Beranda News Budaya Puisi-Puisi Tengsoe Tjahjono ‘Edisi Korea’

Puisi-Puisi Tengsoe Tjahjono ‘Edisi Korea’

2298
BERBAGI


KRONIK
PAGI SEPANJANG SUBWAY

/1/

Dari
mana jejak tiba. Bergegas. Jaket-jaket bergelembung oleh dengus, juga mata
tanpa
cahaya. Siapa bercakap-cakap. Tak ada.
Beriringan
diusung elevator ke pintu-pintu bawah tanah, ditimbun kerja
dilesakkan
ke dalam kereta yang melaju perkasa
/2/
Duduk
atau berdiri. Musik menundukkan telinga lewat handphone yang selalu menyala
Pikiran-pikiran
lenyap dalam gerbong. Tak ada yang bicara. Angin pun tak
Satu
setasiun, dua setasiun, tubuh didorong keluar-masuk
Lenyap
pada seribu tangga yang gigil
/3/
Tanda-tanda
panah ke kiri atau ke kanan. Laju. Pintu. “Ohoi, jangan tersesat,”
jebakan-jebakan
angka, huruf-huruf tak terbaca, pada hatimu bicara. Syal dileher
menjerat
jejak yang tak menemu ruang
(letakkan
telapakmu di udara. Rasakan bekunya)
/4/
Mata
itu bicara, tapi bisu. Tak ada peluit. Juga sinyal. Para pejalan menunggu waktu
berkunjung
Hanya
waktu disesaki oleh senyap. Gempita terkurung tembok besi, bisikanmu nyaris
tak
sampai
“Hwarangdae,
stasiun terdekat apartemenku, tak juga berkata-kata, memberikan seribu tangga
ke
rintih sepatu.”
/5/
Seorang
tua duduk di sebuah kursi panjang. Nafasnya menunggu, walau aku tak mengerti
siapa yang
dinanti.
Riuh lalu-lalang bergemuruh pada otak. Tak berkejap dipandangnya.
“Aku
menunggu gunung, tepatnya sebuah bukit, ada soju di bangku-bangku kayu. Aku
ingin mabok mencungkili masa lalu.”
Seoul,
30 Maret 2014
PINTU
Kukenal
kamu sebagai pintu. Kukenali karena bentukmu.
Melewatimu
harus menunduk, bayang-bayang separoh badan
Hanya
debu, hanya debulah aku
Lalu
kamu ajak aku bersila pada dataran papan hangat. Energi
mengalir
dari batin ditumbuk dalam lesung yang tersedia di sudut
“Bukankah
kelembutan itu sebuah pintu abadi?” Pintu lain dari
gerbangmu
tak
ada yang bisa mengekalkan buka atau tutup
salammu
selalu bersambut
dalam
bayang separoh tubuh 

Seoul,
30 Maret 2014

MEDITASI KIMCHI
Selalu
kutemukan musim dalam semangkuk kimchi. Salju pun mengirimkan kisah
rapuh
dari jauh. Masam, semasam-masamnya , hingga lambung memanggil-manggil nama-Mu
kala
jiwa terperangkap gerbong yang tak pernah menemu setasiun
juga
matahari dan gerimis malam hari. Memindahkan kimchi ke ruang-ruang pribadi
percakapan
yang tak kunjung usai. Bukankah kita selalu bergegas
gelisah
yang tak kunjung sudah
belanga
kimchi dikubur dalam tanah. Di luar, langit beku. Itulah keheningan, bisikmu.
Serba
menjauh dari riuh, berjumpa asam, seasam-asamnya
semakin
dicecap, semakin dalam nemu hakikat
dalam
kimchi kan kau temui sawi, irisan bawang, cabe merah, garam, dan gugusan waktu.
Adonan
musim diaduk dalam mangkuk. Siapa terbatuk-batuk tersedak tajam cuaca
Semua
menggigil di ruang tengah, pemanas telah lama mati. Bukankah begitu alasanku?
Hidangan
di meja tak sempurna tanpa kimchi. Musim yang tergelar siang-malam
menyajikan
narasi pohon-pohon, daun-daun bertimbun di kaki
Mat-itkae
duseyo!
”— ”Selamat makan!” begitulah kira-kira maksud-Mu.
Seoul,
14 Maret 2014

TENGSOE TJAHJONO dilahirkan
di Jember pada 3 Oktober 1958. Memperoleh gelar sarjana (S1), magister
(S2), dan doktor (S3) di IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri
Malang) pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tenaga akademis FBS Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini banyak menulis
puisi, di samping novel, cerita pendek, naskah drama, dan esei atau
kritik. Novelnya yang berjudul Di Simpang Jalan pernah dimuat secara
bersambung oleh Harian Surya Surabaya. 

Naskah dramanya yang berjudul
Jalan Pencuri dan Pohon dalam Piring Tanah pernah dipentaskan oleh
Teater Institut Surabaya. Tulisan-tulisannya yang berupa puisi, cerpen,
dan artikel dimuat di berbagai media: Harian Surya Surabaya, Jawa Pos,
Surabaya Post, Republika, Kompas, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Horison
,
dan sebagainya. 

Buku yang sudah ditulisnya ialah: Sastra Indonesia:
Pengantar Teori dan Apresiasi Puisi, Menembus Kabut Puisi, Mendaki
Gunung Puisi,
dan lain-lain.

Beberapa kali menjuarai lomba cipta puisi, antara lain: 5 Besar Lomba
Cipta Puisi Nasional (Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta, 1983), 10
Besar Lomba Cipta Puisi (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), 10 Besar
Lomba Cipta Puisi (Yayasan Selakunda Tabanan Bali, 1998). 

Pada tahun
2012 memperoleh Anugerah Seni di bidang sastra dari Gubernur Jawa Timur.

Buku puisi tunggalnya: Fenomena (Lembaga Kesenian Indrakila Malang,
1983), Hom Pim Pa (Temperamen Bengkel Muda Malang, 1984), Mata Kalian
(Temperamen Bengkel Muda Malang, 1988), Ning (Sanggar Kalimas, 1998),
Terzina Penjarah (Sanggar Kalimas, 1998), Pertanyaan Daun (Komunitas
Kata Kerja Malang, 2003), Salam Mempelai (Pustaka Ilalang, 2010),
Slopeng (Rivka Media, 2012), dan Yang Bertamu adalah Ilham (Sanggar
Kalimas, 2013). 

Buku antologi bersamanya dengan beberapa penyair lain antara lain:
Pendapa Taman Siswa Sebuah Episode (Universtas Sarjana Wiyata
Yogyakarta, 1983), Kul Kul (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), Suluk
Hitam Perjalanan Hitam Di Kota Hitam
(Lingkar Sastra Tanah Kapur Ngawi,
1994), Drona Gugat (1995), Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia
Merdeka
(Taman Budaya Surakarta, 1995), Bunga Rampai Bunga Pinggiran
(Parade Seni WR Soepratman, 1995), Akulah Ranting (Penerbit Dioma
Malang, 1996), Maha Duka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
Jakarta), Malsasa 2009 (2010), Pesta Penyair (DKJT, 2010), Moh (Sanggar
Kalimas Surabaya, 2012), Gresla Mamoso (2013), Selendang untuk Bunda
(2013), dll. Sampai kini ia menjadi pemimpin umum Majalah Sastra Kalimas,Surabaya.

Kini Tengsoe Tjahjono sedang tugas mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.

Loading...