Beranda News Liputan Khusus Ramadan di Madinah: Cahaya Harmoni dari Masjid Nabawi

Ramadan di Madinah: Cahaya Harmoni dari Masjid Nabawi

1324
BERBAGI
Menunggu berbuka puasa di Masjid Nabawi. Takjil khas Arab sudah terhidang sebelum saat buka puasa tiba (Foto: Gunawan Handodo)

Laporan : Gunawan Handoko

MADINAH, TERASLAMPUNG.COM — Wajah Kota Madinah di bulan Ramadan tidak berubah, tetap sama seperti bulan-bulan yang lain. Demikian pula dengan aktivitas masyarakatnya, nampak seperti biasa. Bahkan selembar spanduk atau baleho untuk menyambut hadirnya bulan Ramadhan pun tidak terlihat. Tidak ada tradisi masyarakat untuk ‘ngabuburit’ atau jalan-jalan di sore hari sambil menunggu saatnya Maghrib tiba. Bahkan penjual makanan atau jajanan takjil pun tidak ditemukan di kota ini.

Pendek kata, kalah jauh jika dibanding dengan suasana di berbagai kota di Tanah Air, khususnya di kota saya Bandarlampung yang nampak meriah dan hingar bingar setiap kali memasuki bulan Ramadan.

Spanduk, baliho dan media lainnya bertebaran dimana-mana, baik yang dibuat oleh Pemerintah, swasta maupun lembaga lain, termasuk partai politik. Demikian halnya dengan masyarakatnya, meski harus terjebak kemacetan lalulintas, warga kota khususnya tetap antusias untuk nyore, sekedar untuk cuci mata sambil mencari makanan ringan yang di jual para pedagang musiman.

Lantas ke mana penduduk Kota Madinah dan apa saja yang mereka lakukan di bulan suci ini? Di sela-sela ibadah, saya ingin berkisah sedikit tentang kegiatan yang dilakukan penduduk kota Madinah dan sekitarnya.

Semoga sekelumit kisah ini akan membangkitkan semangat dan rasa penasaran setiap umat muslim untuk menyegerakan niatnya bertamu ke Baitullah, seperti yang saya mimpikan berpuluh tahun lamanya. Selain untuk memenuhi panggilan-Nya, sekaligus dapat merasakan langsung bagaimana ujud persaudaraan Islam, keikhlasan untuk berbagi dan suasana harmoni Ramadan.

Tentu pengalaman menunaikan puasa Ramadhan di Kota Madinah Al Munawarrah dan melaksanakan rangkaian ibadah di masjid Nabawi merupakan sebuah pengalaman rohani yang tidak akan pernah terlupakan oleh setiap umat Islam. Tidak cukup dengan kata untuk mengungkapkan, kecuali satu hal bahwa di Kota Suci ini kita seperti merasakan ibadah puasa yang sesungguhnya.

Seluruh warga Kota Madinah serentak dan seirama menyemarakkan suasana Ramadan dalam sebuah harmoni. Waktu yang hanya 5 hari memang tidak cukup untuk melihat bagaimana warga Madinah yang ada di tiap-tiap permukiman dalam menyambut Ramadan. Namun, apa yang terlihat di Masjid Nabawi sudah cukup dijadikan referensi gambaran tentang kehidupan masyarakat wilayah Madinah secara keseluruhan, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.

Di bulan ini, warga Kota Madinah yang hidup berkecukupan ramai-ramai menyediakan hidangan berbuka dengan sasaran utama di masjid Nabawi. Layaknya orang yang sedang punya hajad, sambil menunaikan shalat Ashar mereka datang berombongan menuju pelataran masjid Nabawi dengan membawa makanan dan minuman. Begitu shalat selesai, dengan cekatan sebagian dari anggota rombongan menata makanan dan minuman di atas alas plastik yang dibentang memanjang.

Sementara beberapa pemuda yang tidak ikut menata makanan, bertugas sebagai layaknya panitia penerima tamu, menyambut dengan hangat setiap jama’ah yang melintas agar mau singgah untuk berbuka puasa di tempat yang telah mereka sediakan. Dengan tersenyum ramah, para pemuda ini akan memeluk setiap orang yang ingin buka bersama, tanpa membeda-bedakan warna kulit dan dari mana negara asal.

Menunggu saat berbuka puasa di Masjid Nabawi.

Sesekali terlihat ada yang memeluk sambil cium pipi atau kening, kemudian menggandeng jama’ah menuju ke tempat yang masih longgar. Meski waktu berbuka masih lama, para jama’ah sudah duduk dengan rapih diatas bentangan alas plastik yang penuh dengan makanan dan minuman.

Dari wajah para penderma terpancar rasa bahagia apabila banyak jama’ah yang berkenan menikmati hidangan yang sudah mereka sajikan. Sampai hal-hal kecil seperti membagikan kantong plastik pembungkus sendal atau sepatu, kertas tisue, semua dilakukan secara cuma-cuma. Mereka sungguh-sungguh ingin memuliakan orang yang sedang berpuasa. Bagaimana dengan menunya? Tidak terlihat ada makanan khas Indonesia atau negara lain, semua yang disajikan merupakan makanan khas Arab.

Dari petugas kebersihan masjid asal Indonesia, saya diberi tahu nama-nama makanan dan minuman yang disajikan. Ada minuman Sahi dan Gahwa, yakni teh dan kopi khas Arab, lalu Rutab (kurma muda yang sangat manis). Tamis, yakni roti dari bahan gandum, serta laban (semacam yogurt yang dicampur dengan bumbu) untuk cocolan roti Tamis. Dan yang tidak terlewatkan, air zamzam.

Meski terasa asing di lidah, tapi tetap saja terasa nikmat untuk di santap. Selain karena di dorong faktor haus dan lapar, juga suasana harmoni yang tercipta. Hampir semua jama’ah (kecuali yang sakit atau berhalangan) tidak ada yang berbuka puasa di hotel tempat menginap, meski disana telah disiapkan oleh pihak penyelenggara. Usai melaksanakan shalat fardhu’ Ashar para jama’ah tetap bertahan di dalam atau di pelataran masjid Nabawi agar mendapatkan tempat pada saat shalat Maghrib nanti yang dilanjutkan dengan shalat Isya’ dan shalat Tarawih.

Acara makan berat dengan menu khas Indonesia baru dilakukan di hotel, sepulang dari masjid atau sekitar pukul 22.30 waktu Arab Saudi. Cukup malam memang, karena shalat Tarawih di Madinah (juga di Makkah) dilaksanakan sebanyak 20 raka’at ditambah shalat Witir 3 raka’at. Ditambah lagi dengan bacaan surah pendek namun menjadi panjang, untuk menghabiskan target 1 juzz setiap malamnya. Sungguh membutuhkan kesehatan yang prima.

Hal yang menarik, masalah kebersihan. Sulit dibayangkan bagaimana suasana berbuka puasa yang melibatkan puluhan ribu, bahkan bisa mencapai ratusan ribu orang yang menyesaki seluruh ruangan di area masjid Nabawi. Betapa banyak sisa bekas makanan yang bertaburan di sepanjang shaf yang sebentar lagi akan digunakan untuk shalat Maghrib berjama’ah.

Namun ternyata, hanya dalam waktu kurang dari 10 menit saja seluruh sampah sudah bersih seperti sedia kala. Kita patut memberi apresiasi pihak pengelola masjid Nabawi dalam berkoordinasi dengan para penderma yang setiap hari datang silih berganti menyediakan makanan.

Siapa pun akan berdecak kagum, ternyata para penderma tidak hanya mampu memberikan sumbangan atau sedekah berbuka puasa, tapi juga sangat bertanggungjawab terhadap kebersihan dari noda sisa makanan dan minuman. Masing-masing penderma wajib mempersiapkan panitia atau petugas kebersihan yang terampil dan cekatan, baik di dalam maupun di luar masjid.

Menjadi momen yang tak akan bisa dilupakan oleh setiap muslim yang berkesempatan menjalani ibadah bulan Ramadhan di Madinah, dan juga Makkah tentu saja. Setiap hari ribuan umat muslim berbuka puasa bersama di pelataran masjid Nabawi. Di tempat ini, para muhsinin (dermawan) seolah sedang berlomba-lomba menggapai ridho-Nya.

Di saat seperti ini, sekat-sekat status sosial akan luntur, perbedaan warna kulit dan perbedaan apapun hilang. Yang ada hanyalah umat Muslim dan persatuan Islam. Apa yang dilakukan para muhsinin di Madinah telah menyadarkan diri saya dan mungkin juga Anda yang masih sering beranggapan bahwa harta yang kita miliki merupakan hasil jerih payah diri pribadi, tanpa adanya campur tangan Allah. Meski firman Allah sudah sangat jelas bahwa harta yang kita miliki adalah ’titipan Allah’, pada kenyataannya belum mampu mengalahkan sikap kikir dan bathil serta ego yang melekat pada sebagian umat Islam.

Suasana Kota Madinah pada pagi hari di bulan Ramadan.

Semoga Ramadhan tahun ini mampu mempertebal keyakinan kita untuk kembali pada tuntunan Allah, bahwa menjadi satu kewajiban bagi setiap muslim yang diberikan kelebihan harta untuk dapat berbagi kepada kaum du’afa.

Dengan memberanikan diri menafkahkan sebagian harta yang dititipkan Allah, pada akhirnya kita mampu merasakan tarikan magnet dan gravitasi nikmatnya bersedekah. Karena sesungguhnya ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat diukur sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum du’afa dengan membuang jauh-jauh sifat kikir atau bakhil.

Harta kita yang abadi adalah yang telah kita sedekahkan di jalan Allah dan Insha’ Allah menjadi simpanan di akhirat nanti. Selebihnya, merupakan milik Allah yang dititipkan kepada kita untuk dibelanjakan dengan baik sesuai dengan tuntunan-Nya. Dengan berinfaq dan bersedekah, semoga akan menyempurnakan ibadah puasa yang kita laksanakan dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi dihadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat muttaqin. Wallahu a’lam bis showab.

Loading...