Rakyat Dipecat

  • Bagikan

Slamet Samsoerizal

DULU waktu zaman Cindil Abang harapan Mas Nakurat cuma satu: para tokoh reformasi, aktivis, LSM, pengamat, akademisi dan puluhan profesi yang mereformasi sebuah rezim akan mengubah wajah negeri ini dari Orde Baru menjadi orde lebih baru! Syukur-syukur bisa menjadi orde sangat baru! Namun, seperti ungkap seorang filsuf : “tak ada yang baru di kolong langit”. Semua sudah tersedia di muka bumi ini: tinggal dipahami, dinikmati, disikapi, dan direkayasa sesuai keperluan.

Sebagai bagian dari rakyat (tak usah dipredikati kecil –krn di mana-mana rakyat itu ya wong cilik), Mas Nakurat selintas mimpi bisa hidup dalam tataran paling bawah versi Maslow: cukup sandang pangan. Sebab, sandang bisa beli di emperan toko dan kaki lima, juga pangan.  Papan tak masuk dalam benaknya, karena harga rumah di jaman kiwari bisa miliaran.

Maka, hiruk pikuk sengketa pilpres dan pembahasan RUU Pilkada yang kata sahabat Mas Nakurat, hasilnya membunuh hak rakyat. Membunuh hak demokrasi. Boam-lah! Mungkin para wakil rakyat yang kata Mas Oyos Saroso HN dengan mengutip Pak Bambang Eka Wijaya telah “benarbenar’ mewakili rakyat, karena:

Rakyat mau kaya sudah diwakili mereka. Rakyat mau mobil mewah sudah diwakili mereka. Rakyat mau rumah mewah sudah diwakili mereka. Rakyat mau gaji gede sudah diwakili mereka. Rakyat mau tempat kerja nyaman sudah diwakili mereka. Rakyat mau jalan2 ke Luar negeri sudah diwakili mereka. Jadi semua sudah terwakili, jadi rakyat cukup nonton saja semua kenikmatan tersebut! 

Kita perlu mengapresiasi kerja mereka selama tiap periode menjabat. Untuk membahas satu RUU Pilkada saja cukup sengit dan usai hingga pukul 02:00an pagi. Bayangkan!

“Kok tumben serius gitu, Mas?” kata Bang Jali pengojek yang mangkal di sebelah warung.

“Hmm, gak tahu kenapa tiba-tiba kepikiran, kalau selama ini kan massa –yang selalu mengatasnamakan rakyat—mendemo pejabat untuk dipecat. Bagaimana kalau para pejabat itu berkonspirasi, berkolaborasi dan ramai-ramai balik arah dan menggugat melalui Mahkamah Konstitusi untuk memecat peran kita sebagai rakyat. Karena rakyat semakin hari semakin brutal. Sedikit sedikit demo, unjuk rasa. Mereka gampang menghujat, tanpa alasan. Jadi, siapa tahu kelak orang-orang yang dikiritik juga gerah. Namanya juga manusia. Sabar kan ada batasnya. Terus piye?” ungkap Mas Nakurat bersemangat.

“Ck ck hebat hebat, sahabatku yang satu ini. Kebanyakan nonton televisi jadi bahasa yang digunakan ya mulai ketularan dari orang-orang pinter itu! Tuh tadi bilang apa : berkonspirasi, berkolaborasi. Gak mudheng konco-koncomu di sini Mas!” protes Bang Jali disambut gelak orang-orang yang lagi ngopi di sekitarnya.

Obrolan makin seru. Topik A bisa membuyar ke topik C bahkan tiba-tiba bisa lari ke Z yang tak relevan. Seperti biasa, warung Mbak Yanti yang selalu riuh itu, diisi oleh mereka bagian dari warga bangsa ini yang cuma mampu grenengan, mungkin juga menggerutu danta.

***

“Berada dalam pusaran elit cerdik pandai, politisi, birokrat, bisa jadi kamu cuma tiarap atau malah sekarat. Kamu cuma penonton kelas tribun paling atas yang cuma mampu menonton bintang kesayangmu dalam tangkapan retina mata: noktah. Kamu bukan siapa-siapa!” ucap Surakyat kepada Mas Nakurat ketika silaturahmi via facebook ke istana Pracimantoro Pak Jack Jaka Santosa.

Ini patut direnunghayati. Surakyat sebagai pengamat, kali ini top markotop anget memotret dinamika terkini!  Mas Nakurat juga mencatat, betapa tokoh-tokoh yang ketika 1998 menyuarakan aspirasi atas nama rakyat mereformasi sebuah rezim. Mereka dengan lantang berdiri di atas mimbar kehormatan bernama kampus dan memimpin demo turun ke jalan dan memberangus rezim yang menurutnya otoriter.

 

Tapi … ah, sayang seribu sayang. Tokoh-tokoh yang sempat memukau itu akhirnya bertumbangan tertiup angin kekuasaan, ambisi pribadi, dan akhirnya menggondol produk Bank Indonesia bernama: uang! Usai jabatan didapatkan, kedudukan diperoleh mereka
tak malu-malu merampok dan maling uang negara demi gengsi diri. Kecewa? Ah, tidak … cuma kasihan!

 

“Kasihan, karena  bias mereka cuma segitu. Lain tidak. Tapi sahabat-sahabatku – wong cilik– yang sering dijual para ambisius, politisi dan sejenisnya ..  mesti akuacungi jempol!” tandas Mas Nakurat. Mengapa?

“Mereka tulus ikhlas menempati tempatnya disini: di warung kaki lima, emperan toko, pangkalan ojek tak bernama, dan tempat pembuangan sampah, dan di RT Nol RW Nol.

Mereka ogah menuntut tinggal di kantoran apalagi di gedung wakil rakyat yang konon dingin sejuknya hingga ke sumsum. Pendidikan mereka paling tinggi cuma lulusan S-3. S-1 = SD. S-2 = SMP, dan S-3 = SMA/SMK. Apa artinya, ketika banyak sarjana dan master menganggur?  Mereka disadarkan dengan nasib yang memberinya peran, Sang Maha Penguasa.” * * *

  • Bagikan
You cannot copy content of this page