Beranda Seni Sastra Rahmad Saleh Menangi Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017

Rahmad Saleh Menangi Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017

287
BERBAGI
Ari Pahala Hutabarat

TERASLAMPUNG.COM — Puisi berjudul “Hikayat Buang Tondjam” karya Rahmad Saleh asal Bandarlampung menyisihkan 365 puisi yang masuk pada Lomba Cipta Puisi Krakatau Award tahun 2017 yang ditaja Dinas Pariwisata Provinsi Lampung dalam rangka Festival Krakatau 2017.

Hasil rapat dewan juri yang terdiri atas Ari Pahala Hutabarat, Isbedy Stiawan ZS, dan Syaiful Irba Tanpaka pada Senin (14/8) petang memiih “Hikayat Buang Tondjam” karena puisi tersebut—juga puisi-puisi pemenang lainnya—telah mampu mengolah tema dengan serius.

Menurut Ari Pahala Hutabarat,puisi-puisi yang menang juga mampu mengelola kompleksitas tema dan tak terjebak pada “lomba”.

“Lalu, secara teknis formal, puisi-puisi pemenang relatf paling beres ketimbang peserta lainnya,” kata Ari, Senin malam (14/8/2017).

Ari mengatakan masih banyak peserta lomba yang menulis puisi dengan idiom kelokalan hanya sebagai tempelan dan tak dalam.

“Juga klise,dan nyaris terjebak pada tema yang disodorkan panitia. Jadi ada pretensi untuk mencocok-cocokkan puisi dengan tema lomba,” katanya.

Hal sama dinyatakan Isbedy Stiawan ZS. Menurut dia, banyak puisi yang masuk lebih condong memainkan idiom-idiom ke-Lampung-an, namun bila dikejar terasa hanya tempelan.

“Akibatnya, beberapa di antaranya terkesan tidak hidup. Hanya lanskap, cuma gambaran lokalitas,” kata Isbedy.

Selain itu, lanjutnya, peserta terjebak pada tema dan kata “potret pembangunan” sehingga tak berani membiarkan “keliaran” imajinasi.

“Saya merasakan banyak puisi yang tak mau ‘berpayah-payah mendedah’ dari tema yang disodorkan. Jadi, puisi yang terbaca kalau tak mengesankan hanya tempelan demi tema, ya terasa kering,” ujar pemenang pertama Lomba Cipta Puisi Cimanuk ini.

Sementara itu, Syaiful Irba Tanpaka, juri yang juga Kepala Seksi Ekonomi Kreatif Berbasis Senibudaya menilai, dari segi tema memang hampirl seluruh puisi yang masuk sangat menggembirakan. Artinya, peserta telah faham dengan kriteria yang disodorkan panitia.

“Namun, cara mengolah dan mengelola tema memang tiap penyair akan berbeda. Begitu pula teknik meramu tema yang ada ke dalam puisi, itu tergantung dari kepiawaian seorang penyair,” ujar Syaiful yang juga sastrawan Lampung itu.

Dewan juri Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017 yang diikuti 366 puisi (penyair) seluruh Indenesia ini, menetapkan puisi “Pantai Mutun” karya Alexander Robert Nainggolan (Tangerang, Banten) sebagai juara dua, dan “Ihwal Secangkir Negeri” (Rahmat Sudirman, Kalianda, Lampung Selatan) menduduki urutan ketiga.

Selain tiga pemenang tersebut, dewan juri juga memilih 47 puisi/penyair sebagai nomine. Ke-50 puisi ini akan diterbitkan dalam buku antologi puisi Krakatau Award 2017 bertajuk Hikayat Secangkir Robusta.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Budiharto usai rapat dewan juri menyambut baik hasil keputusan ini.

Budiharto menilai, lomba ini layak diteruskan karena animo peserta yang begitu besar. Hanya sebulan diumumkan, pesertanya lumayan banyak.

“Kalau kini puisi, kenapa tdak tahun depan lomba cipta cerpen. Selain itu untuk meramaikan Festival Krakatau yang akan datang, perlu digagas pertemuan penyair dunia misalnya,” kata Budiharto.

TL/Rl