Pulang

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Usai sudah pertemuan yang memakan enargi pemikiran memikirkan negeri ini. Sebagai anak negeri yang bertanggungjawab atas negerinya merasa puas karena telah mengukir cetak biru untuk dilaksanakan guna meneruskembangkan generasi masa depan agar menjadi lebih baik lagi.

Setiap cerita ada akhirnya, setiap peristiwa ada tokohnya, setiap fragmen ada alurnya, dan setiap pertemuan ada penutupnya. Demikian juga semula dibuka dengan “Selamat Datang” dan saat berakhir akan berucap “Selamat Jalan”. Dengan kata lain setiap insan di dunia ini akan menjadi pelaku sejarah yang peristiwanya menyejarah; dan akhirnya menjadi sejarah. Terlepas apakah itu sejarah untuk dirinya sendiri, kelompoknya atau institusinya, bahkan negerinya.

Kemudian kita semua akan mengatakan “mari pulang”; walaupun sebenarnya pemahaman pulang itu hanya kata petunjuk akan tempat secara fisik, sementara pemahaman hakekat kita tidak pulang dalam pengertiaan waktu; karena waktu tidak bisa diputar ke posisi semula dengan kita beri label “pulang”, dia terus berjalan menuju “berpulang”. Kita bersama waktu meneruskan waktu untuk melakonkan sesuatu lagi yang baru dalam proses kehidupan yang sedang melaju menuju pada keberpulangan.

Memaknai sesuatu dengan waktu, maka sebenarnya kita tidak bisa pulang, karena kita terus berjalan dibawa bersama sang waktu menuju ke tempat datang yang baru. Oleh sebab itulah maka dunia ini disebut fana karena selalu berada pada “selamat datang”, tidak pernah berada pada “selamat akhir”; karena perpindahan tempat tidak sebangun dengan perpindahan waktu. Maka benarlah orang bijak mengatakan setiap saat kita berada pada posisi selamat tinggal dan selamat datang sekaligus secara bersamaan.

Jika eksistensi waktu seperti ini kita pahami secara filosofis, maka kita tidak perlu ragu atau bahkan merasa aneh jika semula kita menyukai atau membenci sesuatu, kemudian menjadi membenci atau menyukai sesuatu. Saat pemahaman eksistensi ini dipahamkan kepada seorang doktor yang duduk di sebelah; seketika beliau terperanjat, seraya berkata, “Pantas semula saya suka sekali dengan lagu-lagu yang bernuansa itu; justru sekarang saya membuangnya jauh jauh, karena saya lebih suka mendengar shalawatan”. Kalimat itu diteruskan berarti proses waktu sedang berjalan membawa beliau menuju pada titik keberpulangan.

Sangatlah tepat kalau seorang aulia mengatakan bahwa “waktu adalah pedang”; karena waktu selalu bergerak menebas masa, dan tidak bisa diputar balik. Di sini letak dimensi masa lalu, masa kini dan masa depan, dipahamkan. Semua mahluk di dunia ini akan berada pada dimensi tiga masa itu; dan setiap saat bergerak pada ketiga ranah tadi. Oleh karena itu, saat manusia melakonkan episode kehidupannya harus selalu menyadari bahwa dirinya dibawa oleh waktu yang terus berjalan.

Seorang sahabat mengatakan lakonkanlah suatu cerita sebaik baiknya. Salah satu yang harus dijaga adalah jangan menyakiti atau merugikan orang lain, karena waktu itulah yang akan menggores hati atau perasaan menjadi terluka. Apabila itu sudah terjadi; maka tidak akan ada obat yang mampu menyembuhkannya, termasuk sang waktu itu sendiri.

Melalui pemahaman akan eksistensi waktu yang meneguhkan akan kefanaan dunia dan isinya, maka laku Zuhud adalah salah satu pilihan yang dapat kita tempuh, dari sejumlah pilihan yang ada. Zuhud sendiri memiliki sejumlah batasan, salah satu diantaranya adalah sifat yang telah dimiliki manusia untuk memandang dunia serta akhirat. Ada juga yang menganggap pengertian zuhud adalah upaya melupakan dunia untuk mencintai Allah SWT saja.

Sifat zuhud akan mengesampingkan segala yang berkaitan dengan duniawi. Zuhud sendiri memiliki beberapa tingkatan. Menurut Imam Ahmad (diunduh: 5 Desember 2021. Pk.02.45), terdapat tiga  tingkatan zuhud yang dapat kita pahami: Pertama, Orang awam menganggap zuhud adalah meninggalkan keharaman. Kedua, Orang istimewa (khawash) menganggap zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang halal sekalipun melebihi kebutuhannya. Ketiga, Orang sangat istimewa (al-‘arifin) mengganggap zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk mengingat Allah SWT.

Mengutip pada laman yang sama; lebih rinci lagi menurut Abdul Mun’im Al-Hasyimi di dalam buku Akhlak Rasul yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sedikitnya ada lima faktor pengaruh  zuhud: (1) Memikirkan kehidupan akherat dengan menganggap dunia sebagai ladang akhirat; (2)  Menyadari bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hari dari mengingat Allah SWT; (3) Menumbuhkan keyakinan bahwa memburu kehidupan dunia saja sangat melelahkan; (4) Menyadari bahwa dunia sebagai bentuk laknat, kecuali zikir, belajar, mengajar, dan pekerjaan yang hanya ditujukan pada Allah SWT; (5) Merasakan dunia dari sudut pandang hina dan godaan yang bisa membahayakan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Melalui kacamata zuhud manusia untuk selalu diminta sadar akan waktu, sehingga “mengambil” dunia hanya secukupnya, sekedar untuk bekal menuju berpulang. Sesuatu yang bernama bekal, jika kebanyakan akan memberatkan, jika tidak punya akan menyulitkan. Oleh karena itu,  konsep “cukup” adalah sesuatu yang tepat untuk memaknakannya.

Selamat Ngopi Pagi.

  • Bagikan