Pulau Pahawang dan Legenda Mpok Awang

  • Bagikan
Hutan mangrove di perairan Pahawang kini dijaga dengan baik oleh warga. Hutan ini juga menjadi objek wisata dan laboratorium alam. (Foto: teraslampung.com/dok oyos saroso hn)
Hutan mangrove di perairan Pahawang kini dijaga dengan baik oleh warga. Hutan ini juga menjadi objek wisata dan laboratorium alam. (Foto: teraslampung.com/dok oyos saroso hn)

TERASLAMPUNG.COM– Menurut kepercayaan warga Desa Pulau Pahawang, Lampung, Mpok Awang (seorang perempuan keturunan Cina dari Betawi) merupakan orang pertama yang tinggal di desa mereka pada tahun 1800-an Masehi. Ketika perempuan Cina Betawi yang diyakini sakti itu meninggal, jasadnya dimakamkan di atas bukit desa tersebut.

“Bekas bangunan makamnya masih ada. Tetapi sekarang sudah rusak karena dibongkar oleh pendatang yang mencari harta karun. Sebab, pernah tersiar kabar bahwa di dalam makam Mpok Awang tersimpan harta karun,” kata Supriyanto.
Legenda Mpok Awang melahirkan kearifan lokal dalam benak pribadi-pribadi masyarakatnya untuk tidak mengutak-atik apalagi sampai merambah hutan bukit batu itu karena keramat desa ada di sana. “Makanya, hutan di bukit di Pulau Pahawang tetap lestari sampai sekarang. Karena hutannya lestari, sebagian air di Pulau Pahawang tidak payau apalagi asin, airnya terasa tawar dan layak diminum,” kata Supriyanto.
Entah benar atau tidak cerita soal Mpok Awang itu, yang pasti semua warga Desa Pulau Pahawang kini tidak ada yang berani menenang sebatang pun pohon mangrove. Sejak belasan tahun lalu mereka menanam dan menjaga pohon mangrove bersama-sama. Jika ada pendatang yang mencoba menebang pohon mangrove dan mengebom ikan dipantai, mereka akan bersama-sama mengusirnya.
Pulau Pahawang merupakan salah satu pulau dalam Gugus Pahawang. Gugus Pahawang terdiri dari pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Maitam, Pulau Kelagian, Pulau Pahawang, Pulau Pahawang Lunik, Pulau Lalangga Balak, Pulau Lalangga Lunik, Pulau Tanjung Putus, Pulau Lunik, Pulau Balak, dan Pulau Lok. Semua pulau itu masih terlihat asri. Pantainya masih bersih. Terumbu karangnya pun terlihat indah. Jadi, wisatawan yang hendak berkunjung ke Desa Pulau Pahawang bisa sekalian berkeliling pulau-pulau kecil itu sambil memancing.
“Kalau ada wisatawan yang hendak mendekati perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau, pemilikm perahu juga siap mengantar. Alam bawah lautnya tidak kalah dengan Pantai Senggigi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kalau beruntung, bisa menikmati indahnya lava pijar Gunung Anak Krakatau,” kata Herza Yulianto.
“Wisatawan juga bisa membakar ikan segar hasil memancing di laut. Kami akan siapkan paketnya untuk memuaskan pengunjung,” tambahnya.Oyos Saroso HN

  • Bagikan