeriku.
Tertawa sepanjang malam,
sepanjang siang, sepanjang purnama,
tertawa sepanjang kelokan
jalan-jalan di pulau ini,
menertawakan kecanggungan
bocah lelaki yang mencintaimu,
namun ketika kubuka
dan kupejam mataku,
ketika langkahku pergi,
ketika langkahku kembali,
cegah aku demi mendapat roti,
udara, cahaya, musim semi,
namun jangan pernah ambil tawamu
atau aku akan mati.
KEMATIAN
Jika tiba-tiba kau sirna,
jika tiba-tiba kau tiada hidup lagi,
aku akan tetap hidup.
Aku tak berani,
aku tak berani menulis lagi,
jika kau mati.
Aku akan tetap hidup.
Ketika para lelaki tak lagi lantang berkata
di sana ada, suaraku.
Di tempat kaum negro selalu dihajar,
aku tak akan mati.
Saat saudara-saudaraku dilempar ke penjara
aku akan masuk bersama mereka.
Ketika kemenangan,
bukan kemenanganku,
tetapi kemenangan besar itulah yang tiba,
walau mulutku bisu:
akan kutatap kemenangan itu meskipun buta.
Tidak, maaf.
Jika kau tiada hidup lagi,
jika kau, Kekasih, Sayangku, jika kau
ah, jika kau telah mati,
segala daun akan gugur di dadaku,
akan menghujani siang dan malam jiwaku,
salju akan membakar hatiku,
aku akan berjalan dengan embun beku dan api
dan kematian dan salju, kakiku melangkah
menuju pembaringan mawarmu, sungguh, aku akan tetap hidup,
karena kau ingin aku ada
pada segala yang bergelora,
dan cinta, sebab kau tahu aku bukan cuma seorang lelaki
tetapi seluruh umat manusia.
SELALU
Tiada aku cemburu
pada mereka yang datang di depanku.
Seorang pria datang
dari bahumu,
seratus pria datang dari ikal rambutmu,
seribu pria datang antara payudara dan kakimu,
datang laksana sungai
penuh lelaki tenggelam
mengalir ke laut liar,
ombak yang kekal menderu, menuju Waktu!
Bawa mereka semua
ke tempat kini aku menantimu;
kita akan selalu sendiri,
kita akan selalu sebagaimana kau dan aku
sendirian di muka bumi,
untuk memulai hidup kita kembali!
KUJELASKAN BEBERAPA HAL
Tanyakan: dan di mana itu bebunga lili?
Dan metafisika kuntum-poppy?
Dan hujan yang berkali menghamburkan
kata-katanya memenuhi
lubang dan burung-burung?
Kini kujelaskan segala yang terjadi.
Aku tinggal di pinggiran
Kota Madrid, dengan genta-genta,
dan jam-jam, dan pohon-pohon.
Dari sana dapat kautatap bentangan
wajah kering Castille
bagai lautan kulit.
Rumahku disebut pula
rumah bunga, karena pada setiap sudutnya
bebunga geranium pun meledak: itulah
rumah nan indah
dengan anjing dan anak-anak.
Raul, kau ingat?
        Rafael, kau ingat?
Federico, kau ingat
                 saat dari bawah tanah,
dari balkonku, kau ingat
cerahnya bulan Juni membenamkan aneka bunga ke mulutmu?
Saudaraku, saudaraku!
          Suasana
bangkit diriuhi suara menggelegar, garam dagangan,
tumpukan roti berdebar,
kios-kios kaki lima di Arguelles dengan patung-patungnya
bagai tinta kering ikan hake:
minyak mengalir ke sendok,
semacam irama kelam
tercipta dari kaki dan tangan yang menyesaki jalan-jalan,
meter, liter, pada dasarnya
ukuran hidup yang tajam,
ikan-ikan bertumpukan,
tekstur atap-atap dengan matahari membeku
tempat baling-baling panah terpaku,
delusi gading daging kentang,
ombak dari tomat-tomat yang berguling ke laut membentang.
Dan pada suatu pagi semua itu terbakar
dan pada suatu pagi api unggun pun berkobar
menjilat dari tanah
       melahap manusia
dan sejak saat itu terbakar,
sejak saat itu mesiu,
dan sejak saat itu darah.
Para bandit dengan pesawat dan orang-orang Moor,
para bandit dengan cincin dan kaum perempuan bangsawan,
para bandit dengan rombongan biarawan hitam memercikkan berkah
datang melintasi langit untuk membunuhi anak-anak
dan darah anak-anak berlari sepanjang jalan
begitu senyap, laiknya darah anak-anak.
Bahkan serigala-serigala itu akan membenci,
bahkan bebatuan kering serupa duri akan menggigit dan meludah,
bahkan segala ular beludak akan merasa jijik!
Di depanmu telah kulihat darah
Spanyol yang bangkit
menenggelamkan kalian dalam satu gelombang
kebanggaan dan pisau!
Para jenderal
         pengkhianat:
lihatlah rumah matiku,
lihatlah Spanyol yang tumbang:
dari setiap rumah mati yang terbakar arus logam
bukan bunga,
dari setiap ceruk Spanyol:
Spanyol pun bangkit, dan dari setiap
anak yang mati muncullah senapan dengan mata menyala,
dari setiap peluru lahirlah kejahatan
hingga suatu hari akan kutemukan
hati kalian.
Dan kalian akan bertanya: mengapa puisinya
tidak bicara tentang mimpi saja, tentang daun,
atau kemegahan gunung berapi di tanah kelahirannya?
Datang dan lihatlah darah di jalan-jalan,
Datang dan lihatlah
darah di jalan-jalan,
Datang dan lihatlah darah
di jalan-jalan!
BURUNG
Hal ini dilepaskan dari satu burung ke burung lainnya,
seluruh karunia hari.
Hari pun pergi dari satu seruling ke seruling lainnya,
pergi berpakaian vegetasi,
dalam penerbangan yang membuka terowongan
yang akan dilintasi angin menderu
tempat burung-burung memecahkan
udara padat biru –
dan di sana, malam pun kembali.
Ketika kembali aku dari banyak perjalanan,
aku pun istirah dan hijau
antara matahari dan geografi –
kusaksikan bagaimana sayap bekerja,
bagaimana parfum ditransmisi
oleh telegraf berbulu,
dan dari atas kusaksikan jalan,
mata air dan atap-atap genteng,
para nelayan dalam pelelangan mereka,
celana-celana busa;
kusaksikan semua itu dari atas langit hijauku.
Tiada kupunya alfabet lebih
selain beburung walet dalam kawanan mereka,
betapa mungil, kemilau air
dari burung mungil di atas kobaran api
yang menari di luar serbuk sari.
YANG TAK TERBATAS
Kaulihat sepasang tangan ini?
Sepasang tangan yang telah mengukur
bumi, sepasang tangan yang telah memisahkan
mineral dan bebijian,
telah membikin perang dan damai,
telah meleburkan jarak
seluruh lautan dan sungai,
namun,
saat sepasang tangan ini merabamu,
duhai mungilku,
duhai biji gandum, duhai burung camar,
sepasang tangan ini tetap tak mampu melingkupimu,
sepasang tangan ini telah letih mengejar
merpati kembar
yang istirah atau terbang dalam payudaramu,
sepasang tangan ini terus menjelajah antara kakimu,
hingga melingkari pinggang pualammu.
Bagiku kaulah harta karun yang berlimpah
melebihi seluruh laut dan cabang-cabangnya
dan kau putih dan biru dan luas umpama
bumi saat musim panen.
Di wilayah itu,
dari kaki hingga alismu,
aku berjalan, berjalan, berjalan,
menghabiskan sisa hidupku.
KAU HARUS DENGARKAN AKU
Aku bernyanyi mengembara
di antara batang-batang anggur
Eropa
dan dalam angin,
angin Asia.
Yang terbaik dari sepanjang usia manusia
dan dari kehidupan,
dari kehalusan bumi,
dan damai sejati
kuhimpun darma perantauan hidupku.
Yang terbaik dari bumi yang satu
dan dari bumi yang lain
kupakukan pada bibirku
dengan laguku:
kebebasan angin,
kedamaian di taman anggur.
Kadang-kadang manusia seperti
bermusuh-musuhan
tetapi malam itu selubung
bagi semua
dan cahaya raja
menggugah kita;
cahaya dunia.
Dan ketika sampai aku di rumah-rumah
duduk mereka sekitar meja
kembali mereka dari kerja
dengan tangis atau tawa.
Semua sama.
Sekalian mata mencari
jalan cahaya.
Sekalian mulut menyanyi
lagu musim semi.
Semua.
Maka itu aku
di antara batang-batang anggur
dan dalam angin
memilih
yang terbaik pada manusia.
Dan kau harus dengarkan aku.

Penerjemah: ©Ahmad Yulden Erwin (dilarang mereproduksi untuk kepentingan bisnis tanpa seizin penerjemah)


Loading...