Beranda Views Kopi Pagi Rapopo yang Baik….

Rapopo yang Baik….

336
BERBAGI

Martin Aleida*

Rapopo yang baik, kau memang terlalu baik, seadanya, seperti bukan seorang presiden. Aku baru saja melihatmu di Sidrap, Sulawesi Selatan, persis seperti kuli bangunan mengaduk semen, pasir, batu untuk peletakan batu pertama jaringan irigasi. 

Dan kau lebih kelihatan sebagai kepala geng pencari lobang lele ketika kau melintasi ladang dan pinggir sungai. Kutandai bahwa kau nyata-nyata seorang presiden dari begitu banyaknya manusia berdesakan di hamparan jerami mencium tanganmu yang berurat, coklat seperti perunggu. Ah, Rapopo, aku ingin seperti mereka, tapi aku cemburu padamu. 

Rapopo, terus terang, hati mendidih ketika beberapa kali aku melihatmu, kawan dekatmu, menginjak-injak rumput halaman istana. Jangan ulangi itu. Ora elok, kata orang Solo. Rumput adalah mahluk hidup, hormati mereka. Dengan begitu kau memberi teladan kepada masyarakat untuk menjaga kehijauan. Dengan begitu kau ajari mereka yang di Sumatera, Kalimantan, untuk tidak membakar hutan, asapnya mempermalukan kita di depan hidung tetangga. 

Ini republik, bukan RT, yang kalau gotong royong untuk kebersihan, maka rumput, rumput, yang jadi korban! Sukarno tak pernah mengajak menteri, para pembantu, tamunya melintas di atas halaman hijau yang menghubungkan Istana Merdeka dan Istana Negara. Bacalah “Sukarno My Friend” karangan Cindy Adams, penulis otobiografi presiden kita yang dahsyat tapi romantis itu. Kalau aku memang betul-betul belum pikun, di situ dilukiskan Sukarno memegang tangan Cindy yang memukaunya sambil menuruni tangga Istana. 

Dan, ya Tuhan, Sukarno tumbang oleh deburan romantisme dan mencium perempuan penulis, pesolek, itu di tangga, sambil menuruni tangga. Dan tidak di rumput, yang kalau teater itu rebah di daun-daun hijau, mungkin lebih membahana. Sukarno tak pernah mengadakan pertemuan dengan mengorbankan walau selembar rumput. Tanyakan Sri Katno (istri ketua Pemuda Rakyat, yang jadi wartawan Ekonomi Nasional; sekarang jadi penghuni rumah jompo di Kramat V), pada Zaidin Wahab, wartawan Warta Bhakti [setelah G30S bergabung ke Pos Kota], kolegaku meliput Sukarno. Jangan usik estetika yang sudah membatu. 

Begini. Aku bukan arsitek. Awal 80an aku membantu koresponden NHK. Di Istana Negara kusaksikan kejahatan dalam bentuk lain. Pilar-pilar istana dibangun sedemikian rupa sehingga kita tidak merasakan keberadaannya. Eee… rezim yang berkuasa malah membuat dia nyata dengan membalutkan ukiran Jepara. Wahai, mungkin kau mencibir, bawel amat si pincang ini. 

Bukan begitu! Karena kau sederhana dan baik, maka aku menumpahkan kenangan padamu. Rapopo toh…? Aku ingin serius sedikit. Kau baru saja membagi-bagikan tiga “kartu sakti,” memenuhi janji yang mengantarkanmu ke singgasana, yang mungkin tak pernah kau angan-angankan. 

Aku khawatir, kartu itu akan menjadi bumerang. Kau jujur, ikhlas, para pembantumu juga. Tapi, nun di bawah sana, mereka menganggap kau membawa bencana. Mental mereka, mental bebal. Dengarkan! Tiap bulan untuk BPJS aku dan istriku membayar Rp 119.000. Untuk mendapat kartu itu aku antri pukul 3.30, sebelum beduk subuh. Istriku kena usus buntu kronis. Pukul 5 pagi dia sudah antri di belakang ratusan penderita lain di RS Fatmawati.

Di loket, manusia bejibun, laki, perempuan, berbaur saling mendahului, walau nomor antrian ada di tangan mereka. Sambil memegangi perutnya yang terasa seperti mau pecah itu, naik lift dia turun-naik ke lantai IV. Bukan itu benar yang menyiksanya. Dokter yang menanganinya tak sekejap pun mau melihatnya. Cuma perawat yang bicara dengannya. Istriku harus menunggu dua bulan untuk dapat giliran operasi. Untuk memerangi nyeri yang acap menyerang dia dibekali obat anti-nyeri. Dua bulan, tuan. Dokter itu mungkin stres karena begitu banyaknya pasien. 

Aku sendiri dioperasi tulang pahaku di rumahsakit itu. Kukira karena tekanan, dokter yang mengoperasiku kurang berhasil. Lempengan yang ditanamkan (pen) kepanjangan. Ahli bedah tulang itu menawarkan operasi ulang. Kupegang tangannya. Tak usah dokter, kata saya, dapat nyawaku kembali aku sudah bersyukur kepada Allah. Kakiku yang dioperasi lebih pendek sesenti. Dan aku pincang! Semoga istriku dan aku hanya kesalahan kecil yang takkan dialami orang lain sebagai korban dari rencana besarmu yang agung. 

Aku sadar mengapa kau canangkan revolusi mental. Dan itu ditujukan kepada jajaran manusia yang menerima gaji, yang sebelum kau datang cuma ongkang-ongkang kaki. Maafkan aku telah berterus terang. Jangan lupa, tolong sampaikan salam takzim dan hormatku kepada pembantumu yang berani dan hebat itu: Jeng Susi… Salam, tabik!

* Sastrawan

Loading...