Beranda Views Jejak Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (4)

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (4)

300
BERBAGI

Oleh: Kees Groeneboer*

Sudah sejak di perjalanan kembali dari Tarabanggi ke Teluk Betung pada bulan Juni Van der Tuuk mengeluhkan serangan demam yang terus-menerus, dan kemudian ditambah lagi dengan disentri yang parah. Pada akhir Agustus dia benar-benar tak berdaya, dibawa dengan kapal dari Teluk Betung ke Batavia. Dia langsung meneruskan perjalanan ke Bogor untuk memulihkan kekuatannya.

Dia menekuni studi bahasa Sunda dan mengerjakan beberapa publikasi mengenai bahasa Lampung, yang dikirimkannya pada bulan November 1869 ke Batavia. Karya itu mengenai dialek-dialek Lampung yang akan diterbitkan pada tahun 1872, serta bagian pertama dari buku bacaan bahasa Lampung yang selanjutnya tidak dipublikasikan karena tidak adanya huruf cetak yang tepat – cetakan percobaannya ditolak oleh Van der Tuuk.

Dia juga mempublikasikan sembilan belas inskripsi (piagem), karena hanya dari piagem-piagem ini dapat kita ketahui sesuatu mengenai sejarah daerah Lampung. Apalagi hanyalah teks-teks macam ini yang merupakan teks prosa tidak bersajak. Publikasi mengenai piagem-piagem ini baru pada tahun 1884 akan dicetak.

Desember 1869 Van der Tuuk kembali bekerja untuk Persekutuan Alkitab, berangkat ke Surabaya dan beberapa bulan kemudian ke Buleleng (Singaraja), bagian utara Bali yang berada di bawah kekuasaan Belanda. Van der Tuuk membangun rumah beberapa kilometer di sebelah selatan Singaraja di Kampung Baratan.

Dia menulis:

‘Saya membangun rumah di suatu tempat yang terpencil, dengan maksud agar saya dapat sesedikit mungkin berhubungan dengan orang Eropa yang lain. Bila tidak begitu saya tidak melihat kesempatan untuk mempelajari bahasa Bali secara mendasar. […]. Keadaan saya di sini tidaklah terlalu menyenangkan sebab sama sekali tidak ada percakapan intelektual, tetapi saya akan terhibur bila saja ada kemajuan dalam pekerjaan saya. Untuk bersenang-senang di Hindia-Belanda, orang tidak dapat pergi ke sana sebagai seorang ahli bahasa sebab sepenuhnya dia akan terisolasi. Kebanyakan orang Eropa di sini sama sekali tidak berminat terhadap studi apa pun. Pegawai dengan gaji cukup besar menganggap orang yang memiliki kegemaran meneliti bahasa-bahasa dan puas dengan gaji yang minim sebagai orang gila.‘ (31-07-1870).

Dia mulai tinggal di Bali dan dengan cepat dia terikat pada kehidupan barunya:

‘Hidup di sini cukup membosankan, meskipun demikian, saya tidak ingin meninggalkan tempat ini lagi. Saya sudah terikat dengan rumah saya, anjing saya (empat), monyet (tiga), ayam (tidak pernah dihitung jumlahnya) dan hal-hal remeh lainnya yang ternyata merupakan inti dari kehidupan. (Saya mempunyai sepuluh ekor bebek). Anda sekarang dapat membayangkan kehidupan saya di sini.

Percakapan yang ada di sini tidak terlalu menggairahkan. Kebanyakan saya mengobrol dengan orang Bali. […]. Mereka tidak lebih beradab dibandingkan orang Batak […] dan mereka agak lebih buruk tabiatnya. Sebuah contoh dari kurangnya moral di sini adalah popularitas gandrung (penari laki-laki yang berpakaian seperti perempuan) yang dapat diajak menari, bercanda, dan sebagainya. Apabila di suatu tempat ada gandrung, maka penari perempuan tidak akan mendapat uang! Memuakkan melihatnya, bagaimana mereka itu diciumi dan dijamah oleh publik.‘ (09-11-1871)

Seperti sebelumnya di daerah Batak, di Bali dia lagi-lagi terusik oleh penindasan terhadap penduduk yang dilakukan oleh raja-raja Bali, oleh ketidakberdayaan pemerintah Hindia-Belanda terhadap hal tersebut, dan oleh tingkah laku para penginjil. Dia juga mengeluhkan kembali mengenai ‘keserakahan‘ orang Cina dan Arab. […]. Meskipun demikian, dia lebih tertarik pada kehidupan di Bali dibandingkan Sumatra sebab dia menganggap orang Bali lebih berbudaya dan lebih halus perangainya, juga ada kesusastraan yang lebih berkembang.

Dia bekerja giat untuk menyusun kamus bahasa Bali dan menentukan bahwa bahasa Bali tidak akan dapat dimengerti tanpa bahasa Kawi (bahasa Jawa Kuno), karena seluruh kesusastraan Bali sebenarnya merupakan lanjutan dari kesusastraan Kawi. Dia bermaksud untuk memasukkan kata-kata Kawi dalam kamusnya, dan karena itu kamus itu tentu saja akan lebih luas. Sudah jelas baginya bahwa pekerjaan itu harus dilakukan sebelum menerjemahkan Alkitab.

Pada tahun 1871 dia menulis bahwa Persekutuan Alkitab tidak boleh berkhayal mengenai cepatnya penerbitan terjemahan Alkitab dalam bahasa Bali, dan bahwa secara keseluruhan orang Bali belum cukup matang untuk agama Kristen. Dia juga menanyakan apakah Persekutuan Alkitab bersedia menerbitkan kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda, tetapi ketika mereka ingin mengetahui seberapa luas kamus itu, dia menganggap hal itu sebagai suatu penolakan. Barangkali karena itu dia merasa terdorong untuk mulai berdinas bagi pemerintah Hindia-Belanda.
Dia juga menganggap kebijakan Persekutuan Alkitab untuk mempelajari suatu bahasa dan pada saat yang bersamaan menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut, adalah suatu kekeliruan.

Pada April 1873, pada usia empat puluh sembilan tahun, akhirnya dia diangkat oleh permerintah menjadi ‘pegawai untuk mempelajari bahasa-bahasa Nusantara‘. Dia merasa lega dapat mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari bahasa Bali, tanpa perlu menerjemahkan Alkitab, suatu kesibukan yang selalu tidak disukainya: ‘Apabila Anda menerjemahkan berdasarkan kehendak bahasa, maka seorang penginjil akan menyalahkan Anda karena Anda telah memperkosa sabda Tuhan. Apabila Anda
mengorbankan bahasa untuk Alkitab, maka para pakar bahasa akan meributkannya‘. (31-07-1870)

Sejak tahun 1873 sampai dia meninggal dunia di tahun 1894, dia hidup ‘seperti orang Bali‘ di sebuah rumah kecil terbuat dari bambu dan kayu. Mengenai cara hidupnya, tetapi juga mengenai tingkah lakunya yang eksentrik, beredar berbagai cerita. Misalnya dia mandi di antara orang Bali di pancuran dekat rumahnya. Dia berjalan-jalan hanya dengan mengenakan sarung, setengah telanjang, dan selalu membawa sebuah pentungan besar.

Rumahnya makin lama makin kotor dan lebih menyerupai sebuah gudang buku dan naskah. Sebaliknya dia memiliki makanan Eropa yang paling lezat di Bali dan mempunyai persediaan minuman anggur terbaik. Bagi orang Eropa di Bali rumahnya menjadi semacam objek wisata untuk dapat mengamati sosok yang aneh itu dari dekat. Hal itu sama sekali tidak disukai olehnya. Namun, rumah Van der Tuuk selalu terbuka untuk penduduk pribumi dan dia selalu dimintai pendapatnya mengenai berbagai hal oleh banyak orang Bali terkemuka. Bahkan, salah satu dari raja Bali mengatakan: ‘Hanya ada satu orang di seluruh Bali yang mengenal dan memahami bahasa Bali, dan orang itu adalah Goesti Dertik (Van der Tuuk)‘.

Pada tanggal 17 Agustus 1894 Van der Tuuk, yang berusia tujuh puluh tahun, meninggal di Rumah Sakit Militer di Surabaya – dia dengan segera dilarikan dari Buleleng ke sana – karena penyakit disentri. Kamus bahasa Kawi-Bali-Belandanya, mahkota dari seluruh karyanya, saat itu belum selesai dan baru diterbitkan setelah kematiannya dalam empat jilid yang tebal, dengan jumlah 3.600 halaman.***

* Dr. Kees Groeneboer, Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta