Redaktur dan Tukang Cukur

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada suatu diskusi dengan mahasiswa doktoral disuatu kesempatan; ada mahasiswa yang mulai jengah karena artikelnya sudah empat kali bolak balik diminta diperbaiki oleh tim redaksi majalah ilmiah papan atas untuk dapat terbit. Mendekati putus asa yang bersangkutan meminta waktu untuk konsultasi. Begitu ditelisik memang ditemukan ada sumber yang diragukan, sekalipun mahasiswa tadi jujur menyebut sumber, akan tetapi tata penulisan tidak mengikuti kaidah jurnal yang dituju, maka naskahnya dijadikan bola pingpong. Setelah dituntut cara menulis sumber yang diminta oleh redaktur jurnal, dan dipahamkan akan betapa beragamnya cara penulisan tadi; maka loloslah naskahnya.

Mahasiswa tadi baru menyadari bahwa kuasa redaktur dalam penerbitan apapun adalah mutlak. Kuasa mutlak ini merupakan upaya menjaga marwah dari suatu penerbitan yang menjadi areal kuasanya. Redaktur tidak peduli siapa anda, bergelar atau tidak, ulama atau santri, awam apa bangsawan, pangkat apa rakyat. Semua tidak dapat memengaruhi “guntingnya” untuk dijalankan atau tidak dijalankan. Kemerdekaan tak terbatas, itulah gelar yang sering dilabelkan kepada jabatan ini.

Pada kesempatan lain, ada teman masuk ke ruangan sambil sedikit ketus nyeletuk mohon penilaian tampilan guntingan rambutnya. Memang teman tadi tampil agak sedikit aneh dilihat dari model potongan rambutnya. Demi marwah persahabatan, terpaksa dicarikan diksi yang tepat untuk tidak menyakiti hatinya guna mengatakan, potongan rambutnya menggelikan. Usut punya usut ternyata teman tadi mencoba pindah tempat potong rambut, dan beliau agak sedikit “wangkal” (bahasa Jawa : terjemahannya kurang bisa diatur). Beliau mengatakan kalau tukang potong rambutnya yang baru ini terlalu banyak mengatur, dan beliau tidak suka dengan cara itu. Teman tadi lupa kuasa tukoag potong rambut adalah segalanya; jadi kalau ingin “selamat” demi penampilan ya harus diikuti.

Kedua profesi di atas ternyata memiliki prinsip yang sama yaitu “anda mau silahkan, tidak mau, tinggalkan”. Apakah profesi lain tidak ada aturan? Jawabannya: hanya kedua profesi ini sangat ketat dalam menegakkan aturan; sebab semakin tinggi tingkat keketatan yang mereka tegakkan, maka kualitas terhadap hasil akan sangat memuaskan. Itu berarti “nilai jual” produk dari tempat di mana mereka menegakkan aturan itu akan mendapatkan apresiasi yang tinggi.

Jika kita mau jujur sebenarnya setiap hari kita didampingi “redaktur Tuhan” yang mencatat amal manusia di dunia; yaitu malaikat Raqib dan Atid selalu mendampingi manusia. Mengutip buku Menguak Tabir Kematian oleh; Argawi Kandito, dalam menjalankan tugasnya, kedua malaikat ini menggunakan qarinnya yang ditempatkan ke setiap manusia.

Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal kebaikan manusia. Sedangkan malaikat Atid bertugas mencatat semua amal perbuatan jahat manusia. keduanya mencatat secara rinci dan tidak akan tertukar. Kedua malaikat ini adalah redaktur kehidupan yang diciptakan Tuhan dengan diberi amanah super. Keduanya tidak bisa diajak kompromi untuk saling menukarkan informasi atau membocorkan hasil; karena aturan sudah tegas, jelas, maka tidak usah dibocorkanpun harusnya sudah mengerti dan dimengerti oleh manusia. Redaksional yang mereka narasikan berdua setiap membuat laporan ketuhanan; sangat objektif dan superteliti.

Kedua nama malaikat itu akhir akhir ini dijadikan nama aplikasi; Isi Aplikasi Raqib Atid meliputi jenis dosa dan pahala, grafik dosa dan pahala, serta tabel dosa dan pahala. Anda juga bisa menambahkan jenis dosa lainnya. Aplikasi ini dibuat seseorang bernama Mahmud Fauzi telah di-download lebih dari 500 kali dengan 4,9 MB.

Dikutip dari laman Ayo Bogor, selayaknya tugas malaikat Raqib dan Atid, aplikasi ini disebut dapat membantu anda menjadi pribadi yang lebih baik. Pantauan Suara.com, aplikasi yang terdapat dalam Google Play Store ini baru dibuat pada 28 April lalu.

Terlepas dengan pro dan kontra akan adanya aplikasi tadi; menunjukkan bahwa semakin manusia menyadari akan kelemahannya; maka akan merasa semakin senang jika ada yang memperingatkannya pada waktu berbuat kesalahan atau kealpaan. Sebaliknya makin merasa jumawa manusia itu, maka semakin besar peluang berjalan di lorong yang gelap, karena menafikan semua peringatan atas dirinya.

Baru di dunia saja manusia merdeka sekalipun; sudah tidak berdaya menghadapi Redaktur dan Tukang Cukur, jika ingin menjadi baik; apalagi saat nanti di alam “sana” kita dibukakan rekam jejak kita oleh Raqib dan Atid; maka hanya ucap “menyesal” yang bisa kita desahkan. Untuk balik kanan guna perbaikan, sudah tidak ada jalan kembali.

Mari kita mengambil tamsil dari hal di atas; yang namanya manusia adalah tempatnya salah dan alpha; oleh karena itu bersyukurlah jika masih ada pihak lain yang peduli untuk mengawal diri menjadi pribadi yang mandiri. Kalau mau sempurna harus mau menerima koreksi; tanpa koreksi hidup akan menjadi sepi, karena tidak ada upaya memperbaiki diri.

Selamat ngopi sore!

  • Bagikan