Raja dan Bayang-Bayang

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Siang yang terik diluar sana menggerakan jari ingin menghubungi sahabat lama yang seorang jurnalis senior. Beliau ini sekarang madeg pandito, menjauhi dunia idealis dan menekuni sesuatu yang realis dengan tidak menambahi “-me” diakhirannya. Beliau mau nyepi ditengah ramai. Nyepi dari hiruk pikuk dunia, ramai dalam mencari rezeki berkah dari Ilahi Rabi. Salah satu kepsyen yang beliau kirim adalah seperti judul dari tulisan ini — yang kemudian penulis ganti huruf “d”-nya menjadi huruf “b” demi  menjaga kesantunan dan kepatutan etika ketimuran.

Manakala itu dibabar dalam cerita versi pedalangan, maka sangat mungkin karena dalang punya otoritas untuk membuat “lakon carangan” atau terjemahan bebasnya – mengarang cerita. Biasanya dalang memulai pembukaan wayang atau bahasa pedalangan disebut “jejer” dengan satu kalimat:

Swuh rep data pitana! Anenggih nagari pundi ingkang kaeka adi dasa purwa. Eka sawiji, adi linuwih,  dasa sepuluh, purwa kawitan… Terjemahan bebasnya: …Di sebuah  kerajaan terkenal yang memiliki sepuluh nama kisah ini diawali. Eka berarti satu, adi berarti utama, dasa berarti sepuluh, purwa berarti awal mula.

Jejer atau janturan atau kisah pembuka dalam pewayangan itu biasanya akan menggambarkan keadaan negeri yang  sangat makmur karena memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Gambaran itu mirip dengan aforisme yang dinyanyikan Koes Plus —  bahkan tongkat dan batu jadi tanaman. Ironisnya, dalam konteks lain dan seiring dengan perkembangan zaman, aforisme indah Koes Plus itu tidak hanya subur makmur, tetapi juga telah  banyak penyamunnya. Penyamun ada di mana-mana. Bahkan sampai ke urusan kartu tanda penduduk (KTP), asuransi jiwa, hingga minyak goreng. Semua dilibas tanpa sisa. Rakyat merana, tetapi masih ada pejabat yang merasa bahagia karena masih bisa hidup mewah tanpa susah. Masih ada yang bisa bahagia hidup di atas kesengsaraan orang lain.

Pak dalang melanjutkan: Raja secara personal orangnya baik; beliau memahami betul kesulitan hidup rakyatnya; namun karena sinar matahari dikuasai oleh kelompok orang yang berwatak Dasamuka, maka bayang-bayang sang raja bisa diatur dari kejauhan. Ketika waktunya raja ingin gembira, maka matahari didekatkan, sehingga bayang-bayang menjadi besar, raja tampak gagah dan perkasa. Namun, saat kepentingan mereka terusik, matahari dijauhkan. Akibatnya, bayang-bayang raja pun tidak tampak. Di sana  para Dasamuka berpesta pora dengan kroninya untuk mengatur negeri menikmati monopoli.

Tampaknya raja dan bayang-bayangnya selalu dibuat tidak kompak agar raja tidak mengetahui bahwa bayang-bayangnya dikerjain. Maka matahari dibuat banyak, sehingga tidak jarang bayang-bayang berubah menjadi fatamorgana. Di permukaan seolah sejahtera, tetapi jauh di bawah sana banyak yang menderita. Dalam konteks kin hari ini, untuk mendapatkan minyak goreng masyarakat harus antre, asuransi kesehatan harus terkoneksi dengan urusan lain (termasuk untuk urusan jual-beli), korupsi menjadi-jadi. Kita yang melihat menjadi ngeri.

Almarhum Prof. Dr. Madrie, Guru Besar Penyuluhan Pembangunan Unila, pernah mengatakan:  karena kita tidak mau menelisik bentuk hubungan variabel atau mudah percaya terhadap satu fenomena, maka pada waktu ditanya bagaimana hubungan variabel itu, jawabannya cenderung “baik baik saja”. Jawaban seperti ini pada negeri yang dipentaskan Pak Dalang tampaknya mulai menggejala, bahkan ditingkahi dengan tokoh Sengkuni yang sering dimunculkan untuk sekadar menyenangkan semua pihak. Bahkan Sengkuni ini tidak dipanggil untuk muncul ke pasewakan agung (pertemuan besar/utama) tetap memaksa Pak Dalang untuk dikelurkan dari kotak  sekalipun lakon nya tidak harus keluar. Sengkuni dengan segala kelicikannya memaksa dalang untuk menampilkan diri dan harus kelihatan gagah, padahal eyang satu ini bertampilan tua peyot dan ompong.

Badan usaha milik negara pada cerita carangan dalang ini dideskripsikan dengan “janturan” banyak ruginya daripada untungnya. Menjadi ironi seolah luarnya berjaya, ternyata dalamnya keropos. Jika mendapatkan kritik, maka pembelaan dilakukan dengan cara apapun, agar tidak sampai ke telinga tertinggi di atas. Ambil contoh maskapai penerbangan yang berpelat merah semula seolah berjaya, begitu dilakukan pergantian, ternyata banyak masalah terkait keuangan. Sekarang sayapnya patah. Pernah minta tolong Raden Gatotkaca, tetapi beliau menjawab “Sory, saya sedang sibuk….”

Entah apa maksudnya kalimat itu. Ini baru satu sebagaai contoh, tentu jika diambil total populasi jumlahnya akan lebih banyak lagi.

Jika dikoreksi satu per satu, Pak Dalang mengingatkan: siap siap kalian pasti akan mendapatkan cap tidak negarawan, tidak merasa memiliki, tidak nasionalis, bisanya cuma omong, dan masih banyak lagi lontaran pembelaan miring. Akhirnya membuat orang saling pandang sambil tersenyum tetapi bentuk bibir menggambarkan isi perasaan dimaksud.

Pak Dalang melanjutkan uraiannya melalui suara bariton : Memang tidak dipungkiri sudah sangat banyak kemajuannya jika diukur dari capaian pembangunan fisik, seperti jalan tol, bendungan, embung, sirkuit bertaraf internasional, kantor perbatasan di bangun megah, dan masih banyak lagi. Tetapi seiring dengan itu pembangunan mental tampaknya masih agak sedikit terseok-seok perlu pembenahan yang cukup serius. Lembaga pertimbangan sudah dibuat, gaji sudah dibayarkan, tetapi entah pekerjaannya belum kunjung kelihatan. Untuk menimbulkan efek emosi Pak Dalang memukul kotak dengan “cempolo”-nya yang selalu dipegang tangan kiri sehigga berbudi “dog …dog…dog….”

Mendadak pertunjukan bubar karena didatangi satuan keamanan dan ketertiban yang menyatakan Pak Dalang dalam berpentas tidak berizin dan melanggar protokol kesehatan karena selama mendalang tidak pakai masker. Para penabuh gamelan lari tungang langgang untuk menyelamatkan diri. Semua menggunakan masker, kecuali tukang kenong. Para sinden plonga plongo, Pak Dalang ditelikung tangannya untuk dipasangi gelang besi yang terkunci. Kasihan wayangnya belum tancep kayon (cerita belum tamat) sehingga pakeliran masih terbuka.

Selidik punya selidik, ternyata wayangnya tak satu pun yang ada di pakeliran. Semua masih ada dalam kotak.

Hehehehe… namanya juga wayang. Monggo, silakan kalau ada pembaca yang mau melanjutkan….

Selamat ngopi pagi.