Beranda Views Opini Refleksi Tujuh Tahun Pertemuan Penyair Nusantara

Refleksi Tujuh Tahun Pertemuan Penyair Nusantara

155
BERBAGI

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda*

Ahmadun Y.H. (dok pribadi)

Melampaui tujuh tahun, dengan enam kali pertemuan, Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) memasuki suatu tahap yang mengisyaratkan pada kita untuk melakukan refleksi guna melihat kembali apakah perjalanan PPN telah berhasil mencapai tujuan yang telah disepakati sejak awal dan memberikan manfaat yang maksimal bagi perpuisian Nusantara.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu sejenak melihat sejarah kelahiran PPN dan tujuan yang diamanatkan kepadanya. PPN lahir dari Pesta Penyair Indonesia I, The 1st International Poets Gathering, yang diadakan di Medan oleh Laboratorium Sastra Medan, yang diketuai oleh Afrion, pada tahun 2007.

Beberapa penyair dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Singapura, yang hadir saat itu, merasa perlu membuat forum untuk para penyair Nusantara yang diadakan secara bergilir di negara-negara peserta – tidak hanya di Indonesia. Setelah melampaui diskusi yang cukup alot, maka disepakatilah lahirnya forum tahun dengan nama Pesta Penyair Nusantara (PPN), The .st International Poets Gathering.

Event tahunan milik penyair dari negara-negara Melayu serumpun ini pun bergulir. PPN II, The 2nd International Poets Gathering, diadakan di Kediri, tahun 2008. Kediri menjadi tuan rumah, karena negara lain belum siap menjadi tuan rumah. Seperti kesepakatan dalam gathering, jika negara lain belum siap menjadi tuan rumah, maka PPN harus diadakan di salah satu provinsi di Indonesia.

Sesuai kesepakatan dalam gathering di PPN II Kediri, maka PPN III diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2009, dengan ketua pelaksana S.M. Zakir. PPN III berjalan mulus dan lancar dengan peningkatan produk berupa dua buku, yakni buku antologi puisi karya para peserta dan buku kumpulan puisi penyair muda Indonesia-Malaysia.

Beberapa kesepakan dan rekomendasi strategis, yang dihasilkan PPN III, antara lain,  Pertama, memutuskan Brunei Darussalam menjadi tuan rumah PPN IV. Dua, memutuskan Kepanjangan PPN diganti dari Pesta Penyair Nusantara menjadi  Pertemuan Penyair Nusantara. Tiga, memutuskan bahwa ragam (bentuk) kegiatan PPN.

Setidaknya meliputi, (1) Penerbitan buku kumpulan puisi para peserta, (2) seminar internasional perpuisian Nusantara, (3) penerbitan buku kumpulan makalah pemateri, (4) panggung ekspresi dan apresiasi (baca puisi), dan (5) gathering untuk menyepakati tuan rumah PPN berikutnya serta ragam kegiatannya. 4. Dan, antara lain, merekomendasikan agar, (1) mengembangkan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa puisi perpusian Nusantara, (2) mendorong upaya penggalian akar perpuisian Nusantara sebagai sumber rujukan bagi proses penciptaan puisi-puisi para penyair Nusantara, (3) meningkatkan jaringan kerja sama antar-penyair dan antar lembaga serta media sastra di Nusantara dalam penerbitan buku dan publikasi karya.

Pada tahun 2010, PPN IV berlangsung di Bandar Seribegawan, Brunei Darussalam, dengan ketua pelaksana Zefri Ariff. Pelaksanaan PPN IV cukup sukses. Sayangnya, buku kumpulan karya peserta terlambat dicetak, sehingga para peserta pulang dengan tanpa membawa buku antologi puisi karya mereka.

Pertemuan pra-PPN di Medan pada 2007. (Foto: dok Ahmadun YH)

Hasil PPN IV ini, antara lain: Satu, memutuskan Palembang, Sumatera Selatan, sebagai tuan rumah PPN V 2011, dan Singapura sebagai tuan rumah PPN VI 2012, dan Thailand sebagai tuan ruah setelah Singapura. Dua, merekomendasikan perlunya peningkatan kembali kualitas pelaksanaan PPN, dengan ragam kegiatan minimal meliputi lima bentuk kegiatan seperti disepakati dalam PPN III Kuala Lumpur.

Tiga, menegaskan kembali komitmen: (1) untuk ikut mengembangkan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa sastra Nusantara, (2) terus ikut berupaya untuk mendorong penggalian dan reaktualisasi akar sastra Nusantara sebagai sumber rujukan bagi tradisi penciptaan puisi Nusantara, serta (3) meningkatkan jaringan kerja sama antar-penyair dan antar lembaga serta media sastra di Nusantara dalam penerbitan buku dan publikasi karya.

Balik ke Indonesia Pada tahun 2011, sesuai keputusan PPN Brunei, PPN V diadakan di Palembang, Sumatera Selatan, dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Provinsi Sumatera Selatan. PPN V ini berjalan sukses dengan berbagai peningkatan kualitas penyelenggaraan, ragam acara, sistem kuratorial, dan produk, serta jumlah peserta. Buku antologi puisi karya peserta, Akulah Musi, dicetak tepat waktu dan menjadi oleh-oleh berharga semua peserta. Ragam acara juga ditambah dengan kunjungan penyair ke sejumlah sekolah di Palembang untuk berdialog dengan para guru dan siswa.

Hasil penting PPN V ini, antara lain, 1. Memutuskan Jambi sebagai tuan rumah PPN VI 2012, dan Singapura sebagai tuan rumah PPN VII 2013, atas permintaan delegasi Jambi. Singapura, yang dalam PPN IV Brunei disepakati menjadi tuan rumah PPN V, mempersilakan Jambi menjadi tuan rumah lebih dulu. Selepas Singapura, delegasi Thailand akan menjajagi kemungkinan untuk melaksanakan PPN di negeri gajah itu. 2. Merekomendasikan perlunya menjaga kualitas pelaksanaan PPN, dengan ragam kegiatan minimal meliputi lima bentuk kegiatan seperti disepakati dalam PPN sebelumnya. 3. Mengingatkan dan menegaskan kembali komitmen: (1) untuk ikut mengembangkan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa sastra Nusantara, (2) terus ikut berupaya untuk mendorong penggalian dan reaktualisasi akar sastra Nusantara sebagai sumber rujukan bagi tradisi penciptaan puisi Nusantara, serta (3) meningkatkan jaringan kerja sama antar-penyair dan antar lembaga serta media sastra di Nusantara dalam penerbitan buku dan publikasi karya.

Menuju Singapura Pada Desember 2012, sesuai keputusan PPN V Palembang, PPN VI dilaksanakan di Jambi. PPN VI berjalan sukses dan Panitia Pelaksana berhasil menjaga kualitas penyelenggaraan. Pada beberapa sisi juga terlihat adanya beberapa peningkatan yang cukup signifikan, yakni (1)dibentuknya kurator makalah,salain kurator puisi (2) sistem kurasi tidak hanya dilakukan pada puisi peserta tapi juga makalah nara sumber, (2) selain pemakalah utama yang diundang, Panitia juga membuka peluang bagi “pemakalah pendamping” yang dipilih oleh Tim Kurator dari abstrak yang dikirim oleh para “pelamar”, (3) selain menerbitkan buku antologi puisi karya para peserta, Panitia juga membukukan makalah para nara sumber, (4) memberi tempat bagi wacana perpuisian lokal untuk dibentangkan pada sesi serminar internasional, yakni Jambi, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Keputusan terpenting PPN VI adalah menetapkan Singapura sebagai “tuan rumah” PPN VII 2013. Sedangkan rekomendasi pentingnya adalah sbb. 1. Melanjutkan pengembangan bahasa Melayu-Indonesia sebagai media ekspresi dan komunikasi penyair Nusantara; 2. Memanfaatkan hasil penggalian akar sastra Nusantara yang sudah diperoleh dari PPN-PPN sebelumnya untuk kepentingan pengembangan kreativitas penyair dalam menghadapi tantangan global; 3.

Memperluas ruang keterlibatan penyair untuk mengaktualisasikan diri, merumuskan, dan mendialogkan konsep estetik yang menjadi landasan kepenyairan. 4. Meningkatkan jaringan kerja sama antarpenyair dan antarlembaga sastra di Nusantara dalam penerbitan buku dan publikasi karya; 5. Mempertegas fungsi PPN sebagai ruang pertukaran karya dan gagasan yang berkaitan dengan problem lokalitas dan globalitas; 6. Melakukan kajian lebih mendalam mengenai Puisi-puisi yang dibukukan PPN VI Jambi dan PPN sebelumnya (I-VI) untuk mengungkapkan hasil, kualitas, dan capaian estetik kepenyairan Nusantara.

Waktu satu tahun agaknya terlalu singkat bagi panitia PPN VII Singapura. Demi kematangan persiapan, PPN VII yang semula sudah dijadwalkan akan diadakan dalam bulan Desember 2013 ditunda pelaksanaannya menjadi 29-31 Agustus 2014. Sejauh ini, persiapan Singapura sudah begitu matang dengan berbagai agenda acara. Semoga PPN VII dapat terlaksana jauh lebih baik dari PPN sebelumnya. Dari Singapura kita berharap PPN VIII akan dapat diselenggarakan di Thailand pada tahun 2015.

Evaluasi dan Proyeksi Sejak PPN II Kediri hingga PPN VI Jambi, bentuk dan ragam kegiatan PPN nyaris tidak berubah, meliputi lima bentuk kegiatan tersebut di atas, yakni: (1) Penerbitan buku kumpulan puisi para peserta, (2) seminar internasional perpuisian Nusantara, (3) penerbitan buku kumpulan makalah pemateri, (4) panggung ekspresi dan apresiasi (baca puisi), dan (5) gathering untuk menyepakati tuan rumah PPN berikutnya serta ragam kegiatannya.

Dari Jambi ada beberapa masukan, bahwa dengan pola kegiatan seperti itu, para penyair hanya sekadar sebagai asesoris sedangkan yang terkesan paling menonjol adalah seminar internasional yang menampilkan para akademisi. Karena itu, perlu ada semacam pembaharuan ragam dan bentuk acara/kegiatan PPN yang memberi ruang lebih luas untuk para penyair, karya dan proses kreatifnya.

Beberapa rekomendasi PPN sebelumnya, seperti peningkatan jaringan dan kerja sama antar penyair dan lebagasastra juga kurang maksimal. Usulan untuk membuat laman khusus PPN juga belum terwujud. Begitu juga gagasan untuk memberikan penghargaan khusus bagi penyair atau buku terpilih dari kalangan peserta juga belum sempat dilaksanakan. Itu semua kiranya menjadi masukan berharga untuk kita pertimbangkan kembali dalam pelaksanaan PPN berikutnya, guna peningkatan kualitas dan kebermanfaatan PPN bagi pertumbuhan perpuisian Nusantara.

*Penyair, praktisi sastra, kurator PPN. Tulisan ini bersumber dari catatan Ahmadun di Facebook.

Loading...