Beranda Views Kopi Sore Rambut Sang Nabi

Rambut Sang Nabi

359
BERBAGI
Asarpin*
Seandainya The Satanic Verses terbit hari ini, barangkali gaung kontroversinya
tak akan sekencang ketika ia terbit di akhir 1980-an. Beberapa pembelanya
menyebut novel itu jujur, bahwa—sebagaimana H.B. Jassin membela Langit Makin Mendung—Nabi Muhammad yang
dicitrakan buruk di situ muncul bukan dalam sebuah deskripsi faktual, melainkan
dalam fantasi tokohnya yang mengidap skizofrenia. Tapi dunia terlanjur
mengutuknya, dan Rushdie memilih diam.  
Menyimak karya-karya Rushdie, terutama yang
saya baca lewat beberapa terjemahan, pengarang ini memang “sangat berbahaya”
karena menulis dengan sangat bagus. Prosa-prosanya tak cuma menggugah
imajinasi, tapi juga memperkaya batin kita hingga ke palung terdalam dan tersembunyi.
Saya membayangkan sejak dipatwa mati oleh
Ayatullah Khomeini ia akan berhenti mengutak-atik tema yang berhubungan dengan
Nabi, tapi ternyata tidak. Dalam salah satu buku umpulan cerita pendeknya, East, West, yang telah diterjemahkan ke
Indonesia, terdapat satu cerita berjudul Rambut
Sang Nabi.
Syahdan, keluarga Hasim memiliki dua putra,
Atta dan Huma. Mereka hidup di dekat laut tak jauh dari dermaga. Suatu kali,
ketika keduanya sedang berperahu di ujung bandar itu, melihat seberkas kilau
perak memantul dari balik botol kecil yang mengambang di permukaan. Karena
tertarik salah seorang mengambilnya. Keduanya pulang memberikan kepada ayahnya,
dan ternyata itu memang kepunyaan ayahnya yang dicuri.
Hasim adalah seorang rentenir, juga seorang
kolektor barang antik, yang memiliki beragam peti kaca penuh tombak dari
kupu-kupu, lusinan logam meriam legendaris Zamzama, pedang-pedangan hingga
lembing naga. Botol berisi rambut itu sangat langka karena memiliki sayap
seperti kupu-kupu dengan sisi-sisi kacanya sebentuk intan perak menggantili
seuntai rambut manusia. Rambut dalam botol itu konon rambut Sang Nabi yang
dicuri pada pagi dini hari dari masjid Hazratbal.  Tapi sejak memiliki rambut itu perangai Hasim
berubah, ia menjadi manusia buas dan tak jarang menyiksa orang yang tak mampu
membayar hutang kepadanya tepat waktu.
Atta, sang putra, berpikiran bahwa penyebab
perubahan pada ayahnya lantaran botol berisi Rambut Sang Nabi itu. Maka ia pun
mencurinya untuk dikembalikan ke masjid Hazratbal. Namun di tengah pelayaran
rambut itu hilang dari kantongnya, dan tanpa sepengetahuan Atta rambut itu
kembali ditemukan ayahnya. Dimulailah aksi perburuan rambut itu dengan melibatkan
persekongkolan putranya dengan syekh bernama Sin yang berhasil membawa pulang
rambut Sang Nabi walau kemudian sebutir peluru menembus jantungnya.
Cerpen Rambut
Sang Nabi
membayankan kisah kekerasan, persekutuan, pembunuhan,  dengan latar keluarga religius di India
pascakolonial yang meminta banyak korban.    


*Esais
Loading...