Ramai, Malam Minggu di PKOR Wayhalim

  • Bagikan

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Geliat kehidupan PKOR Way Halim pada Sabtu malam. (teras/isb)

Bandarlampung—Tak ada pilihan mencari tempat santai bersama keluarga atau pacar? PKOR Wayhalim adalah alternatif untuk bersantai.

Namun, jangan kaget jika sudah memasuki kawasan pusat olahraga dan kesenian di Provinsi Lampung ini. Sebab pada malam minggu daerah ini sangat ramai. Kendaraan pribadi hilir mudik, ditambah lagi kereta-keretaan yang ditarik dengan motor, mobil hias yang digowes, sado (delman), dan sepeda roda empat atau lebih, serta becak kecil.

Itulah suasana di PKOR Wayhalim, Bandarlampung, Satu (3/5) malam, alias malam Minggu. Kuliner bertebaran dan ramai pembeli. Kursi-kursi milik pedagang sulit mendapatkan yang kosong. “Kita mesti antre,” kata seorang pengunjung yang tengah memesan pempek.

Seorang ibu dari Waykandis juga merasakan sama. Sudah 15 menit, ia menunggu pembeli lain meninggalkan kursi plastik pendek di depan pedagang ketoprak. “Kalau sudah duduk seperti lupa berdiri,” katanya menirukan salah satu iklan televise sambil tersenyum.

Sememangnya, para pengunjung memanfatkan kursi para pedagang untuk bersantai sambil menunggu anak-anak atau keluarganya bermain dengan fasilitas yang ada di sana.Kendati hanya membeli seporsi ketoprak, nasi goreng, pempek, sop buah, dan sebagainya, namun di kursi itu bisa beberapa jam.

Para pedagang juga membiarkan sikap para pembeli. Alasan pedagang, tidak santun jika mengusir pengunjung. “Ya, kesadaran mereka saja. Kami tidak mungkin meminta mereka angkat kaki atau mengusir, agar diganti dengan pengunjung lain. Tidak sopan,” aku Mirna, pedagang sop buah di sebelah penjual nasi goreng.

Suasana seperti ini hanya sebagian dari keriuhan PKOR Wayhalim di malam Minggu. Hiruk-pikuk lainnya adalah bunyi-bunyian dari kereta yang ditarik oleh sepeda motor, musik dari mobil hias gowes, serta lagu anak-anak dari delman.

Pengunjung amat padat ini, berdampak beberapa kali hampir terjadi kecelakaan. Misalnya, beradu dua kereta-keretaan hingganya nyaris menjepit pengunjung. Ketidakhatian pengemudi kereta-keretaan ini semestinya tidak perlu ada, sehingga kecelakaan pun tak terjadi.

“Kalau saya tidak berteriak, pasti saya terjepit di antara kedua kereta-keretaan,” ujar seorang ibu. Dia mau menurunkan putranya setelah berputar dengan kereta-keretaan yang ditarik motor itu, namun kereta lainnya masuk tanpa melihat ekornya yang panjang.

Terlepas hampir terjadi kecelakaan, Sabtu malam di PKOR Wayhalim memang lebih asyik karena pengunjung bisa tiga kali lipat dari malam-malam lainnya. Pengunjung yang mungkin haus hiburan, apalagi kawasan hijau di Kota Bandarlampung semakin sempit karena diserobot pembangunan fisik. Jadi, kata pengelola mobil remot kontrol, masyarakat Kota Bandarlampung dan sekitarnya menyerbu kawasan ini.

Kermaian ini tentu berdampak positif bagi pengelola permainan anak-anak, seperti Istana Balon, Madi Bola, mobil remot kontrol, termasuk mobil hias gowes, dan delman.

Di Kota Bandarlampung yang nyaris menjadi metropolis ini, sudah sulit melihat kuda dengan saisnya. Delman pernah menjadi trasportasi warga Bandarlampung sekira tahun 1960an atau 1970-an. Jalurnya dari Pasar Bambukuning hingga Gedung Air. Tetapi, kini di mana lagi delman menjadi alat trasnportasi masyarakat kota ini?

“Kalau tidak di PKOR Wayhalim, saya tak pernah lihat delman dan menaikinya,” ucap Ibu Pipit, warga Karanganyar. Meski Karanganyar dianggap perkampungan, namun tak ada ladi sado di daerah ini. “Kalau anak saya minta naik delman, ya harus ke sini,” katanya lagi.

Lalu dari mana delman-delman yang ada di PKOR Wayhalim? Salah satu sais sado mengaku, kuda yang dikendalikannya berasal dari Bandung. Awalnya, kuda beserta sado itu adalah miliknya. Dua tahun lalu ia membawa delmannya menggunakan kendaraan truk yang disewanya. Setiba di Bandarlampung ia mangkal kawasan PKOR Wayhalim ini.

Hanya enam bulan di sini, lalu kuda dan sado ini dijualnya. Warga Jalan Untungsuropati membeli kuda-delman ini seharga Rp15 juta. “Kini berbalik, saya yang bekerja dengan pemilik sado ini,” cerita Ujang, asal Bandung.

Kini, kata dia lagi, sado itu jalan atau tidak ia harus menyetor Rp40 ribu kepada majikannya. Setoran sebesar itu, dikatakan Ujang, bisa terpenuhi. “Bahkan bisa lebih dua kali lipat kalau pengunjung ramai dan banyak yang naik sadao,” katanya lagi. Paling apes, imbuhnya, setoran terbayar dan untung hanya cukup untuk makan dan merokok.

Warga yang hendak mengeliling PKOR Wayhalim dengan bersado, dikenakan biaya Rp5 ribu perorang. Sekali tarik minimal dua orang. Jika yang menyewa suami isteri, maka anaknya tidak lagi bayar. “Tapi kalau hanya seorang, misalnya suaminya atau isterinya, ya anaknya harus bayar penuh, Rp5 ribu,” tutur Marto, warga Yogyakarta yang membawa sadonya ke PKOR Wayhalim.

Para pengendali sado, umumnya menyewa rumah (kos) di kawasan Waykandis. Mereka langsung menjadi “pawing” bagi kudanya. Uang hasil kelebihan setelah menyetor kepada majikan, dibagi untuk dirinya dan memelihara kudanya agar selalu sehat.

Sejumlah pengelola permainan anak-anak di kawasan ini, mengaku “panen” di kala malam Minggu atau malam liburan kerja atau sekolah. “Sedangkan malam-malam lain, tidak rugi saja sudah bersyukur,” aku Dayat, pengelola permainan mobil hias gowes.

Nah, janga ragu jika Anda tak punya tempat pilihan untuk bersantai jika Sabtu menjelang malam.Pilih saja kawasan PKOR Wayhalim. Kocek pun dijamin tak akan terkuras habis.

Sayangnya kawasan terbuka ini, terutama malam Minggu dipastikan warga tumpah, tak ada seorang pun aparat keamanan. Padahal, kenyamanan karena dijaminnya keamanan.

  • Bagikan