Beranda News Lingkungan Rachmat Witoelar Ingatkan Pentingnya Pengelolaan Air Terpadu untuk Antisipasi Perubahan Iklim

Rachmat Witoelar Ingatkan Pentingnya Pengelolaan Air Terpadu untuk Antisipasi Perubahan Iklim

98
BERBAGI
Rachmat Witoeler saat menjadi pembicara utama pada peringatan Hari Air Sedunia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan UNESCO Office Jakarta, Rabu, al 22 Maret 2017.

TERASLAMPUNG.COOM – Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, mengatakan perubahan iklim memberi dampak besar terhadap beberapa sistem global, salah satunya terhadap sistem air global.

“Suhu yang makin panas karena konsentrasi gas rumah kaca yang makin tinggi, mengakibatkan makin banyak uap air di udara. Saat ini, uap air di udara sudah meningkat 4% dibanding 30 tahun yang lalu. Sehingga, frekuensi dan intensitas hujan deras makin tinggi, mengakibatkan semakin banyak kejadian banjir dan tanah longsor. Ini salah satu pengaruh perubahan iklim terhadap sistem air global,” kata Rachmat Witoeler saat menjadi pembicara utama pada  peringatan Hari Air Sedunia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan UNESCO Office Jakarta, Rabu, al 22 Maret 2017.

Kegiatan yang dihadiri oleh sebagian besar pemuda ini berada dalam rangkaian acara Indonesia Funds-in-Trust (IFIT).

Tema tahun ini yaitu “Wastewater: The Untapped Resource”, yang berfokus pada perubahan paradigma dunia bahwa air limbah adalah sumber daya, bukan limbah tak berguna, yang belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat dunia.

Menurut Rachmat Witoelar, peningkatan suhu mencairkan banyak es yang akhirnya mengalir ke laut. Padahal, ini merupakan cadangan air bersih untuk manusia.

“Manusia juga masih kurang bijaksana dalam pengelolaan air, misalnya 80% air limbah tidak diolah dan langsung dibuang, padahal sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali seperti untuk kepentingan pertanian dan peternakan, pembangkit energi, industri, dan lain-lain,” katanya.

Rachmat Witoelar mengajak masyarakat termasuk pemuda untuk lebih kritis lagi menyikapi penggunaan dan pengelolaan air.

“Perubahan iklim dan meningkatnya populasi manusia memberi tekanan yang besar pada sumber daya air kita. Sebanyak 40% populasi dunia mengalami kelangkaan air. Program adaptasi perubahan iklim harus dilaksanakan untuk mengatasi krisis air tersebut melalui penggunaan teknologi tepat guna.Jika kita semua ingin agar generasi masa depan tercukupi kebutuhan air bersihnya, pengelolaan airnya harus benar dimulai dari sekarang,” tandasnya,

Loading...