Punakawan

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial FKIP Unila

Sambil menunggu datangnya panggilan subuh, pagi buta itu terlintas dibenak betapa bahagianya hidup dijaman kini, karena pada waktu dulu, jika ingin tertawa terbahak bahak harus nonton atau paling tidak mendengarkan melalui radio bagaimana ulah para Punakawan atau pelawak saat tampil dalam satu pentas cerita, dan diperankan oleh tokoh itu itu saja. Berbeda dengan jaman kini, jika kita ingin tertawa cukup bermodal gawai, mau mendengar dan ikut tertawa model apa saja ada di sana, dan dalam setting apa saja tersedia.

Pada tulisan ini tidak membahas tentang pelawak akan tetapi focus pada Punakawan. Istilah panakawan berasal dari kata pana yang bermakna “paham”, dan kawan yang bermakna “teman”. Maksudnya ialah, para panakawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, tetapi mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan sering kali mereka bertindak sebagai penasihat majikan mereka tersebu. (diunduh: 16 Juni 2021. Pk.04.00).

BACA JUGA:   Tuan Ahok Masih Bilang "Ngaco"

Hal yang paling khas dari keberadaan panakawan adalah sebagai kelompok penebar humor di tengah-tengah jalinan cerita. Tingkah laku dan ucapan mereka hampir selalu mengundang tawa penonton. Selain sebagai penghibur dan penasihat, adakalanya mereka juga bertindak sebagai penolong majikan mereka di kala menderita kesulitan. Misalnya, sewaktu Bimasena kewalahan menghadapi Sangkuni dalam perang Baratayuda, Semar muncul memberi tahu titik kelemahan Sangkuni. (diunduh: idem).
Fungsi dan peran Punakawan sekarang sudah bergeser dan bisa dilakukan oleh siapa saja dalam dunia maya program apa saja. Hal ini dapat kita simak dalam layanan pemberitaan yang menyediakan laman komentar; kita bisa membaca peran Punakawan banyak dipakai oleh para komentator, terlepas apakah itu pujian setinggi langit, atau ejekan serendah-rendahnya.

Dengan kata lain kalau ingin tertawa sekaranglah waktunya, dan jika ingin marah tunda saja waktunya. Karena marah dan tawa itu teman seiring. Ditengah tawa pasti ada marah, sebaliknya ditengan marah ada tawanya. Jadi kalau sedang marah sebenarnya kita sedang melakonkan bentuk tertawa versi lain. Sebaliknya, kalau kita sedang tertawa sejatinya sedang melakonkan marah dalam bentuk lain.
Demikian halnya dengan Punakawan; semua kita bisa menjadi punakawan teman lain; atau sebaliknya teman lain itu bisa jadi punakawan diri kita. Kesulitan yang terjadi adalah menjadi Punakawan diri sendiri. Tampaknya menjadikan diri sendiri sebagai Bendoro (majikan) dan sekaligus Punokawan; adalah memerlukan kontemplasi dan kematangan diri yang paripurna.

BACA JUGA:   Rakyat Dipecat

Sebagai contoh pendek adalah manakala ada orang lain menyakiti diri kita, maka dengan ringan kita bisa bercerita dengan siapapun. Sebaliknya manakala kita menyakiti orang lain, maka kita tidak mampu mendeskripsikan itu kepada pihak lain. Lebih parah lagi kita sering gagal mendeskripsikan diri bahwa kita pernah menyakiti diri kita sendiri.

Oleh karena itu, mari kita mentertawakan diri kita sendiri dahulu sebelum menertawakan orang lain. Dan tertawalah sebelum tertawa itu di larang, karena mati tertawa ala Rusia sudah ada; namun janganlah tertawa sampai lupa.***

 

.com/t/e/teraslampung.com.1193498.js" async>
  • Bagikan