Pujian

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Menjelang senja temaram langit memerah di ufuk barat, ibu saya dulu bilang itu Candikolo. Saat seperti itu anak-anak tidak boleh bermain, harus pergi ke langgar (tempat salat berjamaah di kampung orang Jawa). Setelah kumandang azan biasanya santri-santri akan mengumandangkan pujian-pujian untuk Rasullulah dan menyanjungagungkan beliau sebagai utusan Pemilik Hidup, atau bisa juga kalimat syukur kepada Allah.

Begitu imam datang, maka pujian berhenti dilanjutkan ikhomah untuk memulai salat magrib. Anehnya, puji-pujian itu dikumandangkan saat magrib saja, waktu waktu lain seingat penulis tidak. Mungkin karena setelah salat magrib selesai, maka pelajaran mengaji kitab dimulai; dan dipimpin langsung oleh Pak Imam.

Suasana seperti itu sekarang sudah tidak ada, entah kalau di tempat lain. Pergeseran ini seiring dengan makin berkurangnya fungsi langgar atau musala sebagai lembaga pendidikan nonformal keagamaan yang ada di dalam masyarakat. Kebanyakan orang tua sekarang lebih senang langsung memasukkan anaknya ke lembaga formal seperti pesantren. Hal seperti itu sah-sah saja; karena pilihan akan kualitas dan kemampuan finansial untuk saat ini memiliki ragam pilihan yang banyak dan memungkinkan.

Sisi lain, beberapa hari lalu dalam rapat penentuan kelulusan ujian proposal disertasi calon doktor, tim penguji bersepakat promovendus dinyatakan lulus dengan predikat “pujian”. Oleh karena itu, yang bersangkutan dipersilakan melanjutkan langkah berikutnya untuk menuliskan hasil penelitian dan pikirannya dalam bentuk disertasi.

Sementara beberapa saat lalu, tatkala melihat cucu yang ngambek tidak mau makan, maka keluarlah jurus “pujian” dan sedikit rayuan, agar cucu mau makan. Entah karena takut atau terpaksa, cucu akhirnya mau menuruti perintah kakek. Di tengah mereka makan, ada yang nyeletuk, dan ini membuat senyum: kakek galak…. Entah kenapa karena diucapkan cucu, kalimat itu jadi lucu.

Beda lagi yang ada di televisi. Pemandu acara pandai sekali mencari diksi untuk “memuji-muji” pejabat yang diwawancarai. Tampak sang pejabat senang sekali, mukanya bersinar, matanya berbinar, sehingga dari jauh tampak seperti tampilan bulan purnama. Bahkan bahasa tubuh pun menjadi berbeda, bahu sedikit naik, tangan bergerak meyakinkan, posisi duduk condong ke depan. Dahsyatnya pujian untuk sang pejabat.

Lalu apa sebenarnya esensi pujian itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, pujian adalah menyatakan sesuatu yang positif tentang seseorang, dengan tulus dan sejujurnya. Pujian itu adalah sesuatu ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa tersanjung, sehingga dapat juga memberikan motivasi kepada orang yang dipujinya.

Ternyata ada dua kata yaitu “pujian” dan “tersanjung” menjadi berhubungan secara aksiomatik dalam hukum “Jika, maka”. Oleh karena itu, harus cermat dalam melihat hubungan keduanya; karena bisa berbentuk hubungan positif bisa juga negatif; dalam pengertian implikasi dari hubungan keduanya. Berarti benar sinyalemen seorang rekan profesor yang juga seorang agamawan; menyatakan bahwa harap berhati-hati pada saat seperti sekarang ini. Orang yang berkata “saya ihlas” bisa jadi dirinya tidak ikhlas, hanya karena ingin mendapat “pujian” maka dia harus berucap ihlas.

Berlanjut lagi sinyalemen itu “Orang yang selalu ingin dipuji berarti dia tidak yakin dengan keberhasilannya, tetapi ingin dipuji  berhasil”. Orang yang berkata “Saya jujur” berarti dia ragu akan kejujurannya. Namun karena ingin dipuji bahwa dia jujur, maka dia harus mengatakan “Saya jujur.”

Tampaknya ada pembelokan logika berjamaah di sini, karena kita semua mengajarkan nilai dengan graduasi pujian untuk suatu keberhasilan. Kita memberikan pujian kepada seseorang tentang sesuatu pekerjaannya, dan masih banyak lagi. Padahal setiap kita menghadapkan muka kita ke Sang Khalik, mulut kita selalu berkata “Segala puji bagi-Mu ya Robb….”

Kalau demikian apakah memberikan pujian itu masuk wilayah larangan? Tentu tidak. Karena pujian untuk makhluk itu hanya sebagaian kecil dari segala puji yang hanya diperuntukkan pada Sang Khalik. Dengan kata lain, kita hanya meminjam pakai satu atau beberapa puji saja, jika selesai harus segera dipulangkan. Menjadi persoalan adalah mahluk yang bekerja karena keraguannya, maka berharap puji. Di sana tampak ada “kehalusan” pencurian citra untuk suatu keberhasilan.

Selama ini banyak tidak kita sadari bahwa pekerjaan apa pun jika hanya berharap pujian, maka didalamnya secara hakiki ada unsur ketidakihlasan untuk bekerja. Oleh karena itu, apa pun pekerjaan kita, kerjakan saja dengan tanpa embel-embel apa pun, sejauh itu benar secara hukum Tuhan dan hukum negara, serta masyarakat. Sebab,  pembalasan yang paling adil dari semua pekerjaan kita nanti akan kita jumpai dalam pengadilan dari Yang Maha Adil ditempat pengadilan yang sangat adil.

Membangun citra diri dengan berharap akan pujian dari orang lain, hal tersebut sama saja dengan mengejar bayang-bayang diri diterik matahari. Kita berhenti bayangan akan berhenti, kita kejar bayanganp un akan lari. Ternyata pujian bisa membuat orang mabok kepayang, hari senja di kira pagi, hari malam di kira siang.

Jika kita mau memahami esensi dari peristiwa itu, ternyata hal tersebut meneguhkan akan deklarasi diri bahwa manusia tidak berhak akan pujian, karena hak mutlak akan pujian itu hanya ada pada Yang Memiliki Hidup. Hanya kepongahan manusia akan status, maka sering tergelincir kepada rasa diri ingin dipuji. Mari kita berdoa semoga terhindar dari menzalimi  diri sendiri hanya karena mengejar pujian.

Selamat ngopi pagi!