Beranda Budaya Pentas PUISI

PUISI

200
BERBAGI

JAUHARI ZAILANI:

TAMAN HATI

Kupu-kupu di Taman Gita Persada ©Anshori Djausal
Di taman ini, kupu-kupu saling bercumbu
Memadu kasih di antara bunga-bunga perdu
Hinggap di rumput berduri
Taman berduri, dikira taman hati

Terbuai khayal nan taman cinta segar
Akrab dan mesra tak selalu pacar
Ah, cinta melibatkan dua tubuh
Kupu-kupu merapat dan menjauh
Melambai-lambaikan kipas di taman nan teduh

Di taman ini, kupu-kupu tabur benih
Merawat, memupuk dan menjalin kasih
Menyiangi sepanjang waktu tiada letih
Warna bunga, padukan keserasian
Sari bunga, tumbuhkan harapan

Di taman ini, kupu-kupu berkutat di taman sendiri
Asyik masyuk lupakan taman yang sepi
Hijau perdu menguning layu
Daun-daun peneduh mengering kaku
Jalan-jalan, kupu-kupu tak lagi lalu

Taman indah tinggal bayangan sunyi
Khayalan indah tentang taman hati
Tabur benih dan Pupuk di taman ini
Sesal pada khayal dan lamunan diri

Yogya, 1982, 2014


ISBEDY STIAWAN ZS:


Increible Ilustration by abduzeedo

LALU KEDUA TANGANMU BERSAYAP

lalu kedua tanganmu
terbuka, ingin mengajakku bersama terbang
setelah sayapsayap memenuhi tubuhmu. aku tahu waktu sudah
amat malam. tak ada lagi yang akan pergi, kecuali inginmu
“jangan ragukan
kemampuanku, ke langit tujuh aku bisa sampai
dengan sayapsayapku di tangan ini. akan kubawa ke tempat-
tempat indah–berumput hijau dan salju, sungai bening dan
dingin–dan kumau kau mencintaiku,” katamu
tanpa katakata itu, aku
sudah mencintsimu Kekasih. tak perlu 
kau susun sayapsayap itu, kita akan tetap terbang. seperti malam-
malam yang sudah. bukankah kita lalui malam hingga kau terpejam
di dadaku?

kini kau siapkan lagi
sayap. tak ada nyanyian juga ayatayat mantra
kecuali senyumanmu. lalu sayapsayap di kedua tanganmu 
mengembang. kepaklah agar segera kita tinggalkan malam
di bumi, benderang di tempat lain

“o, sudah berapa malam
percintaan yang kita jahit pada sayap
di kedu tanganmu, hingga serupa layar?” bisikku
“seperti menanak
makanan untukmu aku tak akan menghitung
berapa kali sudah kujamu di meja makan?” balasmu
dan kini siaplah, akan
kuajak kau terbang. menyiang percintaan
dengan jiwa yang santan
10-19 Oktober 2014
ISWADI PRATAMA:

AKU AKAN MELUPAKANMU DENGAN TENANG 
aku telah mencintaimu
terlalu dalam
dan menerima begitu
banyak rasa sakit
namun karena itu, aku
mendorong diriku untuk makin merindukanmu
sampai sebuah perih
yang tak tertanggungkan lagi, menghentikanku
lalu aku akan tak
mengharapmu lagi
dan melupakanmu dengan
tenang
kau mungkin masih akan
memberiku sedikit kegembiraan
–seperti biasanya—
agar api hasrat dalam
diriku tak padam
sebab kau masih ingin
kucintai
meski aku tak kau
inginkan
tapi ilusi semacam
itu,
tak akan lagi
mengecohku
aku tinggal menunggu
luka terakhir
untuk merasai tunai;
habis tuntas tak bersisa
dan aku akan
melupakanmu dengan tenang
terbang dengan rasa
riang; ringan dan bebas
tanpa sedikit pun
ingatan tentangmu
Memory by Sarah Watts (dok gentlepurespace.com)

aku tinggal menunggu
satu sayatan terakhir

dari pisaumu yang
lembut dan berkilau itu
yang kini mulai kau
sentuhkan padaku
semua yang kukatakan
ini, saat ini,
mungkin akan jadi
lelucon menyenangkan
yang melengkapi kencan
malammu
tapi suatu ketika,
semua yang kurasakan
ketika menuliskannya
akan menjadi milikmu,
seluruhnya,
dan saat itu, kau akan
mengerti
seberapa dalam cinta
telah menenggelamkanku
dalam lautan gelapnya
seberapa perih luka
yang telah kau kemas dengan fasih ini
menghancurkanku hingga
tak bisa kupulihkan lagi
maka kau pun akan
mengharapkanku
tapi aku, ketika itu,
telah melupakanmu
dengan amat tenang
II.
aku memang tak bisa
mengatakan
“semua ini bukan
sesuatu yang menyedihkan”
bahkan seluruh
kata-kata yang mencoba mematutnya
hanyalah kertas
peredam air
barangkali engkau akan
mengatakan; aku telah keliru
tapi di hadapan cinta;
seseorang tak bisa memilih
karena ialah yang
dipilih
aku sebenarnya telah
cukup lama merasa letih
tapi tangan-tangan
cinta yang kukuh
terus menerus
menarikku untuk menghidangkan
roti dan anggur bagi
lapar dan dahagamu
seraya berbisik; “kau
akan melupakannya dengan tenang,
di saat lapar dan
dahaganya sempurna”
maafkanlah aku,
karena telah pula
membiarkan waktu
sedikit demi sedikit
menghapus seluruh kenangan tentangmu
lalu pada saatnya,
cinta akan membawaku pergi darimu
mengubah dan
memulihkanku ke dalam hati para pencinta
di mana kau tak ada
Februari, 2012

TENGSOE TJAHJONO:

ANAKKU MENGGELAR PETA DI MEJA

anakku menggelar peta di meja. matanya berlari dari lembah ke
gunung, menjelajah benua dan samudra. ketika hujan turun ia pun berteduh di
bawah trembesi, beringin, dan jati. dinikmatinya guliran air di rambut dan
pipi. acapkali dipandangnya matahari lewat kecipak telaga pada jiwa.
“bapak, ini tropika. aku cinta.”
anakku menggelar peta di meja. di ujung tanjung ia menegak,
meraba luas lautan. kapal-kapal berlayar di dadanya, menyinggahi dermaga demi dermaga. lihat, bendera pun berkibar memainkan rambut
ikalnya. lalu ia catat riwayat ikan, udang, kerang, bunga karang, ganggang, dan
batuan ke dalam buku setengah kumal. “bapak, maritim negeri kita, ohoi,
betapa kaya.”
©Sarah Watts

anakku menggelar peta di meja. di cakrawala ladang-ladang
membentang. kopi, teh, cengkeh, pala, merica, dan entah apa saja bertumbuhan di
jantung. bertumbuhan sepanjang musim, dikemul cuaca, diguyur hangat udara. ia
ingat guru sejarah pernah berkisah bahwa belanda menjajah oleh sebab rempah.
“bapak, betapa kaya negeri kita.”

anakku menggelar peta di meja. selembar peta yang dipungutnya
dari gundukan sampah sisi rumah. air kali mencoklat dari hulu menuju
kapiler-kapiler pada tubuh. mengusung rumah-rumah papan, tanah becek, cacing
dan kecoak. kalender pun berjatuhan kehilangan angka, tak bisa dipungut sebab
waktu bukan lagi punyaku. “bapak, hanya ada air di meja. perut kita betapa
danaunya.”
anakku menggelar peta di meja
aku sembunyikan air mata
seoul, 17 oktober 2014