Raja Salman dan Kita

  • Bagikan

Tidak ada kunjungan kepala pemerintahan ke Indonesia yang mendapatkan sambutan hangat seperti sambutan terhadap Raja Arab Saudi Salman Bin Abdulaziz Al-Saud. Baru tiba di Jakarta pada 1 Maret 2017, haru biru dan eforia rencana kunjungan Raja Salman sudah riuh di media sosial. Spekulasi bermunculan. Dari soal besarnya dana yang akan ‘ditabur’ di Indonesia yang konon mencapai 300-an triliun rupiah hingga pertemuan dengan Habib Rizieq Shihab,

Ketika Raja Salman tiba di Jakarta dan dibawa dengan mobil mewah ke Istana Bogor, banyak warga menyambutnya dengan melambaikan tangan tangan di pinggir jalan. Bahkan, banyak warga Bogor yang tidak peduli hujan deras mengguyur, mereka tetap berdiri di pinggir jalan hanya sekadar untuk bisa menyaksikan langsung wajah Raja Salman.

Seperti mematahkan spekulasi sebelumnya, publik di Indonesia banyak yang tidak percaya ketika Gubernur DKI Jakarta yang jadi terdakwa dugaan penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, ikut menyambut Raja Salman. Fakta ini bisa terjadi karena dimungkinkan oleh UU No. 29 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota. Sesuai dengan ketentuan UU tesebut dan sejalan dengan kebiasaan dan kelajiman yang berlaku maka Gubernur DKI akan ikut mendampingi Presiden ketika menyambut tamu negara.

Foto Ahok bersalaman dengan Raja Salman pun menjadi viral. Riuh komentar di medsos pun masih seperti ‘tradisi sebelumnya’: penuh nuansa pemihakan. Pendukung Jokowi atau Ahok nadanya girang, sementara pembenci Jokowi dan atau Ahok menegasikan itu dengan kesimpulan pendek: Ahok bisa menjemput Raja Salman karena ‘ditenteng’ Presiden Jokowi.

Pada hari kedua kunjungan Salman suasana tidak kalah heboh. Pertama saat Raja Salman berkunjung ke Gedung DPR RI, menyampaikan pidato singkat, dan ‘dikerubuti’ para anggota Dewan untuk ‘berselfie ria’. Kedua, ketika Raja Salman bertemu dengan para ulama dan pemimin ormas Islam.

Perilaku para anggota Dewan yang berebut berselfie ria dengan Raja Salman menjadi perbincangan hangat di medsos. Banyak yang menilai mereka kekanak-kanakan. Namun, ada juga yang bisa memahami tingkah mereka. Alasannya jelas dan sederhana: bukankah kita pada dasarnya adalah bangsa inferior sejak dari ‘sononya’? Tidak ingatkah kita ketika Setya Novanto dan Fadli Zon sangat bangga ketika bisa berfoto dengan Donald Trump? Cobalah perhatikan ‘nyengir’ mereka yang idem dito dengan nyengir anak abege yang bangga bisa foto aksi dengan orang pujaannya.

Sejarah, Kepentingan Arab Saudi

Dalam sejarah, muslim Indonesia memang berguru dan pernah minta legitimasi dari Raja Arab. Itu sudah terjadi jauh sebelum Nusantara menjadi negara Republik Indonesia. Yakni, ketika pada abad 15 dan 16 para pangeran Mataram Islam, Kesultanan Banten, dan pangeran lain dari kerajaan Islam Nusantara datang berguru ke Arab Saudi.

Perintis Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga pernah melobim Kerajaan Arab Saudi agar para calon jamaah haji Indonesia mendapatkan perlindungan dan diakui Islam ‘ala Indonesia’-nya. Permintaan itu merupakan sebentuk permohonan permakluman bahwa keberagaan kaum Muslim di daerah-daerah di Nusantara jelas tidak sama persis dengan Muslim Arab.

Berguru dan minta legitimasi tentu tidak sama dengan berposisi inferior. Inferior adalah sebuah sikap. Dengan begitu, para pangeran Nusantara era abad 15-16 dan para ulama yang berguru ke Arab bukanlah kelompok anak bangsa inferior.

Presiden Soekarno kemudian melanjutkan ‘tradisi’ pangeran dan pemimpin agama Islam Nusantara dengan cara menjalin hubungan baik dengan Raja Arab Saudi. Meskipun lebih muda, Soekarno tidak memosisikan dirinya sebagai anak bangsa Indonesia sebagai pihak yang inferior. Ia bahkan cenderung cenderung ‘berani’ bahkan dengan negara yang kala itu sudah menguasai dunia (Amerika Serikat).

Sebagai negara kerajaan, Arab Saudi bukanlah negara yang sepenuhnya nyaman tenteram. Pertumbahan darah dan skandal di kerajaan beberapa kali terjadi. Demikian pula dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Pasang surut hubungan Arab Saudi dengan Amerika Serikat juga beberapa kali terjadi. Hal itu tergantung pada ‘bargain’ dan keberanian Raja dalam bersikap dan menghadapi AS. Untuk itulah, Arab Saudi berkepentingan untuk menjalin hubungan baik dengan negara-negara di luar kawasan Timur Tengah yang penduduk muslimnya besar. Itulah yang dilakukan oleh Raja Faisal Bin Abdulaziz Al-Saud 47 tahun silam dan kini dilakukan oleh Raja Salman Bin Abdulaziz Al-Saud.

Dulu Raja Faisal berkepentingan mendapatkan dukungan pascakekalahan Arab Saudi bertempur melawan Israel yang didukung AS. Kini, kedatangan Raja Salman ke Indonesia tentu saja dengan latar belakang yang lain. Bukan semata-mata sebagai kunjungan balasan terhadap kunjungan Presiden Jokowi, tetapi tersebab oleh alasan yang jauh lebih penting lagi. Antara lain ancaman besar terorisme yang mewujud dalam bentuk gerakan ISIS; rivalitas dengan Iran, Suriah, dan Turki; dan mulai meluruhnya gerojokan dolar karena jatuhnya harga minyak dunia.

Itulah sebabnya, ketika Raja Salman datang ke Indonesia kerjasama di bidang penanggulangan terorisme dan penanaman modal di beberapa sektor menjadi bahasan penting. Dan di sini pula alasannya kenapa ulama dan tokoh ormas yang dipilih bertemu dengan Raja Salman adalah ulama dan ketua ormas Islam yang inklusif. Alasan inilah yang, agaknya, membuat Habieb Rizieq Shibab tidak masuk dalam daftar di antara 36 ulama dan tokoh ormas Islam yang diundang bertemu dengan Raja Salman.

Terhadap fakta ini, semua pihak tentu tidak perlu ge-er ataupun ‘baper’. Sikapilah biasa saja dan wajar-wajar saja. Kalau perlu kita jadikan pelajaran bersama. Kita bisa belajar bahwa ternyata Kerajaan Arab Saudi pun ingin belajar dari ormas Islam Indonesia dalam menghadapi terorisme. Yang belum paham bahwa ISIS tidak sama dengan Islam juga biar makin paham.

Oyos Saroso H.N.

 

  • Bagikan