Beranda Budaya Pentas Puisi-puisi ZAK, Sindiran Perilaku Politik dan Sosial

Puisi-puisi ZAK, Sindiran Perilaku Politik dan Sosial

85
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com


Datuk Dr. Zurinah Hasan, Zabidin Ismail (moderator), Dr. Arbak Othman, Isbedy Stiawan ZS saat sesi diskusi membahas karya  Pulara 5 di Pangkor, Malaysia.(Foto: Syarifuddin Arifin)

PANGKOR–Puisi-puisi Zambry Abdul Kadir (ZAK) dalam Politik, Politik, Politik melontarkan dengan cara sindiran, teutama perilaku berpolitik dan sosial. Metafor-metafor yang digunakan amat hakus dsn berkias.

Hal itu dikatakan Prof. Arbak Othmsn dari University Putra Malaysia pada diskusi membahas karya Festival Puisi dan Lagu Rakyat (Pulara) 5:di Hotel Coral Bay, Pulau Pangkor, Sabtu (13/12/2014) siang.

Dikatakan Arbak, dalam puisi “Dia Menujah dengan Lembing Kemarahan” ZAK menggunaksn frasa ‘lembing kemarahan’ dan perbuatan ‘menangisi kekecewannya’ meski metaforanya agak ringan sesusai dengan konteks dengan kegalauan dan kegagalan politik.

Arbak yang menganalis sajak-sajak ZAK melalui interpretasi fragmatik, menilai beberapa sajak ZAK menguarkan imaji yang  cantik tentang tentang kelompok pengikut partai politik yang kemudian memilih jalan berbeda.

Meski buku puisi Zambry A.K. bertajuk “Politik, Politik, Politik” tidak semuanya bicara soal dunia poliik yang digeliti penyair melakui partai UMNO, sebab sejumlah puisinys yang lain bicara soal sosial dan religi.

Tentang persahabatan, dikatakan Arbak Othman, terdapat pada puisi “Warkah dari Sahabat” yang menggambarksn kenangan tentang nasib pembela yang dilupakan oleh orang kampung. Atau puisi “Sepatu Dewasa” yang menggambarkan keadilan seorang ayah, lalu kenangan-kenangan sebagai anak nelayan di Pulau Pangkor, kegigihan seorang ayah yang hidupnya sebagai nelayan untuk menghidupi anak-anaknya.

Pembicara lain dalam diskusi bahas karya ini adalah Prof. Dr. Zurinah Hasan dan Isbedy Stiawan ZS.

Dewira