Beranda Views Jejak Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (3)

Radja Toek sebagai Ahli Bahasa Lapangan di Daerah Lampung (3)

676
BERBAGI

Oleh: Kees Groeneboer*

Dia mengalami kesulitan untuk mempelajari dialek Aboeng, karena semua yang dikatakan oleh penduduk setempat harus dia catat, tanpa dia dapat mengacu ke teks-teks tertulis. Dia hanya memiliki sejumlah puisi yang dikumpulkannya, yang dalam dialek Aboeng disebut bandoeng dan dalam bahasa Teluk Betung sagata. Bandoeng ini merupakan surat-surat cinta bersajak, lagu-lagu ratapan dan cerita-cerita, tetapi menurut Van der Tuuk semua ini sering tidak dapat dimengerti, karena banyak kata yang digunakan bukan kata sehari-hari. Selebihnya menurutnya tidak ditemukan sumber tertulis yang dapat digunakan:

‘Buku-buku tua yang terbuat dari kulit pohon, hanyalah berhubungan dengan kepercayaan pada takhayul, dan ditulis dalam bahasa campuran Jawa dan Melayu yang memuakkan. Bahkan orang Lampung sendiri tidak dapat mengerti isinya. Yang penting untuk mereka hanyalah iramanya dan mereka memang tidak dapat disalahkan: ada banyak negara yang beradab yang membayangkan dirinya akan ke surga bila mereka membaca cerita-cerita takhayul.’ […].

Mengenai penduduk Aboeng: mereka masih sangat primitif tetapi masih berbicara bahasa Lampung yang sempurna. Bahasa itu kadang-kadang naif dan seringkali orang menggunakan cara yang lucu untuk mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya mereka belum lama kenal. Misalnya orang menyebut potlot dawat tjelit, dengan kata lain tinta yang dikenakan ke lidah yang dilujurkan (untuk membuat potlot basah dan kemudian dapat dipakai untuk menulis). Lentera dinamakan damar koeroeng, sebuah lampu yang terkurung. Dialek Aboeng memiliki banyak kata asli, yang di dalam bahasa Lampoeng paminggir, dari daerah pesisir, diambil dari sebuah bahasa yang lain […].

Seberapa naif penduduk di sini, terbukti antara lain dari penjelasan tentang bendera Belanda. Menurut mereka merah sebagai warna yang paling atas, karena bangsa Ingris berwarna merah. Putih melambangkan orang Belanda, sedangkan hitam merupakan warna kulit orang pribumi sendiri. Jika mereka membalik bendera tersebut, mereka khawatir, bahwa hal tersebut akan diartikan bahwa mereka menentang pemerintah Hindia-Belanda, karena warna hitam akan berada di bagian atas.’ (03-03-1869)

Kekurangan akan sumber-sumber tertulis memaksa Van der Tuuk untuk juga mengumpulkan surat-surat dalam bahasa Lampung dari berbagai daerah yang pernah disinggahinya. Tetapi banyak dari surat-surat tersebut yang menurut dia tidak berguna untuk studi bahasa. Untuk Van der Tuuk berbagai kitab-kitab hukum Lampung yang masih dipakai secara umum, yang ditulis dalam tulisan Arab, cukup aneh. Berikut contoh-contoh yang dia berikan:

‘Jika seorang laki-laki bertemu seorang wanita yang sedang mandi atau sedang buang hajat di sungai (tanpa memberitahu seperti yang seharusnya laki-laki itu lakukan) maka dia akan dikenakan denda sebesar 5000 pitis. Itu disebut sikarabaja. […]. Jika seorang laki-laki mengambil anak dari gendongan seorang wanita yang menggunakan cadar atau mencium anak itu, maka dia akan dikenakan denda 6000 pitis. Itu namanya anjamarbaja.’ (03-03-1869).

Jejak perjalanan Van der Tuuk. Tanda anak panah adalah tempat yang disinggahi Van der Tuuk.

Pada bulan April 1869 dia berjalan lebih jauh ke arah barat dari Tarabanggi lewat Kotaboemi dan Tjoebalak menuju Boemi Agoeng dan terus sampai ke Moearadoea. Akhir bulan Mei dia berangkat dari sana ke arah timur menuju Menggala, dan pada bulan Juni 1869 dia mengarah ke selatan lewat Tarabanggi menuju Teluk Betung.

Kecuali beberapa bagian perjalanan dengan kapal, jarak yang panjang lainnya ditempuhnya dengan berjalan kaki. Dan selama perjalanan dia hanya tiga kali bertemu orang Belanda, pegawai pemerintahan di daerah Lampung yang menurutnya melalui bahasa Melayu mereka yang kacau telah memberi pengaruh buruk pada dialek Aboeng yang murni. Tetapi justru karena dia hampir hanya berhubungan dengan orang pribumi, dia dapat mengumpulkan banyak bahan untuk kamusnya.

Dalam perjalanan dia menyusun kamus bahasa Lampung. Namun, kamus yang terdiri dari enam ratus halaman itu tidak jadi dipublikasikan. Barangkali karena dia belum dapat cukup banyak waktu untuk membandingkan kumpulan kata Lampung itu dengan bahasa-bahasa Nusantara yang lain.

Barangkali juga karena dia kurang percaya diri mengenai kosa katanya, karena kurangnya sumber tertulis dan dia harus mendasari pada bahasa pergaulan sehari-hari. Dan barangkali juga karena pada saat itu belum ada cetakan huruf bahasa Lampung yang cocok. Pada saat perjalanannya dia sudah mengirimkan beberapa laporan ke Batavia mengenai penelitiannya terhadap bahasa Lampung, yang kemudian dipublikasikan.

Bulan Juni 1869 padanya dijajaki apakah untuk selamanya mau bekerja untuk pemerintah Hindia-Belanda. Namun, mengenai hal itu sebenarnya Van der Tuuk ragu-ragu. Memang pemerintah menawarkan gaji yang lebih tinggi, tetapi bekerja untuk Persekutuan Alkitab sudah pasti dia memiliki lebih banyak kebebasan. Oleh karena pada saat itu dia sudah merasa jenuh dengan distrik Lampung, dia menyatakan bahwa dia hanya mau bekerja untuk pemerintah apabila dia dikirim ke Bali, tempat dia mengharapkan kehidupan yang lebih menyenangkan.

* Dr. Kees Groeneboer adalah Kepala Erasmus Taalcentrum Jakarta