Beranda Views Jejak Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (2)

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (2)

78
BERBAGI

Oleh: Kees Groeneboer*

Dari banyak perbandingan bahasa dalam semua publikasinya terbukti bahwa Van der Tuuk juga sudah memiliki pengetahuan mengenai berbagai bahasa lagi, seperti bahasa Nias, Aceh, Rejang, Mentawai dan Melayu-Minangkabau, bahasa-bahasa Filipina seperti bahasa Tagalog dan Visaya, bahasa Hindustan, bahasa Favorlang dan bahasa-bahasa lain dari Taiwan, juga mengenai bahasa Cina, Vietnam, dan bahasa Siam.

Melalui publikasi-publikasi dari rekannya, yang juga bekerja sebagai ahli bahasa untuk Persekutuan Alkitab, dia memperoleh pengetahuan tentang bahasa Dayak, Bugis dan Makasar. Persekutuan Alkitab Belanda pada tahun 1862 sudah mendesak Van der Tuuk untuk menyelesaikan pekerjaannya mengenai bahasa Batak, dan memintanya untuk berangkat ke Hindia-Belanda lagi, kali ini untuk menyusun kamus dan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Bali. Namun, dia senantiasa menunda keberangkatannya untuk dapat menyelesaikan berbagai publikasi yang lain dahulu.

Dia misalnya menyusun beberapa buku bacaan dalam bahasa Melayu untuk anak sekolah di Hindia-Belanda, menerbitkan studi mengenai bahasa Melayu-Batavia, dan suatu uraian mengenai koleksi naskah berbahasa Lampung. Baru pada bulan Mei 1868 dia berangkat lagi ke Hindia-Belanda.

Pada saat kedatangannya di Batavia pada bulan Juli 1868 Van der Tuuk mendapat berita bahwa untuk sementara waktu dia tidak dapat pergi ke Bali karena terjadi pemberontakan di distrik Buleleng. Dia mendapat tawaran untuk selama lima bulan melakukan studi bahasa di daerah Lampung atas biaya pemerintah Hindia-Belanda.

Akhir Agustus 1868 dia berangkat ke Teluk Betung, dan menginap selama hampir empat bulan di rumah Daniel W. Schiff, yang pada periode 1868-1870 menjabat sebagai residen di daerah Lampung. Dia sangat cocok dengannya dan bahkan darinya dia mendapat dua pemuda Lampung – Sandi dan Abdullah – untuk membantunya belajar bahasa Lampung yang dipakai di Teluk Betung. Rumah residen terletak di Bukit Talang di mana udaranya sejuk dan bahkan jauh lebih sehat daripada di Teluk Betung sendiri yang berada di kawasan berawa.

Dia sangat positif mengenai penduduk setempat: ‘mereka terbebas dari sikap penjilat orang Jawa, dan mereka mengingatkan saya pada orang Batak yang jika memungkinkan ingin saya kunjungi lagi’ (15-11-1868).

Dia memang mengeluhkan tentang kurangnya percakapan intelektual, seperti yang terjadi di mana-mana di Hindia-Belanda: ‘Kelompok terbesar dari penduduk berkulit putih lahir di Hindia-Belanda dengan ibu pribumi dan ayah orang Eropa, dan hiburan terbesar mereka di sini adalah: bermain kartu dan berdansa. Oleh karena saya tidak berpartisipasi dalam kedua hal tersebut, di sini saya kadang-kadang merasa terasing dan tersendiri, terutama pada malam hari (15-11-1868).

Pendapatnya mengenai kedua gurunya – Sandi dan Abdullah – sangat baik, mereka pintar dan dalam waktu satu setengah bulan dia sudah lumayan dapat mengerti dan berbicara bahasa Lampung. Memang menurutnya sangatlah sulit untuk mempelajari bahasa Lampung karena hampir tidak ada teks-teks tertulis: ‘Oleh karena itu setiap frasa, yang diucapkan oleh guru-guru saya, saya tulis, dan dari situ saya belajar mengenal arti dan penggunaan semua kata. Dengan cara ini saya dapat belajar bahasa Lampung dengan baik, seperti bila saya belajar dengan menggunakan teks-teks bahasa Lampung yang tertulis.

Melalui cara ini kosa kata saya bertambah setiap hari, dan saya baru akan mulai mempelajari dialek lainnya saat saya sudah menguasai bahasa ini dengan baik, dan saya sudah dapat mengerti sebagian besar apa yang dikatakan kepada saya’ (17-12-1868). Pada bulan November 1868 dia melaporkan bahwa untuk studi bahasa dia akhirnya dapat memakai dua cerita epik: Tjarita Anag Dalom dan Tjarita Dajang Rindoe.

Kedua cerita ini terkenal di seluruh masyarakat Lampung, bahkan tokoh-tokoh yang ada didalamnya dipakai di berbagai sajak. Dia tetapi mengalami kesulitan menggunakannya untuk mempelajari bahasa Lampung, karena walaupun tertulis dengan huruf bahasa Lampung, teks-teks ini mengandung campuran dari bahasa Jawa dan Melayu dengan di sana-sini menggunakan sebuah kata dari bahasa Lampung atau sejenisnya.

Ia mengaku: ‘Kadang-kadang saya putus asa saat mencari sumber tertulis yang cocok untuk meneliti bahasa Lampung, karena di dalamnya ada banyak hal yang tidak dapat dimengerti, ataukah karena kecerobohan saat menyalin, ataukah karena di dalamnya terselip kata-kata yang berasal dari bahasa-bahasa lain.’ (20-03-1869).

Oleh sebab itu Van der Tuuk merasa terpaksa mendalami bahasa lisan. Setelah tiga bulan tinggal di Teluk Betung Van der Tuuk sudah mengirim sebuah daftar kata bahasa Lampung ke Batavia untuk diterbitkan.

Pada akhir 1868 dia meminta kepada Pemerintah untuk dapat tinggal lebih lama di daerah Lampung sehingga dia dapat mengetahui lebih banyak lagi mengenai berbagai dialek. Dia mendapat perpanjangan enam bulan dan dia memberi tahu kepada Persekutuan Alkitab bahwa situasi di Bali belum memungkinkannya untuk pergi ke sana. Selain gejolak yang belum mereda, di sana juga muncul epidemi kolera.

Pada akhir bulan November dengan berjalan kaki dia pergi ke daerah pedalaman dan selama beberapa saat tinggal di Lehan di pinggir Sungai Seputih (tidak jauh dari Tarabanggi), kurang lebih seratus kilometer di sebelah utara Teluk Betung.

Dia mendalami bahasa Aboeng, dialek terpenting dari bahasa Lampung, yang dipakai di daerah dataran tinggi. Bahasa Aboeng itu agak banyak berbeda dengan dialek yang dipakai di Teluk Betung. Untuk dapat mempelajari dialek ini, dia tinggal di tengah-tengah penduduk setempat untuk dapat sebanyak mungkin menyusun sebuah daftar kata yang berguna.

Dia menulis: ‘Saya duduk di sini, di sebuah ruang terbuka di seberang Sungai Seputih dan dikelilingi hutan belantara. Tempat tinggal saya adalah sebuah rumah tanpa pintu depan dan belakang. Di bagian tengah rumah yang memisahkan dua ruangan yang suram, yang saya tinggali bersama dua pembantu saya, menyala sebuah pipa yang terbuat dari daun pisang dan damar. Lampu itu menjaga agar harimau tidak menghampiri kami. Dengan penerangan lampu minyak tanah saya menulis surat ini, dan saya merokok seperti kapal uap untuk mengusir serangga yang pada musim hujan mengerubungi orang. […].

Saya berada sepenuhnya di antara orang Lampung dan belajar banyak sekali. Keberadaan saya di sini penting untuk Persekutuan Alkitab karena saya sudah belajar hidup terisolasi. Saya berencana, nanti di Bali juga akan mengasingkan diri dari masyarakat Indo-Eropa yang gemar bermain kartu, yang menyita begitu banyak waktu dan tidak memberikan kepuasan apa pun.

Waktu saya di sini mungkin akan sedikit diperpanjang; dan bila tidak, maka saya dengan senang hati akan meninggalkan tanah ini yang berhutan belantara, dengan buaya, rawa-rawa, dan harimau. Saya tidak ingin tinggal lama di sini sebab di tempat ini hampir-hampir tidak ada kesusastraan, sehingga saya harus menangkap semuanya dari mulut penduduk pribumi.‘ (17-12-1868).